Selasa, 06 Juli 2021

Subuh kesiangan


Rasul saw pernah mengalami kesiangan shalat shubuh pada saat perjalanan pulang dari sebuah peperangan. Meski tidak ada kata sepakat di kalangan para ulama untuk memastikan peperangan apa persisnya, yang jelas berdasarkan hadits-hadits shahih kejadiannya benar-benar pernah terjadi. Kejadiannya diceritakan oleh Abu Qatadah al-Harits ibn Rib’i dari kaum Anshar dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim kitab al-masajid bab qadla`is-shalatil-fa`itah no. 1594.

Abu Qatadah ra menceritakan bahwa Rasulullah saw berkhutbah kepada para shahabat. Sabda beliau: “Kalian akan melakukan perjalanan pada petang dan malam sekarang tetapi baru akan mendapatkan air esok harinya in sya`al-‘Llah.” Maka orang-orang pun segera berangkat tanpa ada yang saling menunggu satu dan yang lainnya. Abu Qatadah berkata: Ketika Rasulullah saw berkendaraan hingga tengah malam, dan saat itu aku ada di sampingnya, Rasulullah saw mengantuk sehingga beliau oleng dari kendaraannya. Aku lalu menghampiri beliau dan menegakkannya tanpa membangunkannya, hingga beliau tegak kembali di atas kendaraannya. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan hingga akhir malam. Beliau lalu oleng lagi dari kendaraannya, aku lalu menghampiri beliau dan menegakkannya tanpa membangunkannya, hingga beliau tegak kembali di atas kendaraannya. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan. Hingga ketika sampai akhir sahur, beliau oleng kembali dan lebih oleng daripada yang sebelumnya hingga hampir jatuh. Aku lalu menghampiri beliau dan mengangkat kepala beliau. Beliau pun terbangun dan bertanya: “Siapa ini?” (mungkin karena gelap atau tidak jelas—pent). Aku menjawab: “Abu Qatadah.” Beliau bertanya kembali: “Sejak kapan kamu berjalan menemaniku.” Aku menjawab: “Dari sejak awal malam aku sudah berjalan di posisi ini.” Nabi saw bersabda: “Allah akan menjagamu karena kamu sudah menjaga Nabi-Nya.”

Kemudian Nabi saw bertanya: “Apakah kamu melihat kita sudah tertinggal dari rombongan?” Beliau bertanya lagi: “Apakah kamu melihat ada orang lain?” Aku jawab: “Ini ada satu pengendara.” Kemudian aku berkata lagi: “Ini ada satu pengendara lain lagi.” Sehingga kami berdekataan, semuanya sebanyak tujuh pengendara. Kemudian Rasulullah saw menepi dari jalan, beliau berbaring dan berkata: “Jagalah untuk kami shalat kami.” Tetapi ternyata yang paling awal bangun adalah Rasulullah saw. Sinar matahari saat itu sudah mengenai punggungnya. Kami pun bangun dalam keadaan terkejut. Tetapi beliau berkata: “Lanjutkan dahulu perjalanan.” Kami lalu naik kendaraan dan melanjutkan perjalanan, hingga ketika matahari sudah tinggi, beliau turun dan meminta wadah air wudlu yang aku bawa dan hanya ada air sedikit. Beliau lalu berwudlu dengan wudlu yang tidak biasa (ringkas tetapi tetap sempurna). Airnya masih tersisa sedikit lagi. Beliau bersabda kepada Abu Qatadah: “Jagalah wadah air wudlu ini untuk kita, akan ada satu kejadian penting.” Bilal kemudian adzan shalat. Rasulullah lalu shalat dua raka’at (qabla shubuh), kemudian shalat shubuh. Beliau mengerjakan shalat sebagaimana yang beliau kerjakan setiap hari.

Rasulullah saw kemudian naik kendaraan kembali dan kami pun demikian, bersama dengan beliau. Sebagian dari kami lalu ada yang berbisik-bisik: “Apa kifarat dari apa yang sudah kita perbuat yakni menelantarkan shalat?” Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Apakah tidak ada teladan pada diriku untuk kalian?” Beliau bersabda lagi:

إِنَّهُ لَيْسَ فِى النَّوْمِ تَفْرِيطٌ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلاَةَ حَتَّى يَجِىءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الأُخْرَى فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلْيُصَلِّهَا حِينَ يَنْتَبِهُ لَهَا فَإِذَا كَانَ الْغَدُ فَلْيُصَلِّهَا عِنْدَ وَقْتِهَا

“Sungguh dalam tidur itu tidak ada penelantaran. Hanyasanya yang dikategorikan menelantarkan itu adalah orang yang sengaja tidak mengerjakan satu shalat sehingga datang waktu shalat berikutnya. Maka siapa yang melakukan itu (terlantar dari shalat akibat tidur) hendaklah ia shalat ketika terbangun. Tetapi untuk esok harinya hendaklah ia shalat tepat pada waktunya.”

Abu Qatadah berkata: Kami sampai pada rombongan lainnya ketika hari sudah siang dan sudah habis semua perbekalan. Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, celaka kami, kami kehausan.” Nabi saw menjawab: “Tidak ada kecelakaan yang akan menimpa kalian.” Kemudian beliau bersabda: “Bukakan untukku wadah airku.” Kemudian beliau meminta wadah air wudlu Abu Qatadah. Rasulullah lalu menuangkan dan Abu Qatadah yang membagikan air kepada rombongan. Tidak lama setelah rombongan melihat air dalam wadah air wudlu itu mereka segera berkerumun. Rasulullah saw bersabda: “Perbaikilah antrian kalian. Kalian semua akan mendapatkan air.” Mereka pun mematuhi, dan Rasul saw menuangkan air sementara aku yang membagikannya kepada rombongan. Sehingga ketika tinggal aku dan Rasulullah saw, beliau menuangkan air untukku dan berkata: “Silahkan minum.” Aku menjawab: “Aku tidak akan minum sebelum anda minum wahai Rasulullah.” Tetapi beliau menjawab: “Sesungguhnya orang yang memberi air minum kepada satu kaum harus menjadi orang yang paling akhir minum.” Maka aku pun minum, baru kemudian Rasulullah saw juga minum. Orang-orang yang mengambil air itu sangat banyak dan semua terbagi rata.

Tentang mengapa Nabi saw tidak langsung shalat ketika beliau bangun dan matahari saat itu sudah terbit, melainkan melanjutkan perjalanan sebentar hingga matahari naik lebih tinggi, ada dua jawaban dari para ulama pensyarah hadits: Pertama, Nabi saw sendiri menegaskan bahwa tempat itu adalah tempat setan yang menyebabkan rombongan terlalaikan dari waktu shalat, sehingga harus berpindah dahulu: “Hendaklah masing-masing memegang tali kekang kendaraannya dan melaju dahulu karena sungguh ini tempat yang setan hadir kepada kita.” (Shahih Muslim qadla`is-shalatil-fa`itah no. 1593)

Kedua, sambil menunggu para shahabat menyelesaikan keperluan mereka (wudlu, buang air, ganti baju, memarkirkan kendaraan, dan sebagainya), sebagaimana diriwayatkan Imam al-Bukhari: “Mereka lalu memenuhi keperluan mereka dan berwudlu hingga terbit matahari dan sinarnya putih terang, lalu beliau berdiri shalat.” (Shahih al-Bukhari bab fil-masyi`ah wal-iradah no. 7471)

Yang jelas kasus kesiangan Nabi saw ini tidak menjadi dalil bahwa ketika sudah keluar dari waktunya shalat harus/boleh ditunda kembali tanpa alasan syari’i. Bahkan justru hadits ini mengajarkan bahwa siapa saja yang bangun kesiangan dari shalat shubuh, berarti ia sudah terkena perangkap setan. Kalau seseorang selalu bangun kesiangan shalat shubuh, sehingga jika ia seorang lelaki selalu tidak shalat ke masjid atau kalau ia seorang perempuan selalu shalat terlambat dari awal waktunya, berarti orang-orang tersebut sudah menjadi budak-budak setan.

Akan tetapi Nabi saw mengalami kesiangan shalat shubuh dalam hadits di atas sebabnya syar’i, yakni beliau dan rombongan melakukan perjalanan malam dalam rangka jihad fi sabilil-‘Llah sehingga tidak tidur. Baru ketika beliau sudah tidak kuat karena jatuh dari kendaraannya, beliau memaksakan diri tidur. Bukan karena lelah akibat aktivitas duniawi seperti hiburan, begadang senda gurau, dan rekreasi. Maka dari itu Nabi saw sendiri menyatakan bahwa ketiduran seperti ini tidak dosa karena bukan melalaikan. Jika sebabnya melalaikan karena mementingkan aktivitas duniawi, maka tentu sabda Nabi saw yang dikutip di atas tidak berlaku. Kesiangan seperti itu masuk kategori berdosa yang diancam dengan firman Allah swt: fa wailul-lil-mushallin.

Hadits ini menunjukkan kemukjizatan Nabi saw dalam hal air yang semula sedikit tetapi tetap ada dan cukup untuk minum rombongan safar yang jumlahnya banyak. Kemukjizatan serupa terjadi juga dalam hal air yang memancar dari balik celah-celah jari Nabi saw sehingga bisa dipakai wudlu oleh para shahabat (Shahih al-Bukhari bab ‘alamat an-nubuwwah fil-Islam no. 3579). Atau dalam peristiwa Nabi saw meminjam sedikit air dari wadar air perempuan musyrik yang ditemukan ‘Ali ra di sebuah perjalanan. Saat itu air yang sedikit dan dipinjam dari perempuan musyrik tersebut tidak kunjung habis. Cukup untuk wudlu dan minum ruombongan, bahkan mandi junub seorang shahabat yang junub. Air tersebut pun kemudian diberikan lagi oleh Nabi saw kepada perempuan musyrik tersebut dalam keadaan utuh (Shahih al-Bukhari bab as-sha’idut-thayyib wadlu`ul-muslim no. 344). Ketiga peristiwa di atas terjadi dalam safar. Dan dalam ketiga peristiwa tersebut Nabi saw dan para shahabat tetap mengusahakan air untuk wudlu, bukan tayammum. Jadi berdasarkan dalil-dalil ini juga dalil-dalil lain yang semakna diketahui bahwa tayammum ketika safar itu berlaku ketika tidak ada air.

Hadits Nabi saw di atas juga mengajarkan adab bahwa seseorang yang menghidangkan makanan atau minuman seyogianya makan dan minum paling akhir. Meski itu sekelas Nabi saw sekalipun. Karena beliau yang menghidangkan minuman, maka beliau minum paling akhir. Hal yang sama diinformasikan juga oleh Abu Hurairah ketika Nabi saw mengundang orang-orang yang menginap di masjid (Shuffah) untuk meminum air susu yang sudah dihidangkan Nabi saw. Ahlus-Shuffah minum terlebih dahulu, lalu Abu Hurairah, lalu Nabi saw (Shahih al-Bukhari bab kaifa kana ‘aisyun-Nabiy saw wa ashhabihi no. 6452).

Minggu, 04 Juli 2021

Bacaan Sholawat

Umat muslim hendaknya senantiasa membaca sholawat setiap saat, dimana pun, kapanpun dan dalam keadaan apapun itu.

Sebagaimana Allah telah meninggikan nama Nabi Saw dalam firmannya: 

“Kami meninggikan bagimu sebutan (nama)-mu.” (Qs. Al-Insyirah : 4). 

Hukum dari membaca shalawat sunnah muakkad yaitu perbuatan sunnah yang sangat dianjurkan.

Berikut ini keitimewaannya:
1) Sholawat dapat mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya, Malaikat-Nya dan pada rahmat Tuhannya.
Banyak membaca Sholawat kepada Nabi Muhammad Saw., selain akan memperoleh safa’at dari Beliau di akhirat kelak juga dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Mengapa membaca Sholawat sama dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt? sebab dalam shalawat asma Allah Swt. semakin sering orang membaca shalawat kepada Nabi Saw., maka sering pula orang itu menyebut asma Allah. Ini berarti semakin mahabbahnya seseorang kepada Nabi Saw., berarti sering pula orang itu mengingat kepada Allah Swt., dan dapat selalu mendekatkan diri kepada-Nya.

2) Allah Akan membalas satu bacaan Sholawat dengan sepuluh kali pahalanya.
Rasulullah bersabda: “Allah memerintahkan satu malaikat di antara oara malaikat untuk membawa nama setiap orang yang bersholawat dan nama orang tuanya kepadaku, malaikat itu berada di makamku sampai hari kiamat. Ketika seseorang bersholawat atasku malaikat tersebut berkata, “Wahai Muhammad, Fulan bin Fulan bershalawat atasmu sebanyak ini, telah menjamin bahwa setiap shalawat akan dibalas dengan sepuluh sholawat,”

3) Sholawat Nabi Saw, dapat menutupi kesalahan yang telah diperbuat dan dapat mengangkat derajat orang yang telah membacanya.
Abu Thalhah berkata, “saya pernah menghadap Rasulullah Saw., tampak wajah beliau berseri- seri. Aku bertanya. “Ya Rasul saya melihat wajah tuan hari ini temapk berbunga – bunga dan berseri?” 

Rasul menjawab. “Bagaimana aku tidak gembira, baru saja Jibril datang menghadapku,” san ia berkata “Barangsiapa yang membacakan sholawat kepadaku sekali saja, ia akan mendapatkan sepuluh kali, akan diangkat derajatnya menjadi sepuluh kali.”

4) Sholawat juga dapat menjadi sebab penutup kebutuhan dunia dan akhirat.
Diriwayatkan oleh Imam Ja’far Ash-shidiq bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “bacaan kalian atasku menyebabkan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kalian dan Allah Swt ridha pada kalian serta membersihkan perbuan – perbuatan kalian.”

5) Sholawat dapat menjadi sebab diampuninya dosa.
Di dalam kitab ‘Uyunul Majalis’ diriwayatkan bahwa saat seseorang hamba bersholawat atas Rasulullah Saw., terdengar seruan bahwa Allah Swt. bershalawat atas hamba tersebutsepuluh kali. Seruan tersebut terdengaroleh penghuni langit kedua dan seterusnya hingga Sidratul Muntaha sehingga berjumlah tujuh ribu kali, kemudian Allah berfirman kepda para malaikat, “Kalian tidak terlepas dari janji sholawat hamab-Ku, serahkan semuanya pada-Ku sehingga Aku memberi balasan padanya, dan balasan bagi hamba-Ku adalah Aku mengampuni dosa-dosanya.”

6) Dibedakan derajatnya dari orang munafik
Setiap umat Nabi Muhammad Saw membiasakan diri membaca sholawat atasnya dan keluarganya maka ia akan dibedakan derajatnya dari orang munafik dan kafir. Sehubungan dengan keterangan ini Rasulullah bersabda; “Sholawat atasku dan atas ahlul baitku menghilangkan kemunafikan.”

7) Mendapatkan cahaya (petunjuk) lahir dan batin di hari kiamat
Di dalam kitab Biharul Anwar disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. “Siapa yang membaca sholawat atasku, Allah akan memberikan cahaya di atas, di kiri, di kanan, di bawah dan di seluruh tubuhnya di hari kiamat.”

8) Akan selamat dari lalapan api neraka
Pernah suatu hari Imam Ja’far ash-Shidiq berkata pada shabah bin Sababah. “Apakah engaku ingin aku ajarkan sesuatu agar wajahmu terjaga dari panasnya neraka?”
Shabah bin Sababah menjawab; “ Ya.”
Imam Ja’far berujar, “ Setelah sholat subuh, ucapkan seratus kali “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad” (Ya allah sampaikan Sholawat pada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad), niscaya Allah akan menjaa wajahmu dari api neraka.”

9) Ada jaminan masuk surga dan kenikmatannya.
Banyak orang awam yang belum mengerti bahwa sholawat Nabi Saw., merupakan jalan menuju surga. Seorang sahabat bertanya pada Rasulullah Saw., “bacaan Sholawat dari umat merupakan kiriman hadiah untukmu. Lalu, apakah egkau balas mengirimkan hadiah kepadanya?”
Rasulullah Saw, menjawab, “Hari ini, Sholawat umatku merupakan hadiah mereka untukku. Sedangkan esok, menjadi hadiahku untuk mereka di surga.”

10) Mendapatkan syafa’at di hari kiamat.
Ada seorang laki-laki penduduk Marwi berkata, “Aku adalah seorang yang sanagt malas membaca sholawat atas pemimpin alam, Yaitu Nabi Muhammad saw, dan sama sekali tidak memberikan perhatian dalam masalah tersebut. Hingga suatu malam, aku bermimpi melihat Rasulullah Saw. Namun beliau tidak memperdulikan aku seolah-olah beliau tidak menyukiku.”

Aku bertanya kepada beliau “wahai Rasulullah, mengapa engaku tidak memperdulikan aku? Bukankah aku adalah umatmu? Aku mendengar dari para ulama bahwa para nabi lebih mengenal umatnya dibanding ayah terhadap anaknya.”

Beliau menjawab, “pengenalanku pada umatku bergantung pada shalawat yang mereka sampaikan kepadaku. Karena engaku tidak mengingatkuu dengan shalawat, lalu bagaimana aku mengenalmu dan bagaimana aku peduli padamu?”

Aku terbangun dari tidur. Sejak itu, aku mewajibkan diriku membaca Sholawat seratus kali setiap hahri. Memberiku taufik untuk melaksankannya. Tidak kemudian aku kembali bermimpi menjumpai Rasulullah Saw., “sekarang aku mengenalmu. Aku bangga padamu dan aku akan memberi syafa’at pada doromu di hari kiamat kelak.”

Melihat begitu banyaknya keistimewaan membaca sholawat kepada Nabi Saw. Mari kita perbanyak membaca shalawat agar kita menjadi umat yang diberikan Syafa’at di hari kiamat kelak dan semoga kita dijauhkan dari panasnya Api neraka. Amiin.

Lirik Ya Nabi Salam Mahalul qiyam

Lirik Mahalul Qiyam: Ya Nabi Salam Alaika

Berikut ini adalah lirik ya nabi salam alaika yang banyak dibaca oleh umat islam dan umum pula dijadikan lantunan shalawat ketika mahalul qiyam saat pembacaan maulid:

ﻳَﺎ ﻧَﺒِﻲ سَلَاﻡْ ﻋَﻠَﻴْﻚَ - ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝْ سَلَاﻡْ ﻋَﻠَﻴْﻚَ
Yaa nabii salaam ‘alaika, Yaa Rasuul salaam ‘alaika

Wahai Nabi, salam sejahtera untukmu, Wahai Rosul salam sejahtera untukmu.

ﻳَﺎ ﺣَﺒِﻴﺐْ سَلَاﻡْ ﻋَﻠَﻴْﻚَ - ﺻَﻠَﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﻠَّﻪ ﻋَﻠَﻴْﻚَ
Yaa habiib salaam ‘alaika, sholawaatullaah ‘alaika

Wahai kekasih, salam sejahtera untukmu dan Sholawat (rohmat) Allah untukmu.

ﺃَﺷﺮَﻕَ ﺍﻟﺒَﺪْﺭُ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ - ﻓَﺎﺧْﺘَﻔَﺖْ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﻟﺒُﺪُﻭْﺭُ
Asyroqol badruu‘alainaa, fakhtafat minhul buduuru

Bulan purnama telah terbit menyinari kami, Pudarlah purnama purnama lainnya.

ﻣِﺜْﻞَ حُسْنِك ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﻨَﺎ - ﻗَﻂُّ ﻳَﺎ ﻭَﺟْﻪَ ﺍﻟﺴُّﺮُﻭْﺭِ
Mitsla husnik maa ro-ainaa, qotthu yaa wajhas-suruuri

Belum pernah aku lihat keelokan sepertimu wahai orang yang berwajah riang.

ﺃَﻧْﺖَ ﺷَﻤْﺲٌ ﺃَﻧْﺖَ ﺑَﺪْﺭٌ - ﺃَﻧْﺖَ ﻧُﻮْﺭٌ ﻓَﻮْﻕَ ﻧُﻮْﺭٍ
Anta syamsun anta badrun, anta nuurun fauqo nuurin

Engkau bagai matahari, engkau bagai bulan purnama, engkau cahaya di atas cahaya

ﺃَﻧْﺖَ ﺇِﮐْﺴِﻴْﺮُ ﻭَﻏَﺎﻟِﻲ - ﺃَﻧْﺖَ ﻣِﺼْﺒَﺎﺡُ ﺍﻟﺼُّﺪُﻭْﺭِ

Anta iksiirun wa ghaalii, anta mishbaahush-shuduuri
Engkau bagaikan emas murni yang mahal harganya, Engkaulah pelita hati.

ﻳَﺎ ﺣَﺒِﻴْﺒِﯽ ﻳَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪ - ﻳَﺎﻋَﺮُﻭْﺱَ ﺍﻟﺨَﺎﻓِﻘَﻴْﻦِ
Yaa habiibi yaa Muhammad, yaa ‘aruusal-khoofiqoiini

Wahai kekasihku, wahai Muhammad, wahai pengantin tanah timur dan barat (sedunia)

ﻳَﺎ ﻣُﺆَﻳَّﺪْ ﻳَﺎﻣُﻤَﺠَّﺪْ - ﻳَﺎ ﺇِﻣَﺎﻡَ ﺍﻟﻘِﺒْﻠَﺘَﻴْﻦِ
Yaa mu-ayyad yaa mumajjad, yaa imaamal qiblataini

Wahai Nabi yang dikuatkan (dengan wahyu), wahai Nabi yang diagungkan, wahai imam dua arah kiblat.

ﻣَﻦْ ﺭَﺃَﯼ ﻭَﺟْﻬَﻚَ ﻳَﺴْﻌَﺪْ - ﻳَﺎﮔﺮِﻳْﻢَ ﺍﻟﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻦِ
Man ro-aa wajhaka yas’ad, yaa kariimal waalidaini

Siapa pun yang melihat wajahmu pasti berbahagia, wahai orang yang mulia kedua orang tuanya.

ﺣَﻮْﺿُﻚَ ﺍﻟﺼَّﺎﻓِﯽ ﺍﻟﻤُﺒَﺮَّﺩْ - ﻭِﺭْﺩُﻧَﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻨُّﺸُﻮْﺭِ
Haudlukash-shoofîl mubarrod, wirdunaa yauman-nusyuuri

Telagamu jernih dan dingin, yang akan kami datangi kelak dihari qiyamat.

ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﻨَﺎ ﺍﻟﻌِﻴْﺲَ ﺣَﻨَّﺖْ - ﺑِﺎﻟﺴُّﺮَﯼ ﺇِﻻَّ ﺇِﻟَﻴْﻚَ
Maa ro-ainaal ‘iisa hannat, bissuraa illaa ilaika

Belum pernah unta putih berbalur hitam berdenting berjalan malam hari kecuali unta yang datang kepadamu.

ﻭَﺍﻟﻐَﻤَﺎﻣَﻪ ﻗَﺪْ ﺃَﻇَﻠَّﺖْ - ﻭَﺍﻟﻤَﻼَ ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻚَ
Wal ghomaamah qod adhollat, wal malaa sholluu ‘alaika

Awan tebal memayungimu, seluruh tingkat golongan manusia mengucapkan sholawat kepadamu.

ﻭَﺃَﺗَﺎﻙَ ﺍﻟﻌُﻮﺩُ ﻳَﺒْﮑِﻲ - ﻭَﺗَﺬَﻟَّﻞْ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻚَ
Wa ataakal ‘uudu yabkii, wa tadzallal baina yadaika

Pohon pohon datang kepadamu menangis bersimpuh merasa hina di hadapanmu.

ﻭَﺍﺳْﺘَﺠَﺎﺭَﺕْ ﻳَﺎﺣَﺒِﻴْﺒِﻲ - ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﺍﻟﻈَّﺒْﻲُ ﺍﻟﻨُّﻔُﻮْﺭُ
Wastajaarot yaa habiibii, ‘indakadh-dhobyun-nufuuru

Kijang gesit datang memohon keselamatan kepadamu wahai kekasih.

ﻋِﻨْﺪَﻣَﺎ ﺷَﺪُّﻭْﺍ ﺍﻟﻤَﺤَﺎﻣِﻞ - ﻭَﺗَﻨَﺎﺩَﻭﺍ ﻟِﻠﺮَّﺣِﻴْﻞِ
‘Indamaa syadduul mahaamil, wa tanaadau lirrohiili

Ketika serombongan berkemas dan menyerukan untuk berangkat

ﺟِﺌْﺘُﻬُﻢْ ﻭَﺍﻟﺪَّﻣْﻊُ ﺳﺂﺋِﻞْ - ﻗُﻠْﺖُ ﻗِﻒْ ﻟِﯽ ﻳَﺎ ﺩَﻟِﻴْﻞُ
Ji'tuhum waddam’u saail, qultu qif lii yaa daliilu

Kudatangi mereka dengan berlinang air mata seraya kuucapkan tunggulah wahai pemimpin rombongan

ﻭَﺗَﺤَﻤَّﻞْ ﻟِﻲ ﺭَﺳﺂﺋِﻞْ - ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﺸَّﻮْﻕُ ﺍﻟﺠَﺰِﻳْﻞُ
Wa tahammal lî rosaa-il, ayyuhaasy-syauqul jaziilu

Bawakan aku surat yang berisikan kerinduan yang mendalam

ﻧَﺤْﻮَﻫَﺎﺗِﻴْﻚَ ﺍﻟﻤَﻨَﺎﺯِﻝِ - ﻓِﯽ ﺍﻟﻌَﺸِﻲِّ ﻭَﺍﻟﺒُﮑُﻮْﺭِ
Nahwa haatiikal manaazil, fîl ‘asyiyyi wal bukuuri

Membawakan ke tempat yang jauh ketika petang dan paginya.

ﮐُﻞُّ ﻣَﻦْ ﻓِﯽ ﺍﻟﮕﻮْﻥِ ﻫَﺎﻣُﻮﺍ - ﻓِﻴْﻚَ ﻳَﺎ ﺑَﺎﻫِﻲ ﺍﻟﺠَﺒِﻴْﻦِ
Kullu man fîl kauni haamuu, fîka yaa baahîl jabiini

Setiap orang di jagad raya ini bingung (karena sangat rindu) kepadamu wahai orang yang bersinar kedua keningnya.

ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻓِﻴْﻚَ ﻏَﺮَﺍﻡُ - ﻭَﺍﺷْﺘِﻴَﺎﻕُ ﻭَﺣَﻨِﻴْﻦُ
Wa lahum fîka ghoraamun, wasytiyaaqun wa haniinu

Mereka terpikat, tergila-gila dan meronta-ronta dengan mu tentang sifatmu.

ﻓِﻲ ﻣَﻌَﺎﻧِﻴْﻚَ ﺍﻷَﻧَﺎﻡُ - ﻗَﺪْ ﺗَﺒَﺪَّﺕْ ﺣﺂﺋِﺮِﻳْﻦَ
Fii ma’aanîkal anaamu, qod tabaddat haa-iriina

Para makhluk berbeda pendapat dan bingung (tidak mampu menyifati dengan sempurna)

وَصَلَاةُ اللَّهِ تَغْشَا - عَدَّ تَحْرِيْرِ السُّطُوْرِ
Wa sholaatullaahi taghsyaa ‘adda tahriiris-suthuuri 

Dan sholawat Allah semoga tercurah 

أَحْمَدَ الهَادِی مُحَمَّدْ - صَاحِبَ الوَجْهِ المُنِيرِ
Ahmadal haadii Muhammad shoohibal wajhil muniiri

untuk Ahmad sang petunjuk yaitu Nabi Muhammad pemilik wajah yang bersinar.

اَنْتَ لِلرُّسُلِ خِتَامُ - اَنْتَ لِلْمَوْلٰى شَكُوْرُ
Anta lirrusuli khitaamu anta lil maulaa syakuuru

Engkau penutup para Nabi, engkau syukur dari para hamba

عَبْدُكَ المِسْكِينُ يَرْجُو - فَضْلَكَ الجَمَّ الغَفِيْرَ
'Abdukal miskiinu yarjuu fadlakal jammal ghofiiru

Budakmu yang miskin mengharapkan keutamaanmu yang besar

فِيْكَ قَدْ اَحْسَنْتُ ظَنِّي - يَابَشِيْرُ يَانَذِيْرُ
Fiika qod ahsantu dhonnii yaa basyiiru yaa nadziiru

Padamu aku bersangka baik, wahai pemberi kabar gembira, wahai pemberi peringatan

فَاَغِثْنِي وَاَجِرْنِي - يَا مُجِيْرُ مِنَ السَّعِيْرِ
Fa aghitsnii wa ajirnii yaa mujiiru minas sa'iiri

Maka tolonglah aku, selamatkanlah aku, wahai sang penyelamat dari api neraka

يَاغَيَاثِي يَامَلَاذِي - فِي مُهِمَّاتِ الاُمُوْرِ
Yaa ghoyaatsii yaa malaadzii fii muhimmaatil umuuri

Wahai penolong, wahai pelindung dalam urusan-urusan genting

سَعِدَ عَبْدٌ قَدْ تَمَلّٰى - وَانْجَلٰى عَنْهُ الحَزِيْنُ
Sa'da 'abdun qod tamallaa wanjalaa 'anhul haziinu

Bahagianya hamba merasa senang, hilanglah darinya kesedihan

فِيْكَ يَا بَدْرٌ تَجَلّٰي - فَلَكَ الوَصْفُ الحَسِيْنُ
Fiika yaa badrul tajalla falakal washful hasiinu

Padamu nampak purnama, padamu ada sifat yang indah

لَيْسَ اَزْكٰى مِنْكَ اَصْلًا - قَطُّ يَا جَدَّ الحُسَيْنِ
Laisa azkaa minka ashlan qotthu yaa jaddal husaini

Tidak ada yang lebih bersih asalnya sama sekali dari padamu wahai kakeknya Hasan dan Husain.

فَعَلَيْكَ اللّهُ صَلّٰى - دَآئِمًا طُوْلَ الدُّهُوْرِ
Fa 'alaikallahu shollaa daa-iman thuulad duhuuri
Allah haruskan sholawat untukmu selamanya sepanjang masa.

يَا وَلِيَّ الحَسَنَاتِ - يَا رَفِيْعَ الدَّرَجَاتِ
Yaa walii yal hasanaati yaa rofii'ad darojaati
ً
Wahai Allah penguasa kebaikan-kebaikan, wahai Allah yang Maha tinggi kedudukannya.

كَفِّرْ عَنِّيَ الذُّنُوبَ - وَاغْفِرْ عَنِّي السَّيِّئَاتِ
Kaffir 'anniyadz dzunuuba waghfir 'annis sayyi-aati

Palingkan dariku dosa, dan ampunilah keburukan-keburukanku.

اَنْتَ غَفَّارُ الخَطَيَا - وَالذُّنُوْبِ المُوْبِقَاتِ
Anta ghoffaarul khothoyaa wa dzunuubil muubiqooti

Engkau maha pengampun kesalahan-kesalahan dan dosa yang membinasakan.

اَنْتَ سَتَّارُ المَسَاوِي - وَمُقِيْلُ العَثَرَاتِ
Anta sattarul masaawi wa muqiilul 'atssarooti

Engkau maha penutup aib-aib, dan pemaaf atas kesalahan-kesalahan.

عَالِمُ السِّرِّ وَاَخْفٰى - مُسْتَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
'Aalimus sirri wa akhfaa mustajiibud da'awaati

Engkau maha tahu yang samar dan tersembunyi, yang mengabulkan doa-doa.

رَبِّ فَارْحَمْنَا جَمِيْعًا - بِجَمِيْعِ الصَّالِحَاتِ
Robbi farhamnaa jamii'a bijamii'is shoolihaati

Ya Allah ya tuhanku kasihilah kami semua dengan seluruh kebaikan-kebaikan.

صَلَّى الله عَلَيْكَ يَا نَبِيّ  *  صَلَّى الله عَلَيْكَ يَا رَسُوْل
يَا جَدَّ الحَسَنْ وَالْحُسَينْ  *  صَلَّى الله عَلَيْكَ يَا نَبِيّ

Demikianlah lirik mahalul qiyam ya nabi salam alaika, yang biasa dibaca ketika membaca maulid. Termasuk saat membaca maulid al-Barjanzi.

Sabtu, 03 Juli 2021

Tasawuf


Penjelasan sederhana TASAWUF :

 ثم اعلم أن التصوف له خصلتان الاستقامة مع الله تعالى والسكون عن الخلق٬ فمن استقام مع الله عز وجل وأحسن خلقه بالناس وعاملهم بالحلم فهو صوفي

Artinya, “Ketahuilah tasawuf memiliki dua pilar, yaitu istiqamah bersama Allah dan harmonis dengan makhluk-Nya. Dengan demikian siapa saja yang istiqamah bersama Allah SWT, berakhlak baik terhadap orang lain, dan bergaul dengan mereka dengan santun, maka ia adalah seorang sufi,” (Imam Al-Ghazali, Ayyuhal Walad.)

Bagi Imam Al-Ghazali, upaya menemukan inti dari tasawuf tidak sulit baginya. Pasalnya, ia memahami benar apa yang dia bicarakan berpanjang-panjang selama ini dalam karyanya terutama Ihya Ulumiddin. 

Istiqamah bersama Allah baik secara lahir dan batin menuntut kebulatan hati dan kesatuan perbuatan yang sesuai garis agama Islam. 
Sedangkan interaksi secara baik dengan empati terhadap makhluk-Nya merupakan sisi lain tasawuf yang sulit dipisahkan dari yang pertama, yaitu istiqamah. 

Tasawuf bukan semata persoalan lahiriah yaitu soal jubah, serban, biji tasbih, rida hijau yang diselempangkan di bahu, berjenggot, bertongkat, menunjukkan lafal tauhid,  mengubah ejaan menjadi lebih islami dalam media sosial, atau soal kekuatan ghaib akrobatik dengan pelbagai kecenderungan khariqul adat. 

Adapun sufi dalam bahasa sederhana Imam Al-Ghazali adalah orang yang menjaga perilakunya untuk senantiasa taat kepada Allah lahir dan batin, serta bermasyarakat dengan kepedulian terhadap sesama dan alam sekitar.
Wallahu a‘lam.


Nrimo ing pandum

"NRIMO ING PANDUM"

Podo iling sanak kadang....
Ojo siro podo lali...
iling zikir maring pangeran... 
iku biso dadi dalan...

Lelakuning budi pakerti...
Manggon ono sirining ati....
Senajan abot dilakoni... 
Gusti Allah kang manjingi...

Mulane ojo gersulo... 
yen nandang kemelaratan...
Setuhune mlarat lan sugih...
Iku gelar mung kesasrah...

لا اله الا الله لا اله الا الله
محمد رسول الله

 *****

Watak nrimo ono ing pandum...
Dadi kekasihing Pangeran....
Nandang akeh wong kang kurang...
Golek wuwuh kanggo nyandang... 

Ora ono ati sumeleh...
Tansah ngongso ngongso uripe...
Nuruti howo nafsune...
Bakal getun tembe mburine...

Yen rumongso nrimo pandume...
Iku dadi pepesthine...
Nrimo taqdir opo anane...
Allah paring sekabehe...

لا اله الا الله لا اله الا الله
محمد رسول الله

*****

Kuncine lawang suwargo...
ora ono lafal liyo....
LAA ILAHA ILLA ALLAH
MUHAMMADUR ROSULULLAH...

GUSTI ALLAH kulo nyekseni... 
mboten wonten Pangeran malih... 
kejawi Panjenengan.... 
LAA ILAHA ILLA ALLAH...

لا اله الا الله لا اله الا الله
محمد رسول الله

*****

Ilmu iku kang sejati....
kathahe wonten papat...
Syare'at lan Hakekat... 
Thoriqot lan makrifat...

Cecekelan marang dzat ALLAH....
siro bakal dadi sampurno...
Setuhune amal panjenengan... 
dados wali waline ALLAH...

لا اله الا الله لا اله الا الله
محمد رسول الله

*****

TAPANING ROSHO KITHO... 
NYEGAH ING PANULONGSO...
TAPANING CAHYO KITHO....
PENINGAL ATI IRO...

TAPANING GESANG KITHO... 
WIRID ZIKIR NING ALLAH...
TAPANING SUKMO KITHO... 
MANGUCAP LAFAL HUU ALLAH....

لا اله الا الله لا اله الا الله
محمد رسول الله

*****

AJINE MANUNGSO URIP... 
SOKO AYANG AYANGE DEWE...
ATINE KANG MANUNGGAL... 
MANYEMBAH GUSTI KANG TUNGGAL...

Cecekelan liyane ALLAH....
ojo siro niqotake... 
setuhune amal panjenengan....
dados intipe neroko...

لا اله الا الله لا اله الا الله
محمد رسول الله

*****

Watak nrimo ono ing pandum...
Dadi kekasihing Pangeran....
Nanging akeh wong kang kurang...
Golek wuwuh kanggo nyandang... 

Ora ono ati sumeleh...
Tansah ngongso ngongso uripe...
Nuruti howo nafsune...
Bakal getun tembe mburine...

Yen rumongso nrimo pandume...
Iku dadi pepesthine...
Nrimo taqdir opo anane...
Allah paring sekabehe...

Ajine manungso urip... 
soko kelakuanmu dewe.... 
Atimu kang manunggal.... 
manyembah GUSTI KANG TUNGGAL...

Cecekelan marang dzat ALLAH... 
Siro bakal dadi sampurno...
Setuhune amal panjenengan... 
dados manjing ing suwargo...

لا اله الا الله لا اله الا الله
محمد رسول الله

*****

مفتاح الجنة لا اله الا الله
لا اله الا الله لا اله الا الله

By Gusimm

AL ‏KARIIM ‎artinya

MAKNA ALKARIIM

Secara bahasa, Al Karim mempunyai arti Yang Maha Mulia, Yang Maha Dermawan atau Yang Maha Pemurah. 

Secara istilah, al-karim diartikan bahwa allah SWT Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah yang memberi anugrah atau rezeki kepada semua makhluk-Nya.

Dapat pula dimaknai sebagai Zat yang sangat banyak memiliki kebaikan, Maha Pemurah, Pemberi Nikmat dan Keutamaan, baik ketika diminta maupun tidak.

Al Karim ialah Dzat yang banyak memberi dan berbuat baik tanpa diminta. 
Berbeda dengan AsSakhiy (dermawan) yang suka memberi karena diminta. 
Atas dasar inilah, Allah memberikan nama-Nya dengan Al-Karim, bukan As-Sakhiy.

al-Karîm adalah nama yang mencakup segala sifat yang terpuji. Allah Azza wa Jalla adalah al-Karîm (Maha Mulia) amat terpuji segala perbuatan-Nya.

Jika kita mencermati nama al-Karîm dalam al-Qur’ân, nama Allah Azza wa Jalla yang mulia ini terulang sebanyak dua kali. Pertama, dalam surat an-Naml/27:40:

فَلَمَّا رَآَهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي 
أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ 
فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: “Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat Nya).
Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Tempat kedua, dalam surat al-Infithâr/82:6: Allah Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

“Hai manusia, apa yang telah memperdaya kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah?”. 

Pada ayat surat an Naml di atas, Allah Azza wa Jalla menceritakan tentang perkataan Nabi Sulaiman Alaihissalam saat beliau menyaksikan wujud istana ratu Balqis di hadapannya.
Pemberian Allah Azza wa Jalla tersebut dinilai oleh Nabi Sulaiman guna menguji rasa syukurnya pada Allah Azza wa Jalla atas segala nikmat yang diberikan kepadanya. Lalu, ayat ini ditutup dengan dua nama Allah Azza wa Jalla yang mulia al-Ghani (Maha Kaya) dan al-Karîm (Maha Mulia).

Kemudian, sebagai (cermin) sifat karom-Nya, Allah Azza wa Jalla memaafkan sesuatu hak yang wajib diserahkan kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla memaafkan dosa para hamba yang lalai dalam menunaikan kewajiban kepada Allah. Karena nama Allah al Karîm beriringan dengan nama Allah al-‘Afuww (Maha Pemberi Maaf), seperti tertuang dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي 
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha , ia berkata: “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika seandainya aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang aku ucapkan?” Beliau bersabda: “Ucapkanlah: Ya Allah sesungguhnya engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau mencintai sifat pemaaf, maka ampunilah aku”.

Doa Syekh Abdul Qadir Di makam Rosulullah

Pada waktu Syekh Abdul Qodir berziarah ke pusara Rosululloh SAW. di Madinah Munawwaroh, setibanya di Madinah langsung beliau masuk ke ruang pusara Rosululloh SAW. yaitu "ruang yang mulia" (hujroh syarifah). 
Kedua tangannya diletakkan pada dadanya sambil bermunajat mengharap rahmat-Nya, menumpahkan isi hati nuraninya dengan makna bait dibawah ini :
  ﺫﻧﻮﺑﻲ ﻛﻤﻮﺝ ﺍﻟﺒﺤﺮ ﺑﻞ ﻫﻲ ﺍﻛﺜﺮ
ﻛﻤﺜﻞ ﺟﺒﺎﻝ ﺍﻟﺸﻢ ﺑﻞ ﻫﻲ ﺍﻛﺒﺮ 
ﻭﻟﻜﻨﻬﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺍﺫﺍ ﻋﻔﺎ 
ﺟﻨﺎﺡ عن ﺍﻟﺒﻌﻮﺽ ﺑﻞ ﻫﻲ ﺍﺻﻐﺮ 
  
"Besar dosaku seperti gulungan ombak dilaut bahkan lebih banyak. 

Tinggi setinggi puncak gunung syam bahkan lebih tinggi lagi. 
Namun bila daku Kau ampuni, ringan dosaku seringan sayap nyamuk, kecil bahkan sekecil amat sangat".  
Lalu beliau meneruskan munajat pengharapannya dengan bait dibawah ini: 

 ﻓﻲ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﺒﻌﺪ ﺭﻭ ﺣﻲ ﻛﻨﺖ ﺍﺭﺳﻠﻬﺎ *** ﺗﻘﺒﻞ ﺍﻻﺭﺽ ﻋﻨﻲ ﻭ ﻫﻲ ﻧﺎﺋﺒﺘﻲ ﻭﻫﺬﻩ ﻧﻮﺑﺔ ﺍﻻﺷﺒﺎﺡ ﻗﺪﺣﻀﺮﺕ *** ﻓﺎﻣﺪﺩ ﻳﻤﻴﻨﻚ ﻛﻲ ﺗﺤﻈﻰ ﺑﻪ ﺷﻔﺘﻲ 

  "Kala jauh dari kekasih, kau utus roh pengganti diri, ulurkan tanganmu kini kasih, kan kukecup sepuas hati untuk terima syafaat kekasih".  

Selesai beliau meluapkan isi hati nuraninya, tangan Rosululloh SAW. yang mulia terulur keluar lalu dipegang, diciumnya sepuas hati, dan diletakkan pada ubun-ubun kepala Syekh.