Jumat, 12 Juni 2026

muharram 1448 2026



 

   اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

   اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ اللَّيْلِ عَلَى النَّهَارْ، تَذْكِرَةً لِأُولِى الْقُلُوْبِ وَالْأَبْصَارْ، وَتَبْصِرَةً لِّذَوِي الْأَلْبَابِ وَالْاِعْتِبَارْ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِٰلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهْ الْمَلِكُ الْغَفَّارْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرْ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأٰلِهِ وَصَحْبِهِ الْأَطْهَارْ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَآأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ فِيْ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ . إِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوا وَجَٰهَدُوا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أُولَٓئِكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللهِۚ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. 

Jamaah shalat jumat rahimakumullah

Orang-orang Arab baik sebelum masa Rasulullah maupun pada masa beliau tidak memiliki angka tahun. Mereka biasa menamakan tahun dengan peristiwa besar yang terjadi pada tahun tersebut.

Misalnya ada tahun yang disebut tahun gajah (amul fil) karena di tahun tersebut terjadi peristiwa pasukan gajah di bawah pimpinan Abrahah yang akan menghancurkan Ka’bah. Ada tahun yang disebut sebagai tahun fijar (amul fijar) karena saat itu terjadi perang fijar. Ada tahun yang disebut tahun nubuwah karena di tahun itu Rasulullah menerima wahyu.

Pada tahun ketiga masa pemerintahan Umar.
 bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, datang satu masalah yang dialami oleh pejabat pemerintah. Ketiadaan angka tahun membuat sebagian pejabat pemerintah kesulitan. Salah satunya adalah Gubernur Basrah Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.

Atas aduan Abu Musa, Umar kemudian menerbitkan kalender Islam. Setelah bermusyawarah dengan para sahabat terkemuka, Umar memutuskan bahwa awal kalender Islam dimulai dari tahun hijrahnya Rasulullah. Karenanya kalender Islam dikenal dengan nama kalender hijriyah
Perdebatan Para Sahabat: Mengapa Hijrah yang Dipilih?

Dalam musyawarah tersebut, muncul empat usulan utama mengenai kapan tahun pertama (Tahun 1) harus dimulai:

a. Tahun Kelahiran Nabi (Milad): Sebagian sahabat mengusulkan agar kalender dimulai dari tahun kelahiran Nabi. Namun, usulan ini ditolak karena menyerupai tradisi kaum Nasrani yang menggunakan kelahiran Nabi Isa AS sebagai awal tahun Masehi. Islam ingin memiliki identitas yang berbeda (mukhalafah).

b. Tahun Pengangkatan Nabi (Bi'tsah): Usulan ini juga kuat, karena menandai turunnya wahyu pertama. Namun, ini tidak dipilih karena pada masa awal dakwah di Mekkah, umat Islam masih dalam keadaan tertindas dan belum memiliki kedaulatan politik.

c. Tahun Wafatnya Nabi: Usulan ini segera ditolak karena akan memicu kesedihan yang berlarut-larut setiap kali pergantian tahun baru.

d. Tahun Hijrah (Migrasi ke Madinah): Usulan ini diajukan oleh Ali bin Abi Thalib RA.

Mengapa Hijrah? Umar bin Khattab RA akhirnya menyetujui usulan Ali bin Abi Thalib. Alasannya sangat fundamental dan visioner. Umar berkata:

الْهِجْرَةُ فَرَّقَتْ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، فَأَرِّخُوا بِهَا

Artinya: "Hijrah itu memisahkan antara yang hak (kebenaran) dan yang batil. Maka, jadikanlah ia sebagai patokan sejarah."

Analisis Ibnu Hajar Al-Asqalani: Dalam Fathul Baari, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Hijrah adalah momen transformasi total.

Di Mekkah, Islam hanya berupa dakwah individual tanpa kekuasaan.

Di Madinah (pasca Hijrah), Islam menjelma menjadi Daulah (Negara), memiliki kekuatan militer, hukum syariat diterapkan secara sempurna, dan umat Islam memiliki izzah (kemuliaan/kedaulatan).

Hijrah bukan sekadar pindah tempat, tapi pindah dari kelemahan menuju kekuatan. Itulah mengapa Hijrah layak dijadikan titik awal peradaban.

Mengapa Bulan Muharram, Bukan Rabiul Awal?

Fakta sejarah yang sering disalahpahami adalah waktu pelaksanaan Hijrah. Nabi Muhammad SAW sebenarnya tiba di Madinah pada bulan Rabiul Awal, bukan bulan Muharram. Lantas, mengapa kalender Hijriah dimulai dari bulan Muharram?

Utsman bin Affan mengusulkan Muharram. Mengapa? Sebab sejak dulu orang Arab menganggap Muharram adalah bulan pertama. Kedua, umat Islam telah menyelesaikan ibadah haji pada bulan Dzulhijjah. Ketiga, bulan Muharram merupakan bulan munculnya tekad hijrah ke Madinah setelah pada Dzulhijjah terjadi Baiat Aqabah II.

Maka jadilah Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender hijriyah. 1 Muharram adalah tahun baru hijriyah


a. Tekad Hijrah Dimulai di Muharram

Meskipun Nabi berhijrah fisik di bulan Shafar dan tiba di Rabiul Awal, namun Azam (tekad kuat) untuk berhijrah muncul setelah baiat Aqabah II yang terjadi di bulan Dzulhijjah. Bulan setelah Dzulhijjah adalah Muharram. Jadi, "niat" hijrah itu bermula di Muharram.

b. Bulan Kepulangan Jamaah Haji

Muharram adalah waktu di mana jamaah haji kembali ke rumah mereka dalam keadaan suci (bersih dari dosa). Ini adalah momen yang tepat untuk memulai lembaran baru (tahun baru).

c. Salah Satu Bulan Haram

Muharram termasuk dalam Asyhurul Hurum yang dimuliakan Allah, sehingga sangat pantas dijadikan pembuka tahun agar diawali dengan kemuliaan.


Maka, disepakatilah bahwa Tahun 1 Hijriah dihitung mundur ke tahun terjadinya Hijrah, namun bulan pertamanya tetap Muharram.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah

Bulan Muharram kadang dianggap sebagai bulan tidak beruntung atau sial oleh sebagian masyarakat ini, ternyata menyimpan keberkahan-keberkahan. Islam datang memberikan pencerahan, bahwa ternyata Muharram atau Syuro adalah bulan yang sangat istimewa dan penuh kebaikan.

Di dalam Islam Syuro disebut sebagai bulan Muharram. Berikut tiga keberkahan bulan Syuro atau Muharam :

Pertama, Muharram adalah salahsatu dari empat bulan suci dalam Islam.

Dalam Islam ada empat bulan yang dinilai suci, setelah bulan suci Ramadhan. Keempat bulan itu, dijelaskan dalam surat At Taubah ayat 36 berikut,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ وَقَٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ كَآفَّةٗ كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ كَآفَّةٗۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.

Keempat bulan suci tersebut adalah :

[1] Dzulqo’dah; [2] Dzulhijah; [3] Muharam; [4] Rojab.

Sebagaimana disebutkan disebutkan secara detail oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya,

إنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya waktu berputar ini sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantara dua belas bulan itu, ada empat bulan suci (Syahrul Haram). Tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar; antara Jumadi tsaniah dan Syaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tiga bulan berurutan; Dzulqo’dah, Dzulhijah kemudian Muharam. Satu bulan terpisah, yaitu Rojab. Dan dua diantara empat bulan itu, menjadi pembuka dan penutup tahun kalender Hijriyah. Muharam sebagai bulan pembuka tahun Hijriyah, dan Dzulhijjah sebagai bulan penutup. Sehingga, satu tahun Hijriyah dibuka dengan bulan suci kemudian ditutup dengan bulan suci.

Mengingat Muharram adalah bulan suci di sisi Allah. Bahkan merupakan bulan terbaik diantara empat bulan suci itu. Ini menunjukkan, Muharram atau syuro adalah bulan yang berkah, bukan bulan sial.

Kedua, Muharram adalah bulannya Allah.

Bulan Muharram disebut sebagai syahrullah (bulan Allah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Az Zamakhsyari menjelaskan, ”Bulan Muharram disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ’Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan ini. Sebagaimana kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) atau ’Ahlullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan ini.”

Sedangkan Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iraqiy menjelaskan, Muharram disebut syahrullah karena pada bulan ini diharamkan pembunuhan dan ia merupakan bulan pertama dalam setahun.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah

Lalu apa saja amalan sunnah di bulan Muharram yang keutamaan waktunya telah dijelaskan di atas? Berikut ini beberapa di antaranya:

1. Memperbanyak puasa sunnah

Amalan sunnah pertama pada bulan ini adalah memperbanyak puasa sunnah. Sebab puasa sunnah paling utama adalah puasa sunnah di bulan ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (berpuasa) di bulan Allah, Muharam. (HR. Muslim)

2. Puasa Asyura

Yakni puasa pada tanggal 10 Muharram. Ini adalah amal yang paling utama dan puasa sunnah terbaik di bulan Muharram yang keutamaannya bisa menghapus dosa setahun.

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Rasulullah ditanya mengenai puasa asyura, beliau menjawab, “ia bisa menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

3. Puasa Tasu’a

Yakni puasa pada tanggal 9 Muharram. Rasulullah berazam untuk mengerjakannya, meskipun beliau tidak sempat menunaikan karena wafat sebelum waktu itu tiba. Lalu para sahabatnya menjalankan puasa tasu’a seperti keinginan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إذا كان العام المقبل صمنا يوم التاسع

“Apabila tahun depan (kita masih diberi umur panjang), kita akan berpuasa pada hari tasu’a (kesembilan).” (HR. As-Suyuthi; shahih)

4. Membantu orang lain

Amalan sunnah berikutnya adalah memberikan kelapangan kepada keluarga, termasuk istri dan anak-anak, di hari asyura. Memberikan kelapangan ini maksudnya adalah membantu mereka dan menyenangkan hati mereka. Misalnya buka bersama di rumah makan, memberikan hadiah, dan sejenisnya.

مَنْ وَسَّعَ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Barangsiapa memberi kelapangan bagi dirinya dan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelapangan baginya sepanjang tahun itu” (HR. Baihaqi)

5. Menyantuni anak yatim

Dalam kitab Tanbihul Ghafilin bi-Ahaditsi Sayyidil Anbiyaa-i wal Mursalin disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“ Barangsiapa berpuasa para hari Asyura (tanggal 10) Muharram, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 pahala syuhada’. Dan baragsiapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya“.

6. Bersedekah

Rasulullah bersabda: “Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya.” (HR Baihaqi, No: 3795)

Demikian khutbah ini semoga bermanfaat. Semoga kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan bangsa kita Indonesia, dapat berhijrah kepada kebaikan dan kemuliaan. Aamiin.

   بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلُقْرءَانِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

   الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِٰلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةْ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ النَّهْضَةْ . أَمَّا بَعْدُ. أَيُّهَا النَّاسُ! أُوْصِيْكُمْ بتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ تَعَالَى مُخْبِرًا وَأٰمِرًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَبَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا إِبْراهَيْمَ فِي الْعٰلَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ…. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمْؤُمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحاَجاَتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الِإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ الِإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ. رَبَّنَا أتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّءْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا. رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا أتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهْ! إِنَّ اللهَ يَعْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاۤءِ ذِي اْلقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ اْلفَخْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمٍ يَّزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْا مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.  


Rabu, 27 Mei 2026

رزقى عليك

لبابك جئتُ فجد ياكريم
عليك تكالى ورزقي عليك
لك الملك فى كل هذا الوجود
وحاجة كل الورى فى يديك
فيا رازق الطير فى عشيه
واقدر كل نفوس لديك
عن العالمين اغنني من عطاك
يااكرم معطى واغنى مالك
والهمنى حمدك فى كل حال
يا مولاي واجعلنى من شاكرك

Aku telah datang ke pintu-Mu, maka bermurah hatilah, wahai Yang Maha Dermawan.
Kepada-Mu aku berserah diri, dan rezekiku berasal dari-MU

MilikMu kekuasaan atas seluruh wujud
Dan kebutuhan seluruh ciptaan berada di tangan-Mu.

Wahai Pemberi rezeki bagi burung-burung di senja hari,
Dan Engkau yang memiliki kekuasaan atas semua jiwa,

Berilah aku kekayaan dari karunia-Mu, tanpa bergantung pada yang lain
Wahai Sang Pemberi Yang Paling Mulia dan Sang Pemilik yang Maha Kaya

Dan ilhamilah aku untuk memuji-Mu dalam setiap keadaan.

Wahai Tuhanku, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersyukur kepada-Mu.

Rabu, 13 Mei 2026

ورد سورة ابراهيم ٣٢ - ٣٤


  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ١٩
صلوة ابراهيمية ١٩
كهيعص ١١٩
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْۚ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِى الْبَحْرِ بِاَمْرِهٖۚ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْاَنْهٰرَ ۝٣٢
وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ
وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۚ ۝٣٣
وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ ۝٣٤
٧٠ ×

Kamis, 23 April 2026

DOA SETELAH SHOLAT RINGKAS OK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
 اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَ دَوَائِهَا وَعَافِيَةِ الْأَبْدَانِ وَ شِفَائِهَا وَ نُوْرِ الْأَبْصَارِ وَ ضِيَائِهَا وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلِّمْ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَكْثُرُ بِهَا أَمْوَالُنَا، وَتَسْتَقِيْمُ بِهَا اَحْوَالُناَ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلِّمْ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُبَلِّغُنَا بِهَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَزِيَارَةَ قَبْرِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ اَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَ السَّلَامِ فِى لُطْفٍ وَعَافِيَةٍ وَسلامةٍ وَبُلُوْغِ الْمَرَامِ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلِّمْ

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، وَالتُّقَى، وَالعفَافَ، والغنَى وَحُسْنَ الخَاتِمَة
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ 

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقاً وَاسِعاً حَلَالاً طَيِباً مُبَارَكاً وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ

اللَّهُمَّ يَسِرْ لَنَا زِيَارَةَ الْمَكَةْ وَالْمَدِيْنَةْ مَعَ الصِحَةْ وَالْعاَفِيَةْ وَالسَلاَمَةَ والْقُوَّةْ والْمَؤُونَةْ والْكِفَايَةْ والسَّكِيْنَةْ بِجَاهِ سَيدِنَا مُحَمَّدٍ صَلّٰى اللّٰهُ عَليهِ وسَلَمَ سَاكِنِ الْمَدِيْنَةْ

اَللهم اجْعَلْ اَوْلَادَنَا وَتَلاَمِيْذَنَا مِنْ اَهْلِ الْعِلْمِ وَاَهْلِ الْخَيْرِ وَلَا تَجْعَلْنَا وَاِيَّاهُمْ مِنْ اَهْلِ السُّوْءِ وَاَهْلِ الضَّيْرِ . اَللهم بَارِكْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي وَاحْفَظْهُمْ وَلَاتَضُرَّهُمْ وَارْزُقْنِي بِرَّهُمْ
 
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا، وَلِجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Rabu, 11 Maret 2026

dua nikmat yg sering terlupakan

Ada banyak nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita, yang menjadikan kita tidak punya alasan untuk tidak patuh kepada-Nya. Karena dengan nikmat-Nya inilah kita dapat merasakan berbagai kesenangan, ketentraman, serta berbagai kemudahan dalam menjalani hidup ini. Bahkan Allah mengingatkan kepada kita akan banyaknya nikmat yang telah diberikan kepada kita, dengan firman-Nya:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لا تُحْصُوها إِنَّ الْإِنْسانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan jika kalian menghitung nikmat allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitung nya. Dan sesungguh nya manusia itu sangat dzalim dan banyak mengingkari nikmat nya”.(QS. Al-Nahl ayat 18)

sahabat Abdullah bin Abbas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ “

“Dari sahabat Abdullah bin Abbas bahwasannya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tidak bisa memanfaatkannya. Ialah nikmat sehat dan nikmat luang waktu.” (HR. Al-Bukhari No. 6412)

Imam Nawawi dalam kitab Riyadu al-Shalihin menjelaskan hadis ini, bahwa banyak orang yang tertipu dengan dua jenis waktu yang telah diberikan kepada mereka, yaitu nikmat kesehatan serta nikmat kesempatan. Karena banyak manusia walaupun dalam keadaan sehat, namun ia tidak mampu melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah, dan tidak mampu meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.

Kenapa ada dua nikmat yang disebut oleh Rasulullah yang kebanyakan manusia tertipu dengan adanya nikmat tersebut? Nikmat yang pertama nikmat sehat. Mestinya dalam kondisi sehat, seseorang bisa melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dengan baik, karena ia memilki kemampuan untuk melaksanakan perintah Allah yang tidak dimiliki orang yang sedang sakit.

Seseorang yang sedang tidak dianugerahi nikmat sehat dari Allah, apalagi sakitnya menjadikan ia hanya bisa berbaring di atas tempat tidurnya, maka segala kesempatan untuk beramal baik tidak akan mampu dilaksanakan oleh orang yang sedang sakit seperti ini. Karena ketika ia berkeinginan untuk shalat berjamaah ke masjid ia tidak mampu melaksanakannya, begitu juga ketika ia berkeinginan untuk menghadiri majlis ilmu, ia tidak mampu melaksanakannya karena ia hanya bisa berbaring di atas tempat tidurnya. Bahkan dalam melaksanakan shalat pun ia hanya bisa berbaring, Tidak seperti kesempatan yang dimiliki oleh orang yang sehat.

Namun pada kenyataannya tidak semua orang yang diberi nikmat sehat ini, kemudian mampu untuk beramal baik yang menjadi bekal ketika ia nanti akan kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dengan demikian, sebenarnya ia telah tertipu dengan kenikmatan itu. Bahkan dalam keadaan sehat, ia bukan hanya tidak mampu beramal baik, malah justru sebaliknya, keadaan sehat itu malah dipergunakan untuk bermaksiat kepada Allah.

Nikmat yang kedua ialah nikmat luang waktu. Banyak orang yang sedang dalam kondisi sehat, namun ia tidak mampu beramal baik karena disibukkan oleh pekerjaan dunia. Tetapi banyak juga orang yang mempunyai waktu luang, namun ia tidak bisa memanfaatkan waktu luang ini untuk diisi amal yang bermanfaat bagi dirinya, baik manfaat itu kembali pada dirinya pada saat ia masih hidup di dinia ini, maupun manfaat yang akan kembali pada dirinya pada saat ia telah kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Pelajaran yang terdapat didalam hadist :

1- ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu sempat dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. 
2- Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. 
3- Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”
4-”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki sempat yaitu waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki kesempatan, waktu luang , namun ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia nikmat sempat dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”
4- “Intinya, dunia adalah ladang beramal untuk menuai hasil di akhirat kelak. 
5- Barangsiapa yang memanfaatkan nikmat sempat dan nikmat sehat dalam rangka melakukan ketaatan, maka dialah yang akan berbahagia. Sebaliknya, barangsiapa memanfaatkan keduanya dalam maksiat, dialah yang betul-betul tertipu. 

Rabu, 25 Februari 2026

melihat orang tidak puasa

Ramadhan Fiqih Puasa: Saat Lihat Orang Tak Berpuasa secara Terang-Terangan 

 Kewajiban menjalankan ibadah puasa dapat dipastikan telah diketahui oleh semua orang yang beragam Islam bahkan orang awam sekalipun. Karena puasa pada bulan Ramadhan adalah salah satu dari rukun Islam yang wajib hukumnya diketahui oleh semua orang yang beragama Islam. Sekalipun demikian di Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragam Islam, ironis masih banyak yang belum menjalankan kewajiban ini. Kenyataan ini mudah kita temui di sekitar kita. Lantas bagaimana sikap kita jika melihat orang yang tidak menjalankan ibadah puasa, bahkan dengan terang-terangan di depan publik makan, minum dan merokok di siangnya bulan Ramadhan? 
 Sebelumnya tentu kita sepakat bahwa terang-terangan di depan publik makan, minum dan merokok di siangnya bulan Ramadhan adalah perbuatan yang tidak baik, atau dalam bahasa agama adalah kemungkaran. Sebab itu, bagi orang yang melihatnya wajib untuk amar makruf nahi mungkar terhadapnya
Melansir dari Darul Ifta Yordania, di sana disebutkan,
 ماذا يفعل من رأى شخصاً في رمضان يأكل أو يشرب عامداً، مجاهراً بفطره؟ عليه أن يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر، فإن خاف شرَّه أنكر عليه بقلبه، لكن لا يجالسه إن استطاع، وحبذا لو استعان بولي الأمر ليمنعه من ذلك 
 Artinya, "Apa yang hendak dilakukan oleh seseorang yang melihat orang lain di bulan Ramadhan sengaja dan terang-terangan makan atau minum? Jawaban: "Wajib baginya memerintahkan dengan baik dan mencegahnya dari kemungkaran yang diperbuat. Jika ia khawatir atas keburukan yang akan menimpanya, maka hatinya harus ingkar dengan perbuatan tersebut. Namun ia tidak diperbolehkan menemaninya duduk, ini pun jika ia mampu untuk melakukannya, dan ia harus mendukung jika ia memutuskan untuk meminta bantuan kepada pihak yang berwenang untuk mencegah perbuatannya tersebut." (Darul Ifta Yordania, Ahkamus Shiyam). 
 Tampaknya konsep amar ma'ruf nahi munkar di atas berdasarkan hadits Nabi dalam Shahih Muslim,  
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ 
 Artinya, ”Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya/kekuasaannya. Jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan. Jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim). 
 Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya' Ulumiddin menjelaskan dengan panjang lebar soal amar ma'ruf nahi munkar ini. Bahkan ia menuliskan dalam satu bab khusus pada jilid II kitab tersebut. Dalam kitabnya ia mengunakan redaksi hisbah (nahi munkar). Hisbah atau nahi munkar harus dilakukan secara urut, mulai tahap pertama sampai tahap kelima, tidak boleh melompat lompat. 1. Menjelaskan bahwa apa yang dilakukan adalah sebuah kemungkaran atau haram. Jika tidak berubah, kemudian 
2. memberi nasehat pelakunya dengan kata kata lembut, bukan kata-kata yang kasar. Jika belum berhasil, lanjut 
3. mencaci dan mencela pelakunya. Imam Al-Ghazali mencontohkan dengan kalimat: "Ya Jahil, Ya ahmaq, Hai orang bodoh, hai orang goblok, apa kamu tidak takut Allah?!” Jika masih belum berhasil juga, maka 
4. mencegahnya dengan paksa. Jika belum berhasil juga, maka 
5. Memberi Tindakan tegas.. Karena langkah kelima ini dapat menimbulkan perlawanan, sehingga masing-masing membutuhkan bala bantuan, dan dapat menimbulkan bentrokan fisik, maka langkah kelima ini hanya boleh dilakukan atas izin pemerintah atau pihak yang berwenang.  (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin , [Beirut, Darul Ma'rifat], Juz II, halaman 315). 

 Walhasil, sikap yang harus dilakukan saat melihat orang yang tidak menjalankan ibadah puasa, bahkan dengan terang-terangan di depan publik adalah melarangnya dengan baik sebagaimana urutan langkah-langkah yang telah dijelaskan oleh Al-Imam Al-Ghazali di atas. 
Yakni dengan menjelaskan bahwa perbuatanya itu dilarang, menasehati, mencela pelakunya dan mencegahnya dengan paksa. 
Wallahu a'lam bis shawab. 

Senin, 19 Januari 2026

Bulan Syaban

الْخُطْبَةُ الأُولَى

اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ. اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ. مُكَوِّرِ اللَّيْلِ عَلَى النَّهَارْ. تَذْكِرَةً لِأُولِى الْقُلُوْبِ وَالْأَبْصَارْ. وَتَبْصِرَةً لِّذَوِي الْأَلْبَابِ وَالْإِعْتِبَارْ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِٰلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرْ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نُوْرِ الْأَنْوَارْ. وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ الْأَطْهَارْ.

أَمَّا بَعْدُ فَيَآأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى.

Ma’asyirol muslimin, hafidho kumulloh…

Marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah swt dengan sebenar-benar taqwa, melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjahui larangan-larangan-Nya.

Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah…

Alhamdulillah, saat ini kita berada di bulan Sya’ban, yang berarti semakin dekat kita dengan bulan Ramdhan. Dinamakan Sya’ban, karena pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). Menurut pendapat lain, Sya’ban berasal dari kata Syi’b, yaitu jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan.

Posisi bulan Sya’ban yang terjepit di antara Rajab dan Ramadhan itu rupanya membuat Sya’ban kalah populer dari keduanya. Hingga Rasululloh mencap bulan ini dengan bulan yang “TERLUPAKAN”. Seperti sabda beliau:


ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ (رواه النسائي)


“(Sya’ban) ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu (terletak) antara bulan Rajab dan Ramadhan” (HR. An-Nasa’i)

Dalam kitab Ma Dza fi Sya’ban, karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menyebutkan tiga peristiwa penting, selain malam Nishfu Sya’aban, yang berimbas pada kehidupan beragama seorang Muslim:

Peralihan Kiblat
تَحْوِيْلُ القِبْلَةِ

Peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram terjadi pada bulan Sya’ban. Peralihan kiblat ini merupakan suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh Nabi Muhammad SAW. Diceritakan, bahwa Nabi Muhammad SAW berdiri menghadap langit setiap hari menunggu wahyu turun. Sampai akhirnya Allah Subhanahu Wata’ala mengabulkan penantiannya dengan menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 144:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Penyerahan Rekapitulasi Keseluruhan Amal kepada Allah
رَفعُ الأَعْماَلِ

Salah satu hal yang menjadikan bulan Sya’ban utama adalah bahwa pada bulan ini semua amal kita diserahkan kepada Allah SWT. Hingga Rasululloh senang berpuasa pada bulan ini.

 عَنْ أًسَامَةَ ابْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَب وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ (رواه النَّسَائي)


Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya menyukai amal saya diangkat, sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i).

Penurunan Ayat tentang Anjuran Shalawat untuk Rasulullah SAW
شَهْرُ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ

Pada bulan Sya’ban juga diturunkan ayat anjuran untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka tidaklah salah, bulan Sya’ban disebut dengan bulan shalawat. Karena pada bulan itulah ayat tentang anjuran shalawat diturunkan.

Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah…

Di bulan Sya’ban juga terdapat satu malam yang diagungkan, diberkahi dan dimuliakan, yaitu malam Nishfu Sya’ban atau malam 15 Sya’ban (insyaalloh, Ahad malam Senin 29 Maret 2021).

Pada malam tersebut, Allah menampakkan kepada hamba-Nya dengan maghfiroh, rohmat, mengabulkan doa, menghilangkan kesusahan, membebaskan sebagaian kelompok dari api neraka, dan menulis rizqi dan amal. Rasulallah Muhammad saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ. (أخرجه ابن ماجه)

“Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban memeriksa (melihat amalan para hamba-Nya). Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya” (HR. Ibnu Majah)


Malam Nishfu Sya’ban mempunyai sebutan yang banyak sekali. Ini menunjukkan kemuliaan malam Nishfu Sya’ban. Diantaranya:

Malam yang diberkahi اللَّيْلةُ المُبَارَكةُ
Malam pembagian rizqi dan penetapan takdir لَيْلَةُ الْقِسْمَةِ
Malam penghapusan dosa لَيْلَةُ التَّكْفِيْرِ
Di malam Nishfu Sya’ban Allah menghapus dosa setahun, di malam Jum’at menghapus dosa seminggu, dan di malam Qodr menghapus dosa seumur.

Malam diterimanya doa لَيْلَةُ الإِجَابَةِ
Ibnu Umar ra. meriwayatkan, ada lima malam yang mustajab dan diantaranya adalah malam Nishfu Sya’ban

Malam terjaga dan malam hari raya Malaikat لَيْلَةُ الحَيَاةِ ولَيْلَةُ عِيْدِ المَلَائكَةِ
Malam Nishfu Sya’ban adalah hari rayanya para malaikat dan mereka akan terjaga sepanjang malam.

Malam syafaat (pertolongan) لَيْلَةُ الشَّفَاعَةِ
Malam pembebasan dan malam pengakuan ampunan لَيْلَةُ الْبَرَائَةِ وَلَيْلَةُ الصَّكِّ
Malam pemberian hadiah لَيْلَةُ الْجَائِزَةِ
Malam ampunan لَيْلَةُ الْغُفْرَانِ
Adapun cara menghidupkan malam Nishfu Sya’ban menurut ulama’ Syam ada dua pendapat:

Disunnahkan menghidupkannya dengan memperbanyak ibadah secara berjamaah di masjid.
Dimakruhkan berkumpul menghidupkannya di masjid. Tidak makruh bila dikerjakan secara mandiri (sendiri-sendiri) di rumah. (Ma Dza fi Sya’ban)
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang tidak menyia-nyiakan kemulian bulan Sya’ban wabil khususu malam Nisgfu Sya’ban ini, meski di tengah kesibukan duniawi yang luar biasa. Aamiin

جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين. وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ. أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ: وَسَارِعُوْا اِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّموَاتُ وَالْاَرْضُ. أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ.


باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.