Sabtu, 16 Mei 2020

Keutamaan Ayat Kursi

KEUTAMAAN AYAT KURSI

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ ، وَقُلْتُ وَاللَّهِ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . قَالَ إِنِّى مُحْتَاجٌ ، وَعَلَىَّ عِيَالٌ ، وَلِى حَاجَةٌ شَدِيدَةٌ . قَالَ فَخَلَّيْتُ عَنْهُ فَأَصْبَحْتُ فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ » . قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالاً فَرَحِمْتُهُ ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ . قَالَ « أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewakilkan padaku untuk menjaga zakat Ramadhan (zakat fitrah). Lalu ada seseorang yang datang dan menumpahkan makanan dan mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Demi Allah, aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu ia berkata, “Aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku pun sangat membutuhkan ini.” Abu Hurairah berkata, “Aku membiarkannya. Lantas di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku: “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.”

فَعَرَفْتُ أَنَّهُ سَيَعُودُ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِنَّهُ سَيَعُودُ . فَرَصَدْتُهُ فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . قَالَ دَعْنِى فَإِنِّى مُحْتَاجٌ ، وَعَلَىَّ عِيَالٌ لاَ أَعُودُ ، فَرَحِمْتُهُ ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ ، فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ، مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ » . قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالاً ، فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ . قَالَ « أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ »

Aku pun tahu bahwasanya ia akan kembali sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan. Aku pun mengawasinya, ternyata ia pun datang dan menumpahkan makanan, lalu ia mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu ia berkata, “Biarkanlah aku, aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku tidak akan kembali setelah itu.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun menaruh kasihan padanya, aku membiarkannya. Lantas di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku: “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya pergi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.”

فَرَصَدْتُهُ الثَّالِثَةَ فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، وَهَذَا آخِرُ ثَلاَثِ مَرَّاتٍ أَنَّكَ تَزْعُمُ لاَ تَعُودُ ثُمَّ تَعُودُ . قَالَ دَعْنِى أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا . قُلْتُ مَا هُوَ قَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ) حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ ، فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ » . قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِى كَلِمَاتٍ ، يَنْفَعُنِى اللَّهُ بِهَا ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ . قَالَ « مَا هِىَ » . قُلْتُ قَالَ لِى إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ) وَقَالَ لِى لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ ، وَكَانُوا أَحْرَصَ شَىْءٍ عَلَى الْخَيْرِ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ » . قَالَ لاَ . قَالَ « ذَاكَ شَيْطَانٌ »

Pada hari ketiga, aku terus mengawasinya, ia pun datang dan menumpahkan makanan lalu mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sudah kali ketiga, engkau katakan tidak akan kembali namun ternyata masih kembali. Ia pun berkata, “Biarkan aku. Aku akan mengajari suatu kalimat yang akan bermanfaat untukmu.” Abu Hurairah bertanya, “Apa itu?” Ia pun menjawab, “Jika engkau hendak tidur di ranjangmu, bacalah ayat kursi ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum …‘ hingga engkau menyelesaikan ayat tersebut. Faedahnya, Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun melepaskan dirinya dan ketika pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya padaku, “Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?” Abu Hurairah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengaku bahwa ia mengajarkan suatu kalimat yang Allah beri manfaat padaku jika membacanya. Sehingga aku pun melepaskan dirinya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa kalimat tersebut?” Abu Hurairah menjawab, “Ia mengatakan padaku, jika aku hendak pergi tidur di ranjang, hendaklah membaca ayat kursi hingga selesai yaitu bacaan ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum’. Lalu ia mengatakan padaku bahwa Allah akan senantiasa menjagaku dan setan pun tidak akan mendekatimu hingga pagi hari. Dan para sahabat lebih semangat dalam melakukan kebaikan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta. Engkau tahu siapa yang bercakap denganmu sampai tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?” “Tidak”, jawab Abu Hurairah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dia adalah setan.” (HR. Bukhari)

Rabu, 13 Mei 2020

Usia Nabi Nuh

umur Nabi Nuh –‘alaihis salam- banyak mengandung hikmah dan pelajaran:

Umur beliau mencakup beberapa abad yang panjang berdakwah kepada kaumnya kepada Allah –Ta’ala- untuk menjaga mereka dari adzab Allah, dan mengharapkan bagi mereka akan rahmat-Nya, beliau tidak putus asa dan menyerah, bahkan mengharapkan agar mereka mendapatkan hidayah Allah meskipun membutuhkan waktu yang lama, umur beliau yang panjang hendaknya menjadi pelajaran penting bagi para da’i, guru dan murabbi dalam hal kesabaran, kekuatan tekad dan keimanan.

Sebagaimana juga menjadi pelajaran bagi semua manusia, agar menyadari bahwa kematian itu akan menghampirinya meskipun memiliki umur yang panjang, dan umur manusia itu hakikatnya adalah kumpulan hari-hari yang setiap harinya akan berlalu dengan terbenamnya matahari, untuk menyingkap tabir akan kesempatan ruhnya untuk mendapatkan kebahagiaan yang yang abadi di surga, maka alangkah beruntungnya jika usahanya dalam rangka untuk mendapatkan kebahagiaan, dan alangkah meruginya jika amalnya sedikit atau berlebihan.

Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dalam “az Zuhd”: 358, dengan sanadnya dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu- berkata:

جاء ملك الموت إلى نوح عليه السلام ، فقال : يا أطول النبيين عمرا ! كيف وجدت الدنيا ولذتها ؟ قال : " كرجل دخل بيتا له بابان ، فقام في وسط البيت هنيهة – القليل من الزمان - ، ثم خرج من الباب الآخر "

“Malaikat maut pernah mendatangi Nabi Nuh –‘alaihis salam- dan berkata: “Wahai Nabi yang paling panjang umurnya !, bagaimana anda mendapati dunia dan kenikmatannya ?, beliau menjawab: “Seperti seseorang yang mempunyai sebuah rumah dengan dua pintu, lalu ia berdiri di tengah rumahnya sejenak, kemudian ia keluar dari pintu yang lain”.

Seorang muslim yang bijaksana ia akan memperhatikan hal-hal yang bersifat maknawiyah dan pandai mengambil pelajaran dalam hidupnya, yang demikian itu akan mendorongnya untuk memiliki tekad yang kuat dalam beramal. Dan tidak selayaknya menyibukkan diri dengan rincian sejarah yang tidak ada penjelasannya dari wahyu, dan tidak ada sandaran dalil yang kuat dalam syari’at.

Termasuk di antaranya bertanya tentang batas umur Nabi Nuh –‘alaihis salam-.Ada banyak pendapat yang bersumber dari para ulama salaf dari kalangan para sahabat dan tabi’in, namun tidak ditetapkan langsung oleh al Qur’an maupun as sunnah untuk menentukan salah satu dari pendapat tersebut. Kami akan menyebutkan beberapa pendapat tersebut untuk tambahan pengetahuan yang tersebar dalam buku-buku ulama terdahulu:

Pendapat pertama:

Umur Nabi Nuh adalah 950 tahun, ini pendapat Qatadah yang disebutkan dalam “Tafsir Qur’an ‘Adzim” Ibnu Katsir: 6/268.

Qatadah berkata: “Dikatakan bahwa umurnya 1000 tahun dikurangi 50  tahun, beliau sudah bersama kaumnya sebelum memulai dakwahnya selama 300 tahun, masa dakwahnya 300 tahun, dan beliau masih bersama mereka pasca banjir bandang selama 350 tahun”.

Diriwayatkan juga seperti yang disebutkan di atas oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya: 18041.

Pendapat kedua:

Umur Nabi Nuh adalah 1050 tahun, pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Abbas.

Dari Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- berkata:

“Allah mengutus Nabi Nuh semenjak beliau berumur 40 tahun, dan masa dakwahnya 1000 tahun kurang 50 tahun, dan pasca banjir bandang beliau masih hidup selama 60 tahun sampai pupulasi menusia bertambah banyak dan menyebar”.

Pendapat ini disebutkan oleh as Suyuthi dalam “ad Durrul Mantsur”: 6/455, termasuk Ibnu Abi Syaibah 7/18, Abdun bin Hamid, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Abu Syeikh dan al Hakim 9/251, dan dishahihkan oleh Ibnu Mardawaih.

Pendapat ketiga:

Umur beliau 1020 tahun. Ini adalah pendapat Ka’ab al Ahbar.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam “at Tafsir”: 18043, Abu Zar’ah meriwayatkan kepada kami dari shafwan dari al Walid dari Rafi’ Ismail bin Rafi’ dari Zaid bin Aslam dari Atha’ bin Yasar dari Ka’ab Al Ahbar mengenai firman Allah:

" فلبث فيهم ألف سنة إلا خمسين عاما "

“…Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun…”. (QS. al Ankabut: 14)

Bahwa Ka’ab bin Ahbar berkata: “Beliau hidup setelah itu 70 tahun lagi”.

Pendapat keempat:

Umur Nabi Nuh –‘alaihis salam- adalah 1400 tahun, diriwayatkan dari Ibnu Abbas juga Wahab bin Munabbih. (Baca: Tafsir ql Qurthubi: 13/332)

Pendapat kelima:

Umur beliau: 1650 tahun, ini pendapat ‘Aun bin Abi Syadad.

Dari ‘Aun bin Abi Syadad berkata: “Sesungguhnya Allah –tabaraka wa ta’ala- mengutus Nabi Nuh kepada kaumnya pada saat usia beliau mencapai 153 tahun, kemudian masa dakwah beliau 1000 tahun kurang 50 tahun, setelah masa itu beliau hidup selama 153 tahun”. (HR. Ibnu Abi Hatim dalam “at Tafsir”: 18044, dan “at Thabari” dalam “Jami’ al Bayan” 20/17).

Pendapat keenam:

Umur beliau: 1700 tahun, ini adalah pendapat ‘Ikrimah.

Dari ‘Ikrimah –radhiyallahu ‘anhu- berkata:

“Bahwa umur Nabi Nuh sebelum diutus kepada kaumnya dan setelah diutusnya adalah 1700 tahun”. (Disebutkan as Suyuthi dalam “ad Durrul Manstur” 6/456 adalah dari Abdun bin Hamid)

Ibnu Katsir dalam “Tafsir Qur’an ‘Adzim” 6/268, setelah menyebutkan semua pendapat di atas: “bahwa pendapat Ibnu Abbas lebih mendekati kebenaran”.

Kedua:

Para ahli tafsir juga berbeda pendapat mengenai penggunaan kata “sanah” dan “’aam” menjadi dua pendapat:

Pendapat pertama:

“Sebagian ulama tafsir berpendapat bahwa hal tersebut hanya perbedaan dari sisi bahasa saja, karena pengulangan kata yang sama akan memberatkan pembacanya, maka yang dipakai adalah kata yang lain namun artinya sama saja; untuk memudahkan pembacanya”.

Az Zamakhsyari berkata dalam “al Kasysyaf”:

“Jika saya berkata: Kenapa “tamyiz” (istilah gramatika bahasa Arab) yang pertama dengan kata “sanah” dan yang kedua dengan kata “’aam” ?, maksudnya adalah: karena pengulangan kata yang sama dalam satu konteks pembicaraan hendaknya dihindari kalau dilihat dari sisi ilmu Balaghah, kecuali apabila pengulangan itu untuk tujuan tertentu yang digunakan oleh pembicara untuk penebalan kata, peringatan atau untuk catatan tertentu atau tujuan yang lain”.

Penjelasan yang serupa juga terdapat dalam “at Tahrir wat Tanwir”: 20/146.

Selasa, 12 Mei 2020

Wasiyatul Musthofa bab Sedekah sampai Bab Wara'

Assalamu'alaykum Wa rohmatulloh Wa barokatuh

Lanjutan kajian yang kemarin.....

Baginda Nabi Muhammad sholallohu alayhi wasallam bersabda atau berwasiat kepada Sayyidina 'Ali karromallohu wajhah.

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﺻﺪﻗﺔ ﺍﻟﺴﺮ ﺗﻄﻔﺊ ﻏﻀﺐ ﺍﻟﺮﺏ ﻭﺗﺠﻠﺐ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻭﺍﻟﺮﺯﻕ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮ، ﻭﺑﺎﻛﺮ ﺑﺎﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﺎﻥ ﺍﻟﺒﻼﺀ ﻳﻨﺰﻝ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺒﻜﻮﺭ ﻓﺘﺮﺩ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻬﻮﺍﺀ

"Wahai 'Ali, sedekah yang dilakukan dengan cara tersembunyi akan memadamkan kemurkaan Alloh, dan akan mendatangkan keberkahan serta rizqi yang melimpah, bersegeralah untuk bersedekah sebelum datangnya waktu pagi, karena sesungguhnya bala'akan datang sebelum pagi, sehingga pahala sedekah itu akan dapat menolak Qodho bala yang diturunkan tersebut di udara"
Maksudnya adalah, jika telah ditetapkan oleh Alloh suatu bala' kepada seseorang, maka pahala sedekah akan membatalkan ketetapan bala' tersebut, sehingga terhindarlah orang itu dari bala' yang akan ditimpakan kepadanya.
Oleh karena itu Yuk perbanyak sedekah untuk menolak bala yang akan menimpa kita, khususnya sedekah jariyah kepada Masjid atau lainnya, lebih-lebih sedekah kepada Majelis Ta'lim yang insya Alloh penuh barokah ini,

ﻳﺎﻋﻠﻲ : ﺇﺫﺍ ﺗﺼﺪﻗﺖ ﻓﺘﺼﺪﻕ ﺑﺎﺣﺴﻦ ﻣﺎﻋﻨﺪﻙ، ﻓﺎﻥ ﺻﺪﻗﺔ ﻟﻘﻤﺔ ﻣﻦ ﺣﻼﻝ ﺍﺣﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻣﺎﺋﺔ ﻣﺜﻘﺎﻝ ﻣﻦ ﺣﺮﺍﻡ ﻭﺻﺪﻗﺔ ﺗﻘﺪﻣﻬﺎ ﻗﺒﻞ ﻣﻮﺗﻚ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﻣﺎﺋﺔ ﻣﺜﻘﺎﻝ ﻳﺘﺼﺪﻗﻮﻥ ﺑﻬﺎ ﺑﻊ ﻣﻮﺗﻚ، ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻮﻡ ﻳﻨﻈﺮ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﻣﺎﻗﺪﻣﺖ ﻳﺪﺍﻩ

"Wahai 'Ali, apabila engkau hendak bersedekah, maka bersedekahlah dengan sesuatu yang terbaik dari apa yang engkau miliki, ketahuilah bahwa sesungguhnya menyedekahkan seuap makanan dari yang halal, adalah lebih disukai oleh Alloh daripada menyedekahkan sebanyak 100 mistqol dari sesuatu yang haram, dan sedekah yang engkau infaqkan sendiri dimasa hayatmu (hidupmu), adalah lebih bernilai bagimu daripada 100 mistqol dari harta peninggalanmu yang disedekahkan oleh ahli waritsmu yang pahalanya dihadiahkan untukmu setelah kematianmu.
Alloh ta'ala berfirman : (Pada hari dimana seseorang akan melihat apa yang telah dikemukakan oleh tangannya)"

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﺗﺼﺪﻕ ﻋﻠﻰ ﻣﻮﺗﺎﻙ ﻓﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻗﺪ ﻭﻛﻞ ﻣﻼﺋﻜﺔ ﻳﺤﻤﻠﻮﻥ ﺻﺪﻗﺎﺕ ﺍﻻﺣﻴﺎﺀ ﺍﻟﻴﻬﻢ ﻓﻴﻔﺮﺣﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ؛ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻤﻦ ﻧﻮﺭ ﻗﺒﺮﻧﺎ ﻭﺑﺸﺮﻩ ﺑﺎﻟﺠﻨﺔ ﻛﻤﺎ ﺑﺸﺮﻧﺎ ﺑﻬﺎ

"Wahai 'Ali, bersedekahlah untuk saudara"mu yang telah meninggal dunia, ketahuilah sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa ta'alaa mewakilkan satu malaikat untuk membawakan dan menyampaikan pahala suatu amal yang dilakukan oleh orang" yang masih hidup yanf pahalnya disedekahkan kepada orang" yang sudah mati, adapun kegembiraan mereka (orang" yang sudah mati) ketika menerima pahala sedekah darimu, melebihi kegembiraan mereka seandainya mereka menerima sesuatu pemberian darimu pada masa hidupnya didunia, dan ketika itulah mereka berdo'a kepada Alloh ( Ya Alloh, berikanlah ampunanMu bagi orang" yang telah menerangi kubur kami, dan gembirakanlah mereka dengan surga, sebagaimana mereka telah menggembirakan kami dengannya)

Masih ingatkah kita kepada orang tua kita yang telah mendahului kita..?
Masih seringkah kita mengirimi fatihah kepadanya..?
Pernahkah kita bersedekah demi mereka..?
Semoga menjadi renungan bagi kita semua, dan senantiasa ingat akan jasa para orang tua kita, dan guru-guru kita Aamin.

Washiat baginda Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam kepada Sayyidina 'Ali karromallohu wajhah.

ﻳﺎﻋﻠﻲ : ﺇﻋﻤﻞ ﺧﺎﻟﺼﺎ ﻟﻠﻪ ﻓﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻﻳﻘﺒﻞ ﺍﻻ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﺧﺎﻟﺼﺎ ﻟﻮﺟﻬﻪ، ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ؛ ﻓﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﻳﺮﺟﻮ ﻟﻘﺎﺀ ﺭﺑﻪ ﻓﻠﻴﻌﻤﻞ ﻋﻤﻼ ﺻﺎﻟﺤﺎ ﻭﻻ ﻳﺸﺮﻙ ﺑﻌﺒﺎﺩﺓ ﺭﺑﻪ ﺃﺣﺪﺍ .

"Wahai 'Ali, beramallah dengan setulus hatimu semata" karena Alloh Subhanahu Wa ta'alaa, sebab sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa ta'alaa tidak mau menerima sesuatu amal terkecuali hanya dari orang" yang melakukannya dengan setulus hati mereka (ikhlas) hanya demi untuk memperoleh keridhoannya, Alloh Subhanahu Wa ta'alaa berfirman (Barangsiapa mendambakan berjumpa dengan tuhannya, maka berbuatlah amal yang baik dan tidak disertai dengan tujuan tertentu karena seseorang).

HAKIKAT IKHLAS.

KH. Dr. A. Musthofa Bisri
Kami, aku dan kakakku Kiai Cholil Bisri, mendengar dari guru kami Syeikh Yasin Al-Fadani dan ayah kami Kiai Bisri Mustofa Rohimahumulloh, masing" berkata :
Aku bertanya kepada Sayyid Guru Umar Hamdan tentang hakekat IKHLAS, dan beliau pun berkata :
(Aku pernah bertanya kepada guruku Syeikh Sayyid Muhammad Ali Al-Witri tentang hal itu dan beliau berkata,
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada guruku Syeikh Abdul Ghani Al-Mujaddidi, beliau berkata :
Aku pernah bertanya kepada guruku Syeikh Muhammad Abid As-Sindi Al-Anshari, beliau berkata:
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Shiddiq bin Ali Al-Mizjaji, beliau berkata :
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada ayahku, beliau berkata:
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Hasan Al-Ujaimi, beliau berkata:
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Ahmad al-Qasysyasyi, beliau berkata:
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Ahmad Syanaawi, beliau berkata :
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada ayahku Syeikh Ali Asy-Syanaawi, dan beliau berkata :
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya'roni dan beliau berkata :
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Al-Haafizh Jalaluddin As-Suyuthi, beliau berkata :
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada A'isyah binti Jaarulloh bin Sholeh Ath-Thobari, beliau berkata :
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Ibrohim bin Muhammad bin Shiddiq dan beliau berkata :
Aku bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Abul Abbas Al-Hajjar dan beliau berkata :
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Jakfar Ibn Ali AL-Hamdani, beliau berkata :
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Abul Qasim bin Basykual, beliau berkata : Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Qodhi Abu Bakar bin aL-'Arobi, beliau berkata :
Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ismail bin Muhammad Al-Fadhol Al-Ashbihani, beliau berkata :
Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Abu Bakar bin Ahmad bin Ali bin Kholaf dan beliau berkata :
Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Abdurrohman Al-Baihaqi dan beliau berkata :
Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Sa'id Ats-Tsaghrai dan Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Zakaria dan beliau berdua berkata :
Kami pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Ibrahim Asy-Syaqiqi dan beliau berkata:
Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Abu Ya'qub Asy-Syaruthi, beliau berkata :
Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh AHmad bin Ghassan dan beliau berkata :
Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad bin 'Atha' Al-Hujaimi, beliau berkata :
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Abdul Wahid bin Zaid dan beliau berkata :
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Imam Hasan Al-Bashari, beliau menjawab,
Aku pernah bertanya kepada shahabat Hudzaifah Rodhiyallohu Anhu, beliau menjawab :
Aku pernah bertanya kepada Rosululloh Sholallohu alayhi wasallam ikhlas itu apa, beliau menjawab :
Aku pernah menanyakan tentang ikhlas itu kepada malaikat Jibril alayhissalam dan beliau menjawab :
Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Alloh Robbul 'Izzaah, dan IA menjawab :
"IKHLAS ialah RAHASIA di antara rahasia-rahasiaku yang kuitipkan di hati hambaku yang aku cintai"

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﻋﻠﻴﻚ ﺑﺎﻟﺪﻋﺎﺀ ﺑﻴﻦ ﺍﻻﺫﺍﻥ ﻭﺍﻻﻗﺎﻣﺔ ﻓﺎﻧﻪ ﻻﻳﺮﺩ

"Wahai 'Ali, Lazimkanlah berdo'a pada saat antara Adzan dan Iqomah, karena sesungguhnya (do' diantara adzan dan iqomah) tidak akan ditolak (pasti diterima)

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﺇﺫﺍ ﺩﻋﻮﺕ ﻓﺎﺑﺴﻂ ﻳﺪﻙ ﺣﺬﻭ ﻭﺻﺪﺭﻙ ﻭﻻﺗﺮﻓﻌﻬﺎ ﻓﻮﻕ ﺭﺃﺳﻚ ﻭﺗﺸﻴﺮ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﺴﺒﺎ ﺑﻴﺘﻚ ﺍﻟﻴﻤﻨﻰ

"Wahai 'Ali, apabila engkau berdo'a, maka ulurkanlah (angkatlah) tanganmu setinggi dadamu dan janganlah engkau mengangkatnya lebih tinggi dari kepalamu, dan berilah isyarat kepada Alloh Subhanahu Wa ta'alaa dengan jari telunjukmu yang kanan"
Guru saya (Kh Aminul Hadi Nawawi Akrom) berkata : Isyarat dengan jari telunjuk adalah untuk menekankan bahwasannya Alloh itu maha Satu, atau bentuk isyarat persaksian.

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﻻﺗﺠﻬﺮ ﺑﻘﺮﺍﺋﺘﻚ ﻭﻻﺑﺪﻋﺎﺋﻚ ﺣﻴﺚ ﻳﺼﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻓﺎﻥ ﺫﺍﻟﻚ ﻳﻔﺴﺪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺻﻼﺗﻬﻢ

"Wahai 'Ali, janganlah engakau mengeraskan suaramu ketika engkau membaca Al-Qur'an atau berdo'a, selagi didekatmu ada orang yang sedang Sholat, karena hal itu dapat mengganggu sholat mereka"

ﻳﺎﻋﻠﻲ ﻣﻦ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﻭﻗﺒﻞ ﻃﻠﻮﻉ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﻗﺒﻞ ﻏﺮﻭﺑﻬﺎ ﺇﺳﺘﺨﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻌﺬﺑﻪ ﺑﺎﻟﻨﺎﺭ

"Wahai 'Ali, barang siapa yang mengingat Alloh (berdzikir) pada saat sebelum fajar menyingsing (sepertiga malam) dan pada saat sebelum matahari meninggi (waktu dhuha) dan pada saat sebelum terbenamnya (menjelang maghrib), maka Alloh Subhanahu Wa ta'alaa malu untuk mengadzabnya dengan api neraka"

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﺇﺫﺍ ﺻﻠﻴﺖ ﻓﺎﻗﻌﺪ ﻣﻜﺎﻧﻚ ﺣﺖ ﺗﻄﻠﻊ ﺍﻟﺸﻤﺲ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻜﺘﺐ ﻟﻤﻦ ﻳﺠﻠﺲ ﻣﻜﺎﻧﻪ ﺣﺠﺔ ﻭﻋﻤﺮﺓ ﺃﻭﻋﺘﻖ ﺭﻗﺒﺔ ﺃﻭ ﺻﺪﻗﺔ ﺃﻟﻒ ﺩﻳﻨﺎﺭ ﻓﻲ ﺳﺒﻴــــــــﻞ ﺍﻟﻠــــــﻪ .

"Wahai 'Ali, apabila engkau telah selesai menunaikan sholat (subuh), maka janganlah engkau langsung beranjak dari tempat sholatmu sebelum matahari terbit, karena sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa ta'alaa mencatatkan baginya (orang yang tidak beranjak dari sholat subuhnya sampai matahari terbit) suatu pahala yang sama seperti pahala seorang yang menunaikan Haji dan Umroh, atau memerdekakan budak, atau menyedekahkan 1000 dinar dijalan Alloh"

ﻳﺎﻋﻠﻲ : ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﺧﻤﺴﺔ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻣﺮﺓ ‏( ﺃﺳﺘﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﻟﻲ ﻭﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻱ ﻭﻟﺠﻤﻴﻊ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤﺴﻠﻤﺎﺕ ﻭﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤﺆﻣﻨـــــﺎﺕ ﺍﻻﺣﻴﺎﺀ ﻣﻨﻬﻢ ﻭﺍﻻﻣﻮﺍﺕ ‏) ﻛﺘﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﻴﺎﺋﻪ .

"Wahai 'Ali, barang siapa yang membaca setiap hari sebanyak 25x
(Astaghfirullohal 'Adzim Li Waliwalidayya Walijami'il Muslimina Wal Muslimat Walmu'minina Walmu'minati Al-Ahya,i Minhum Wal Amwat)
Maka Alloh Subhanahu Wa ta'alaa mencatat (menjadikan) ia salah satu dari para Kekasih Alloh".

Bab keutamaan dzikir, do'a & sholawat, yang diwasiatkan oleh Baginda Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam kepada Sayyidina 'Ali karromallohu Wajhah.
Semoga kita semua dapat mengamalkannya Aamiin.

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻋﺸﺮ ﻣﺮﺍﺕ ‏( ﻻﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺒﻞ ﻛﻞ ﺍﺣﺪ، ﻻﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻌﺪ ﻛﻞ ﺍﺣﺪ، ﻻﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺒﻘﻰ ﺭﺑﻨﺎ ﻭﻳﻔﻨﻰ ﻛﻞ ﺍﺣﺪ ‏) ﻟﻢ ﻳﺒﻖ ﻣﻠﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﺍﻻ ﺍﺳﺘﻐﻔﺮ ﻟﻪ . 

"Wahai 'Ali, barangsiapa yang membaca setiap hari 10x kalimat :
(Laa ilaha Illallohu qobla kulli ahadin, Laa Ilaha Illallohu ba'da kulli ahadin, Laa Ilaha Illallohu yabqo robbuna wa yafna kullu ahadin)
•Tiada Tuhan selain Alloh, sebelum ada semua orang, Tiada Tuhan selain Alloh, sesudah ada semua orang, tiada Tuhan selain Alloh, tetap kekal Tuhan kami dan akan punah setiap orang•
Maka tidak ada satu malaikatpun yang tertinggal dari seluruh malaikat yang berada disemua petala langit, melainkan kesemuanya memintakan ampunan kepada Alloh Subhanahu Wa ta'alaa untuk orang itu)

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ‏( ﺃﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻟﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻭﻓﻴﻤﺎ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻤﻮﺕ ‏) ﻟﻢ ﻳﺤﺎﺳﺒﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻤﺎ ﻓﻌﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ، ﻭﻣﻦ ﻛﺒﺮ ﻣﺎﺋﺔ ﻣﺮﺓ ﻗﺒﻞ ﻃﻠﻮﻉ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﻣﺎﺋﺔ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻐﺮﻭﺏ، ﻛﺘﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﺛﻮﺍﺏ ﻣﺎﺋﺔ ﻋﺎﺑﺪ ﻭﻣﺎﺋﺔ ﻣﺠﺎﻫﺪ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻭﻣﻦ ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﺃﻭ ﻟﻴﻠﺔ ﻣﺎﺋﺔ ﻣﺮﺓ ﻭﺟﺒﺖ ﻟﻪ ﺷﻔﺎﻋﺘﻲ، ﺓﻛﺜﺮﺓ ﺍﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﺣﺼﻦ ﻟﻠﺘﺎﺋﺒﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ

"Wahai 'Ali, barangsiapa yang membaca setiap hari kalimat :
(Allohumma baarik lii fil mauti, wa fima ba'dal mauti)
•Ya Alloh berkatilah aku pada saat kematian dan berkatilah aku pada saat sesudah kematian•
Maka Alloh Subhanahu Wa ta'alaa tidak akan mempersoalkannya mengenai segala sesuatu yang telah diperbuatnya semasa hidupnya di dunia.
Dan barang siapa yang membaca kalimat takbir (Allohu Akbar) 100x sebelum matahari terbit dan 100x pula sebelum matahari terbenam, maka Alloh Subhanahu Wa ta'alaa memberikan kepadanya pahala sebanyak yang diberikanNya kepada seratus orang Ahli Ibadah, dan sebanyak pahala yang diberikan kepada seratus orang pejuang dijalan Alloh.
Dan barang siapa yang bersholawat kepadaku pada setiap siang hari atau setiap malam sebanyak 100x, maka wajiblah atasnya untuk menerima Syafa'at dariku.
Ketahuilah juga olehmu bahwa banyak beristighfar akan menjadi pembenteng bagi orang" yang bertaubat dari api Neraka"

Washiat Nabi kepada Sayyidina 'Ali Karromallohu Wajhah yang ke 50-53 masalah Sahabat Sejati.
Semoga kita semua bisa mengambil manfaat dari kajian rutin ini mulai dari Bag pertama sampai saat ini, dan semoga Alloh Subhanahu Wa ta'alaa tetap memberikan kesehatan serta keistiqomahan kepada saya, agar senantiasa bisa menulis kajian-kajian yang Insya Alloh bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi diri pribadi Al-faqir Aamiin Allohumma Aamiin.
Baik kajian kali ini akan saya mulai, dengan ucapan Basmalah (Bismillahir Rohmanir Rohim)

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﺑﺌﺲ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻘﺼﺮ ﻓﻲ ﺻﺪﻳﻘﻪ ﻭﻳﻔﺸﻲ ﺳﺮﻩ

"Wahai 'Ali, teman yang terburuk adalah, seseorang yang berlaku sungkan terhadap temannya serta membeberkan rahasia temannya kepada orang lain"
Maksud hadits diatas adalah, seorang yang paling buruk akhlaqnya adalah teman yang enggan untuk menegur tatkala kita salah, teman yang enggan menasehati tatkala kita keliru, namun justru ia membeberkan kesalahan dan kekeliruan kita kepada orang lain.

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﺍﻟﻒ ﺻﺪﻳﻖ ﻗﻠﻴﻞ، ﻭﻋﺪﻭ ﻭﺍﺣﺪ ﻛﺜﻴﺮ

"Wahai 'Ali, seribu kawan itu terlalu sedikit, namun satu orang musuh saja itu terlalu banyak"

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﻟﻠﺼﺪﺍﻗﺔ ﻋﻼﻣﺎﺕ، ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻣﺎﻟﻪ ﺩﻭﻥ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﻧﻔﺴﻪ ﺩﻭﻥ ﻧﻔﺴﻚ ﻭﻋﺮﺿﻪ ﺩﻭﻥ ﻋﺮﺿﻚ

"Wahai 'Ali, bagi suatu ikatan (sahabat) yang sejati terdapat ciri"nya, yaitu dia lebih mementingkan untuk kepentinganmu daripada kepentingan dirinya, dia lebih mementingkan keselamatan dirimu daripada keselamatan dirinya, dia lebih mementingkan kehormatanmu daripada kehormatan dirinya"
Maksudnya adalah : Dalam sebuah ikatan sahabat yang sejati ialah keduanya (masing" dari kedua belah pihak) lebih saling mengutamakan kepentingan sahabat sejatinya daripada untuk kepentingan dirinya sendiri.
Sooo jangan sampai salah dalam memilih sahabat.

 ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﻻﺗﻮﺑﺔ ﻟﻠﺘﺎﺋﺐ ﺣﺘﻰ ﻳﻐﺴﻞ ﺑﻄﻨﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﺑﻄﻴﺐ ﻛﺴﺒﻪ

"Wahai 'Ali, tidak ada artinya bagi taubat seseorang yang bertaubat, sampai dia betul-betul membersihkan perutnya dari segala yang haram dengan usaha yang baik"
Artinya, percuma bertaubat bila dirinya masih suka memakan makanan harom.

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺗﻘﻴﺎ ﻇﻠﺖ ﻣﻮﻋﻈﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﻗﻠﻮﺑﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻛﻤﺎ ﻳﻀﻞ ﺍﻟﻘﻄﺮ ﻋﻠﻰ ﺑﻴﺾ ﺍﻟﻨﻌﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﻔﺎ

"Wahai 'Ali, apabila seorang Alim tidak nenjadi seorang bertaqwa, maka nasehat yang disampaikannya tidak akan berbekas dihati manusia, seperti tidak berbekasnya tetesan air yang menetes keatas telur burung onta atau menetes dibukit sofa.

ﻳﺎﻋﻠﻲ : ﺇﺫﺍ ﻣﻀﻰ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺃﺭﺑﻌﻮﻥ ﺻﺒﺎﺣﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻗﺴﻰ ﻗﻠﺒﻪ ﻭﺟﺴﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﺒﺎﺋﺮ ﻻﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺧﻴﺎﺓ ﺍﻟﻘﻠﺐ

"Wahai 'Ali, apabila berlalu 40 hari atas diri seorang mukmin tanpa berkumpul dengan ulama maka mengeraslag hatinya dan dia akan terperosok kedalam lembah" Dosa besar, karena Ilmu adalag sumber bagi kehidupan hati.

Pada Hadits atau washiat Nabi kepada Sayyidina 'Ali karromallohu wajhah yang ke 62.

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﻻﺩﻳﻦ ﻟﻤﻦ ﻻﺧﺸﻴﺔ ﻟﻪ، ﻭﻻ ﻋﻘﻞ ﻟﻤﻦ ﻻ ﻋﺼﻤﺔ ﻟﻪ، ﻭﻻ ﺇﻳﻤﺎﻥ ﻟﻤﻦ ﻻ ﻭﺭﻉ ﻟﻪ، ﻭﻻ ﻋﺒﺎﺩﺓ ﻟﻤﻦ ﻻ ﻋﻠﻢ ﻟﻪ، ﻭﻻ ﻣﺮﻭﺀﺓ ﻟﻤﻦ ﻻ ﺻﺪﻗﺔ ﻟﻪ، ﻭﻻ ﺍﻣﺎﻥ ﻟﻤﻦ ﻻ ﺳﺮ ﻟﻪ، ﻭﻻ ﺗﻮﺑﺔ ﻟﻤﻦ ﻻ ﺗﻮﻓﻴﻖ ﻟﻪ، ﻭﻻ ﺳﺨﺎﺀ ﻟﻤﻦ ﻻ ﺣﻴﺎﺀ ﻟﻪ .

"Wahai 'Ali, tidak ada agama bagi orang yang tidak ada rasa takut baginya, tidak ada akal bagi orang yang tidak mempunyai pegangan hidupnya, tidak ada iman bagi orang yang tidak hati" dalam segala sikapnya, tidak ada nilai suatu ibadah bagi orang yang tidak mempunyai ilmu tentang ibadahnya, tidak ada perikemanusiaan bagi orang yang tidak mempunyai rasa persahabatan pada dirinya, tidak ada yang dapat dipercayakan kepada orang yang tidak ada sesuatu yang dirahasiakannya, tidak ada taubat bagi orang yang tidak ada taufiq baginya dan tidak ada keluhuran jiwa bagi orang yang tidak mempunyai rasa malu.
Maksudnya.
1- Tidak ada agama bagi orang yang tidak mempunyai rasa takut baginya : Seseorang bisa memilih dan memeluk atau menganut sebuah agama karena didalam hatinya ada rasa takut terhadap ketentuan yang dilahirkan oleh 'agama tersebut, oleh karenanya seorang Atheis tak beragama lantaran dalam dirinya sudah tidak ada rasa takut.
2- Tidak ada akal bagi orang yang tidak mempunyai pegangan hidupnya : Orang yang tidak mempunyai akal dia tidak akan mempunyai pegangan dalam hidupnya tidak bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil mana yang halal dan mana yang harom, dan tidak bisa memilih jalan untuk kehidupannya.
3- Tidak ada iman bagi orang yang tidak berhati" dalam setiap sikapnya : Orang yang beriman tentu dia akan sangat hati' terhadap apa yang akan dia lakukan, sebab ia merasa semua yang dilakukannya tidak lepas dari pengawasan Tuhan.
4- tidak ada nilai suatu ibadah bagi orang yang tidak memiliki Ilmu dalam peribadatannya : Orang yang melakukan Ibadah yang tidak mengerti syarat sah dan rukunnya, maka Ibadah yang dilakukan adalah sia sia..
5 : Tidak ada perikemanusiaan bagi orang yang tidak memiliki rasa persahabatan pada dirinya : Orang yang cuek bebek atau yang maunya hidup sendiri ia cendrung mempunyai sifat masa bodoh dengan yang lain.
6- Tidak ada taubat bagi orang yang tidak ada taufiq baginya.
7- Tidak ada keluhuran jiwa bagi orang yang tidak memilikk rasa malu.

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻭﺭﻋﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﻲ ﻓﺒﻄﻦ ﺍﻻﺭﺽ ﺧﻴﺮ ﻟﻪ ﻣﻦ ﻇﻬﺮﻫﺎ ﻻﻧﻪ ﻻ ﺍﻳﻤﺎﻥ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ

"Wahai 'Ali, barang siapa yang tidak bisa menjaga dirinya dari ma'siat, maka perut bumi lebih baik baginya daripada permukaannya, dikarenakan tidak ada Iman didalam hatinya.
Artinya : Orang yang tidak bisa menjauhi ma'siat atau orang yang tidak mempunyai iman dalam hatinya maka mati baginya lebih utama daripada hidup.

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﺍﺻﻞ ﺍﻟﻮﺭﻉ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﻭﻣﺎ ﺣﺮﻡ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﺭﺃﺱ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ ﻓﻲ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﻲ

"Wahai 'Ali, pangkal waro' adalah meninggalkan segala yang haram (dalam bentuk perbuatan) dan segala yang diharamkan oleh Alloh (dalam bentuk makanan serta cara memperolehnya), adapun pangkal kemuliaan adalag terletak pada meninggalkan ma'siat.

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﺍﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﻴﺒﻠﻎ ﺑﺎﻟﺨﻠﻖ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺩﺭﺟﺔ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﺍﻟﻘﺎﺋﻢ ﺍﻟﻤﻐﺎﺯﻱ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ .

"Wahai 'Ali, dengan berakhlaq baik, seseorang akan dapat mencapai derajat orang yang berpuasa dengan senantiasa bangun malam untuk Ibadah sambil melakukan perjuangan dimedan peperangan dijalan Alloh Subhanahu Wa ta'alaa (Fisabilillah)
Maksudnya : Seseorang yang mempunyai Akhlaqul Karimah atau memliki sifat sopan santun terhadap sesama, terhadap yang lebih tua, terhadap orang tua, terhadap guru dan kerabatnya maka derajatnya Alloh angkat seperti derajatnya orang yang sedang puasa rajin qiyamul lail dan perang dijalan Alloh.
Betapa utama dan mulianya orang yang mempunyai Akhlaqul karimah, sampai sampai derajatnya begitu tinggi dimata Alloh Subhanahu Wa ta'alaa.
Berikut kami kutip terjemah kitab Bidayatul Hidayah tentang Adab/Akhlaq kepada
Adab Bergaul
Ketahuilah bahwa ‘sahabatmu’ yang tak pernah berpisah denganmu entah dalam keadaan diam, bepergian, tidur, diam, bahkan dalam hidup dan matimu adalah Tuhan Penciptamu. Selama engkau mengingatNya, niscaya Dia menjadi ‘Teman dudukmu’. Sebab, Alloh Subhanahu Wa ta'alaa berkata, “Aku adalah teman duduk bagi orang yang berzikir pada-Ku.” Selama hatimu sedih karena tak mampu menunaikan kewajiban agamamu, maka Dia senantiasa menyertaimu. Sebab Alloh Subhanahu Wa ta'alaa berkata, “Aku berada bersama mereka yang hatinya sedih karena-Ku.” Apabila engkau betul-betul mengenali-Nya, niscaya engkau akan menjadikan-Nya sebagai ‘sahabat’ dan niscaya engkau akan meninggalkan yang lainnya. Jika engkau tak mampu melaksanakan hal itu setiap waktu, maka engkau harus menyediakan waktu di malam dan di siang hari untuk kau pergunakan berkhalwat bersama Tuhan dan merasakan kenikmatan bermunajat kepada-Nya. Berkenaan dengan hal itu, engkau harus mengetahui adab-adab menjalin hubungan dengan Tuhan. Yaitu, menundukkan kepala, menjaga pandangan mata, mengkonsen­trasikan pikiran, senantiasa diam, menenangkan anggota badan, segera mengerjakan perintah, meninggalkan larangan, tidak menolak takdir, senantiasa berzikir dan berpikir, mengutamakan yang hak atas yang batil, putus asa dari makhluk, tunduk dengan perasaan hormat, risau diliputi oleh rasa malu, tenang dalam berusaha ka­rena yakin atas jaminan-Nya, bertawakal kepada karunia Allah Swt. Semua ini harus menjadi karaktermu sepanjang siang dan malam. Itulah adab menjalin hubungan dengan ‘Teman yang tak pernah berpisah denganmu.’ Adapun semua makhluk, dalam waktu tertentu akan berpisah denganmu.
01. Adab Seorang Alim (Guru)
Jika engkau seorang alim, maka adab yang kau harus kau perhatikan adalah sabar, selalu santun, duduk dengan wibawa disertai kepala yang tunduk, tidak takabur terhadap semua hamba kecuali pada mereka yang lalim dengan tujuan menghapus kelalimannya, bersikap tawadu dalam setiap majelis dan pertemuan, tidak bersenda gurau, menyayangi murid, berhati-hati terhadap orang yang sombong, memperbaiki negeri dengan cara yang baik dan tidak marah, tidak malu untuk mengaku tidak tahu, memperhatikan pertanyaan si penanya dan berusaha memahami pertanyaannya, mau menerima hu­jah dan mengikuti yang benar dengan kembali kepadanya manakala ia salah, melarang murid mempelajari ilmu yang berbahaya dan mengingatkannya agar tidak menuntut ilmu untuk selain rida Alloh Swt, melarang murid sibuk dengan hal-hal yang bersifat fardu kifayah sebelum menyelesaikan yang fardu ain (yang termasuk fardu ain adalah memperbaiki yang lahir dan batinnya dengan takwa) serta membekali dirinya terlebih dahulu dengan sikap takwa tersebut agar sang murid bisa mencontoh amalnya, kemudian mengambil manfaat dari ucapannya.
02. Adab Seorang Murid
Jika engkau seorang murid, maka adab yang harus dimiliki oleh seorang murid terhadap gurunya adalah mendahuluinya dalam memberi hormat dan salam, tidak banyak berbicara di hadapannya, tidak mengatakan apa yang tak ditanya oleh gurunya, tidak bertanya sebelum diberi izin, tidak mengungkapkan sesuatu yang bertentangan dengan ucapannya, misalnya dengan ber- kata, “Pendapat si fulan berbeda dengan dengan ucapanmu”, tidak menunjuk sesuatu yang berseberangan dengan pendapatnya sehingga terlihat ia lebih tahu tentang yang benar daripada gurunya, tidak bertanya kepada teman duduk gurunya dalam majelisnya, tidak menoleh ke sekitarnya, melainkan ia harus duduk dengan menundukkan pandangan disertai sikap tenang dan etika sebagaimana ketika menunaikan salat. Murid juga tak boleh banyak bertanya ketika guru sedang bosan. Jika guru berdiri maka sang murid juga harus berdiri untuknya, tidak diikuti dengan pembicaraan dan pertanyaan, tidak bertanya kepadanya dalam perjalanan menuju rumah.
Tidak berburuk sangka pada perbuatan-perbuatan yang secara lahiriah tidak bisa diterima, karena ia lebih mengetahui rahasia dibalik itu semua. Sehubungan dengan hal itu perhatikan pertanyaan Musa a.s kepada Nabi Khidir alayhissalam
“apakah engkau sengaja melubangi perahu itu untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh kamu telah melakukan kesalahan yang besar”(Q.S al-Kahfi: 71)
Ia salah dalam menyikapi perbuatan Nabi Khidir alayhissalam karena bersandar pada apa yang tampak secara lahir.

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﻛﻦ ﺑﺸﺎﺷﺎ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺤﺐ ﺍﻟﺒﺸﺎﺷﻴﻦ ﻭﻳﺒﻐﺾ ﺍﻟﻌﺒﻮﺱ ﺍﻟﻜﺮﻳﻪ ﺍﻟﻮﺟﻪ

"Wahai 'Ali, jadikanlah dirimu seorang yang bermuka senyum
smile emotikon , sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa ta'alaa menyukai orang yang bermuka senyum smile emotikon dan membenci orang yang bermuka cemberut lagi masam  "
Akhir zaman kebanyakan manusia sudah nafsi", bertemu dengan tetangga masa bodoh tidak mau tegur sapa apalagi senyum, semuanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memperdulikan orang sekitarnya.
Padahal diantara salah satu ajaran Nabi yang paling mudah dilakukan adalah senyum.
Rosululloh SAW adalah orang yang senantiasa menebar senyum. Sayangnya, kita yang hidup di zaman sekarang ini sering menganggap remeh masalah senyum ini.
Didalam kitab yang lain Rosululloh Sholallohu alayhi wasallam melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Dzarr al-Ghifari Rodhiyallohu Anhu mengatakan :

ﻻﺗﺤﻘﺮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﺷﻴﺌﺎ، ﻭﻟﻮ ﺃﻥ ﺗﻠﻘﻰ ﺃﺧﺎﻙ ﺑﻮﺟﻪ ﻃﻠﻴﻖ . ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ .

Jangan sekali" engkau meremehkan perbuatan baik sekecil apapun, meskipun perbuatan itu berupa engkau menemui saudaramu dengan wajah yang ceria (dengan senyum) (HR. Muslim)
Wajah ceria dan senyuman yang mengembang dari bibir ketika menemui saudara kita, sesungguhnya merupakan amalan yang sepele dan amat mudah dilakukan. Orang muslim itu, diantara ciri dan karakteristiknya adalah apabila bertemu dengan saudaranya ia akan mengucapkan salam dan berjabat tangan yang diiringi dengan tebaran senyum. Inilah tegur sapa ala Islam, dan inilah akhlak kaum muslimin.
Tetapi, rupa"nya banyak orang yang tidak mampu melakukannya. Jangankan senyum, menjabat tangan saudaranya saja terkadang tidak mau. Ada orang yang karena dihinggapi gengsi dan perasaan bahwa dirinya lebih hebat dari orang lain, ia enggan bertegur sapa dengan saudaranya sendiri, apalagi memberinya senyuman manis.
Seorang atasan tidak mau tersenyum ketika bertemu bawahannya, Pejabat enggan tersenyum ketika ditemui rakyatnya, Guru merasa tidak perlu tersenyum kepada murid"nya. Orang kaya begitu berhati" menebar senyum kepada orang" miskin. Dan bahkan, ada kyai, yang karena perasaan bahwa dirinya adalah orang top dan ingin dilihat berwibawa oleh jamaahnya, bibirnya selalu tertutup rapat untuk sekedar menebar senyum. Memang, rasa"nya, di zaman ini senyum itu mahal harganya seperti mahalnya sebuah harga diri.
ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﺭﺃﺱ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﺍﻟﺼﻤﺖ ﺍﻻ ﻣﻦ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
"Wahai 'Ali, pangkal segala Ibadah adalah diam (tidak berbicara) kecuali untuk dzikir kepada Alloh"
Dalam hadits dan kitab lain Nabi Sholallohu alayhi wasallam , bersabda :

ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻤﺎﺩ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﺼﻤﺖ ﺍﻓﻀﻞ , ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺗﻄﻔﻰﺀ ﻏﻀﺐ ﺍﻟﺮﺏ ﻭﺍﻟﺼﻤﺖ ﺍﻓﻀﻞ , ﻭﺍﻟﺼﻮﻡ ﺟﻨﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻭﺍﻟﺼﻤﺖ ﺍﻓﻀﻞ , ﻭﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﺳﻨﺎﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﺼﻤﺖ ﺍﻓﻀﻞ

“Sholat itu tiang Agama, sedang sikap diam itu lebih utama, sedekah itu dapat memadamkan murka Tuhan, sedang diam lebih utama, Puasa itu benteng neraka, sedang diam itu lebih utama, dan jihad itu adalah puncak Agama, sedangkan diam itu lebih utama.”
Hadist di atas menjelaskan bahwa , Agama tidak akan berdiri tanpa Shollat, seperti tidak akan berdiri sebuah rumah tanpa disertai tiang"nya. Shalat merupakan pernyataan sebenarnya dari sifat kehambaan dan menunaikan hak ketuhanan. Sedang seluruh ibadah itu justru merupakan sarana menuju subtansi pengabdian yang sebenarnya tersebut. Tentang diam itu lebih utama daripada Sholat, dapat didasarkan pada sabda Nabi Shola :
‏( ﺍﻟﺼﻤﺖ ﺍﺭﻓﻊ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ‏) ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺪﻳﻠﻤﻰ ﻋﻦ ﺍﺑﻰ ﻫﺮﻳﺮﺓ
“Diam adalah ibadah tingkat tinggi.” (H.R. Ad-Dailami dari Abu Hurairah).
Yang dimaksud diam di sini ialah tidak mengucapkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat munurut agama dan dunia, juga tidak usah membantah orang yang menentang. Justru diam termasuk ibadah tingkat tinggi, karena kebanyakan kesalahan" itu timbul dari lisan.
Maka dari itu, barang siapa yang memelihara ucapannya, maka dia selamat di dunia dan akhirat.

ﻣﻦ ﺣﻔﻆ ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ ﺳﻠﻢ ﻓﻰ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺍﻻﺧﺮﺓ

Selain itu, Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam bersabda :

‏( ﺍﺣﺐ ﺍﻻﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺣﻔﻆ ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ ‏) ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻰ

"Amal (perbuatan) yang paling disukai Alloh, Adalah memelihara lisan".
(H.R. Baihaqi)
Diam lebih utama daripada sedekah, Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam bersabda :

‏( ﺍﻟﺼﻤﺖ ﺯﻳﻦ ﻟﻠﻌﺎﻟﻢ ﻭﺳﺘﺮﻟﻠﺠﺎﻫﻞ ‏) ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻮﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺤﺮﺯ

“Diam itu hiasan bagi orang alim dan penutup bagi orang bodoh.”
(H.R. Abusy Syekh dari Al-Mihrazi).

Diam dapat menambah kewibawaan yang hal ini pertanda adanya ilmu. Sesungguhnya orang yang bodoh itu tidak akan diketahui bodohnya, jika dia tidak berbicara.
Diam lebih utama daripada puasa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Sholallohu alayhi wasallam :

‏( ﺍﻟﺼﻤﺖ ﺳﻴﺪﺍﻻﺧﻼﻕ ‏) ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺪﻳﻠﻤﻰ ﻋﻦ ﺍﻧﺲ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ

“Diam adalah pimpinan akhlak.”
Dari hadist tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwa diam dari perkara yang tidak ada pahalanya, adalah pimpinan akhlak mulia, karena menyelamatkan pelakunya dari ghibah dan sebagainya. Adapun memperbanyak melakukan perkara yang mendatangkan pahala, misalnya dzikir, membaca Al-Qur’an dan ilmu, lebih utama daripada diam. Jihad itu adalah puncak Agama, namun diam lebih utama, yaitu yang paling tinggi nilainya jika dilihat.
Nabi Sholallohu alayhi wasallam bersabda :

‏( ﺍﻟﺼﻤﺖ ﺣﻜﻢ ﻭﻗﻠﻴﻞ ﻓﺎﻋﻠﻪ ‏) ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻘﻀﺎﻋﻰ ﻋﻦ ﺍﻧﺲ ﻭﺍﻟﺪﻳﻠﻤﻰ

“Diam adalah hikmah, namun sedikit orang yang melakukannya.”
(H.R. Al-Qadhai dari Anas dan Ad-Dailami, dari Ibnu Umar)
Diam itu hikmah dan tidak banyak yang melaksanakannya, karena belum mengetahui hal itu. Memang, tidak banyak orang yang mau diam diri dari mengemukakan hal" yang sesungguhnya menyebabkan kehinaan dirinya sendiri.

Sebelum melanjutkan pada kajian berikutnya, mari kita terlebih dahulu membacakan Fatihah kepada Mu'allif kitab ini Syaikh Abdul Wahhab As-Sya'roni kepada guru-guru kita, kepada orang tua kita semoga rohmat Alloh senantiasa menyertai mereka Bisirril Faatihah Aamiin.
Baik kita lanjut pada Hadits atau Washiat Nabi Muhammad SAW yang ke 68 kepada Sayyidina 'Ali Karromallohu Wajhah, semoga kita semua dapat mengamalkan semua washiat washiat ini Aamiin.

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺗﻤﻴﺖ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻭﺗﺬﻫﺐ ﺍﻟﺒﻬﺎﺀ، ﻭﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﺗﻤﻴﺖ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻭﺗﻮﺭﺙ ﺍﻟﻨﺪﻡ .

Artinya :
"Wahai 'Ali, seseorang yang banyak tidur itu dapat menyebabkan matinya hati dan hilangnya kewibawaan, dan orang yang banyak berbuat ma'siat/dosa dapat mengakibatkan matinya hati dan penyesalan. 

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﻣﻦ ﺍﻧﻌﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﺸﻜﺮ ﻭﺍﺑﺘﻼﻩ ﻓﺼﺒﺮ ﻭﺍﺳﺎﺀ ﻓﺎﺳﺘﻐﻔﺮ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻣﻦ ﺍﻱ ﺑﺎﺏ ﺷﺎﺀ .

Artinya :
"Wahai 'Ali, barangsiapa yang dikaruniai oleh Alloh dengan sesuatu nikmat kemudian dia bersyukur, dan jika ia diuji denga bala ia bersabar, dan ketika dia berbuat kesalahan lalu dia beristighfar atau meminta ampun, maka dia akan masuk kedalam surga dari pintu mana sajA.

Pesan baginda Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Ali yang ke 70.
ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﻻﺗﻔﺮﺡ ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻﻳﺤﺐ ﺍﻟﻤﻔﺮﺣﻴﻦ، ﻭﻋﻠﻴﻚ ﺑﺎﻟﺤﺰﻥ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺤﺐ ﻛﻞ ﺣﺰﻳﻦ
"Wahai 'Ali, janganlah engkau bersuka ria, karena sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang yang bersuka ria, dan biasakanlah dirimu selalu berprihatin, karena sesungguhnya Alloh SWT menyukai orang yang selalu prihatin.
Maksudnya adalah : Bersuka ria disini ialah bersenda gurau, tertawa atau riang gembira yang menyebabkan lupa kepada Alloh Subhanahu Wa ta'alaa.
Didalam Hadits Qudsi Alloh Subhanahu Wa ta'alaa berfirman :
“Wahai manusia! Aku heran pada orang yang yakin akan kematian, tapi ia hidup bersuka-ria.
Aku heran pada orang yang yakin akan pertanggung jawaban segala amal perbuatan di akhirat, tapi ia asyik mengumpulkan harta benda.
Aku heran pada orang yang yakin akan kubur, tapi ia tertawa terbahak-bahak.
Aku heran pada orang yang yakin akan adanya alam akhirat, tapi ia menjalani kehidupan dengan bersantai-santai.
Aku heran pada orang yang yakin akan kehancuran dunia, tapi ia menggandrunginya.
Sumber : Al-Mawa’idz fil Ahadis al-Qudsiyyah.
Jadi jelas maksud bersuka ria dalam Washiat diatas adalah hidup dalam gelamor, selalu tidak pernah takut akan kematian yang akan datang.
Sedang maksud prihatin diatas adalah, kita senantiasa memperhatikan terhadap diri kita kepada saudara kita dan kepada sesama, senantiasa peduli kepada sesama Makhluq Alloh Subhanahu Wa ta'alaa dan orang yang demikian adalah orang yang dicintai oleh Alloh Subhanahu Wa ta'alaa.
Washiat berikutnya atau yang ke 71 yang disampaikan Baginda Nabi kepada Sayyidina 'Ali adalah :

ﻳﺎﻋﻠﻲ ؛ ﻣﺎ ﻣﻦ ﻳﻮﻡ ﺟﺪﻳﺪ ﺍﻻ ﻭﻳﻘﻮﻝ ﻳﺎ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺍﻧﺎ ﻳﻮﻡ ﺟﺪﻳﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﻋﻤﻠﻚ ﺷﻬﻴﺪ ﻓﺎﻧﻈﺮ ﻣﺎﺫﺍ ﺗﻔﻌﻞ .

Artinya : "Wahai 'Ali, setiap terjadi pergantian hari, maka hari yang baru datang itu berkata, (wahai anak adam, aku adalah hari yang baru dan atas segala amal perbuatanmu aku menjadi saksi, maka perhatikanlah apa yang akan engkau perbuat)"

Wallohu A'lamu Bisshowwab

Wassalamu alaykum Wa rohmatulloh Wa barokatuh

kisah zuhud Syech Abul Hasan

Kisah sufi yang mempraktikkan zuhud tersebut, ialah Imam Abu Hasan asy-Syazili. Ia adalah seorang sufi yang dikenal kaya raya, namun di dalam hatinya hanya memilki cinta kepada Allah swt semata. Dikisahkan bahwa ada seorang tamu yang merupakan murid dari kerabatnya yang miskin. Murid tersebut diperintahkan oleh gurunya bertemu Imam Syazili untuk mendapatkan nasehat. Saat sesampainya di rumah Imam Syazili yang sangat mewah, murid ini tidak percaya bahwa Imam Syazili adalah seorang ulama besar. Karena dalam pandangannya, bagaimana mungkin seorang ulama tapi memiliki rumah mewah bak istana, perhiasan yang elok serta memiliki kuda yang gagah dan besar. Maka ia pun berfikir bergelimangnya harta Imam Syazili tidak mungkin mencirikan orang yang dekat dengan Allah swt. Maka baginya, gurunya yang dalam kondisi miskin adalah yang lebih pantas menjadi ulama.

Setelah masuk ke dalam rumah Imam Syazili dan bertemu dengannya, tamu yang merupakan murid dari kerabatnya menyampaikan salam dari gurunya dan meminta nasehat pada pendiri Tarekat Syaziliyyah tersebut. Kemudian Imam Syazili berkata "Tolong sampaikan ke gurumu, kapan berhenti memikirkan dunia". Ia pun pulang kembali ke tempat gurunya dengan penuh rasa penasaran dan keheranan. Sebab ia tidak dapat memahami maksud nasehat yang ia dapatkan dari Imam Syazili. Setelah bertemu kembali gurunya, ia menyampaikan pesan Imam Syazili tersebut. Kemudian gurunya berkata sambil menangis "Benar yang dikatakan oleh Imam Syazili bahwa meskipun ia banyak harta, tapi tidak sedikitpun hartanya menempel dan melekat di hatinya. Sedangkan saya yang dalam kondisi miskin, tapi masih memikirkan kapan memiliki harta". Sang murid pun akhirnya memahami maksud nasehat Imam Syazili.

Kisah lain soal Imam Syazili adalah ada seseorang yang ingin bertemu dengannya yang dikenal seorang ulama sufi yang agung. Tetapi karena ia tidak tahu rumah Sang Imam, ia pun bertanya kepada orang lain dan akhirnya sampai ke rumah Sang Imam. Setelah melihat rumah Imam Syazili, ia tidak percaya bahwa sang Imam adalah seorang ulama sufi yang dekat Allah swt karena memiliki rumah yang mewah. Alhasil ia pun mengurungkan niatnya dan pergi dari rumah Sang Imam.

Namun dalam perjalanan pulang, ia berpapasan dengan kereta kuda yang mewah dan seseorang dalam kereta tersebut mempersilakan dirinya untuk menaiki kereta kudanya. Dalam perbincangan di atas kereta, diketahui bahwa pengendara kereta mewah tersebut adalah Imam Abu Hasan asy-Syazili. Maka ia pun juga menjelaskan bahwa sebelumnya ia ingin bertemu dengannya. Mendengar hal tersebut, Sang Imam memberikan sebuah gelas yang berisikan minuman anggur pilihan yang terbaik. Orang tersebut merasa terpesona dengan minuman yang diberikan Sang Imam, sebab ia belum pernah melihat minuman anggur pilihan tersebut.

Khawatir minumannya tumpah, ia pun fokus untuk memegang gelas yang berisikan minuman anggur ini. Hingga tak terasa, perjalanan menggunakan kereta kuda telah sampai ke rumah Imam Syazili. Kemudian Sang Imam bertanya kepadanya "Bagaimanakah perjalanan tadi, apakah kamu dapat menikmati keindahan kota ini?" Orang itu pun tidak bisa menjawab apa-apa karena selama perjalanan ia hanya berfokus untuk melihat dan memegang gelas minuman anggur pilihan agar tidak tumpah. Imam Syazili pun kembali melanjutkan berbicara “Antara kamu dengan minuman anggur itu ibarat saya dengan harta saya dan Allah dalam batin saya. Karena perhatian saya hanya tertuju dan fokus ke Allah swt, sehingga saya tidak pernah peduli kota ini indah atau tidak”.

Dari dua kisah Imam Syazili di atas dapat diambil setidaknya tiga hikmah yang berkaitan zuhud, yakni: Pertama, harus selalu memiliki ketetapan cinta kepada Allah swt di dalam hati, meskipun memilki banyaknya harta, sehingga melimpahnya harta tidak akan membuat lalai. Kedua, bisa jadi dalam kondisi miskin, tetapi hatinya masih terlalu sering memikirkan harta atau dunia, maka kondisi ini belum termasuk zuhud. Ketiga, orang yang memiliki rasa cinta yang sangat tinggi kepada Allah swt akan dapat melupakan harta banyak yang ia miliki. Selain itu, berdasarkan kisah zuhudnya Imam Syazili tersebut, maka wajar KH. Said Aqil Siradj menyatakan bahwa zuhud tidak selalu identik dengan melarat.

Zuhud juga dapat diartikan ketika banyaknya harta tidak memiliki ruang sedikitpun di hati, namun hatinya telah dipenuhi dengan cinta kepada Rabbnya. Bila seseorang telah melakukan hal tersebut, maka ia telah berhasil mengendalikan dunia berada di tangannya dan Allah berada di hatinya. Hal ini sesuai dengan nasehat Syaikh Abdul Qadir Jailani yaitu “Letakkan dunia di tanganmu, jangan di hatimu! Hatimu harus terus merasakan kehadiran Allah, sebutlah nama Dzat-Nya. Penuhilah hatimu dengan nama-nama-Nya nan Indah.”

Salah satu bentuk sikap zuhud menurut seorang ulama yang menurutnya merupakan salah satu ciri seseorang tidak cinta dunia, tetapi lebih cinta akhirat adalah ia lebih suka banyak memberi daripada menerima. Hal ini juga dinyatakan dalam hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yaitu:

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

Artinya: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”.

Berarti meskipun ia memiliki harta yang melimpah, maka ia lebih senang dan bahagia hartanya tersebut diinfakkan di jalan Allah swt. Sikap ini telah dilakukan oleh banyak kerabat Nabi Muhammad saw yang kaya raya, seperti Siti Khadijah dan Sayyidina Utsman bin Affan. Mereka selalu rela dan ikhlas memberikan semua hartanya termasuk jiwanya untuk membantu perjuangan dakwah Rasulullah saw.

Dengan demikian, jika seseorang kaya raya dan hatinya tetap mencintai Allah swt, sudah pasti ia akan ikhlas menyedekahkan hartanya untuk Allah swt, seperti untuk pembangunan Masjid dan pondok pesantren, membantu perjuangan dakwah para Kyai, serta menolong fakir miskin dan anak yatim. Ia menyadari bahwa harta yang ia miliki hanyalah merupakan titipan dari Allah swt dan akan dipertanggungjawabkan, sehingga ia sendiri tidak mencintai harta tersebut dan hanya mencintai Allah swt.

Selain itu, terkait tetap dibolehkannya memiliki harta, selagi tetap ingat Allah swt dan akhirat atau dengan kata lain tetap menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam ayat berikut:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi" (QS. al-Qasash - 77).

Pun demikian dengan doa yang biasa dibaca oleh umat muslim yaitu:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Al-Baqarah - 201).

Dari doa tersebut, dapat diketahui bahwa keseimbangan dunia dan akhirat itu penting, seseorang tidak hanya meminta kepada Allah swt untuk kebaikan akhirat, tetapi juga ia meminta kepada Allah swt untuk kebaikan dunia. Salah satu bentuk kebaikan dunia adalah dibolehkannya memiliki harta dan menjadi kaya raya, tetapi syaratnya adalah tetap bersikap zuhud. Dimana hatinya tetap cinta kepada Allah swt meski bergelimang harta.

Terakhir, sikap zuhud yang konkret dalam hati adalah tidak sedih atas kehilangan apapun terkait dunia, baik itu harta maupun jabatan. Sebaliknya, akan merasa sedih sekali jika kehilangan Allah swt atau kehilangan hal-hal akhirat karena disebabkan dunia. Dengan demikian, zuhud itu bukan dilihat dari rupa atau penampilan, tapi zuhud dilihat dari hati.

Syech Kepala Ikan

ada seorang syaikh yang hidup sederhana. Dia makan sekadar kebutuhan untuk bertahan-hidup saja. Karena profesinya nelayan, pagi-pagi dia memancing ikan.

Setelah mendapat banyak ikan, dia membelah ikan-ikan itu menjadi dua: batang tubuh ikan itu dibagi-bagikan kepada tetangganya, sementara kepalanya dia kumpulkan untuk dimasak sendiri. Karena terbiasa makan kepala ikan itulah sehingga dia diberi julukan Syaikh Kepala Ikan. Dia seorang sufi yang memiliki banyak murid.

Salah seorang muridnya hendak pergi ke Mursia, sebuah daerah di Spanyol. Kebetulan Syaikh Kepala Ikan ini mempunyai seorang guru sufi besar di sana (Syaikh Al-Akbar). "Tolong kamu mampir ke kediaman guruku di Mursia, dan mintakan nasihat untukku," pesan syaikh kepada muridnya. Si murid pun pergi untuk berdagang. Setibanya di Mursia, dia mencari-cari rumah Syaikh Al-Akbar itu. Dia membayangkan akan bertemu dengan seorang tua, sederhana, dan miskin. Tapi ternyata orang menunjukkannya pada sebuah rumah besar dan luas. Dia tidak percaya, mana ada seorang sufi besar tinggal di sebuah bangunan yang mewah dan mentereng, penuh dengan pelayan-pelayan dan sajian-sajian buah-buahan yang lezat.

Dia terheran-heran: "Guru saya hidup dengan begitu sederhana, sementara orang ini sangat mewah. Bukankah dia gurunya guru saya?" Dia pun masuk dan menyatakan maksud kedatangannya. Dia menyampaikan salam gurunya dan memintakan nasihat untuknya. Syaikh pun bertutur, "Bilang sama dia, jangan terlalu memikirkan dunia." Si murid tambah heran dan sedikit marah, tidak mengerti. Syaikh ini hidup sedemikian kaya, dimintai nasihat oleh orang miskin malah menyuruh jangan memikirkan dunia. Akhirnya dengan kesal dia pulang.

Saat gurunya mendengar nasihat yang diperoleh melalui muridnya dia hanya tersenyum dan sedikit sedih. Si murid mengernyitkan kening tambah tidak paham. Apa maksud nasihat itu? Guru itu menjawab, "Syaikh Akbar itu benar. Menjalani hidup tasawuf itu bukan berarti harus hidup miskin. Yang penting hati kita tidak terikat oleh harta kekayaan yang kita miliki dan tetap terpaut dengan Allah Swt. Bisa jadi orang miskin harta, tapi hatinya terus memikirkan dunia. Saya sendiri ketika makan kepala ikan, masih sering membayangkan bagaimana enaknya makan daging ikan yang sebenarnya?"

Kisah ini menunjukkan dua hal: menjadi orang kaya itu tidak mesti jauh dari kehidupan sufi dan menjadi orang miskin tidak otomatis mendekatkan orang pada kehidupan sufistik. Syaikh Al-Akbar yang disebut di atas adalah Muhyiddin Ibn Arab, salah satu sufi besar dan cemerlang dalam sejarah perkembangan tasawuf.

Seorang sufi lain mengatakan, kehidupan tasawuf adalah membiarkan tanganmu sibuk mengurusi dunia dan membiarkan hatimu sibuk mengingat Allah Swt.

Imam Ghazali mengatakan, jiwa harus merawat tubuh sebagaimana orang mau naik haji harus merawat untanya. Tapi kalau ia sibuk dan menghabiskan waktunya untuk merawat unta itu, memberi makan dan menghiasinya, maka kafilah (rombongan) akan meninggalkannya. Dan ia akan mati di gurun pasir. Artinya, kita bukan tidak boleh merawat yang bersifat fisik, tapi yang tidak boleh adalah kita tenggelam di dalamnya. Imam Al-Ghazali bertanya, "Apakah uang itu membuatmu gelisah? Orang yang hatinya terganggu oleh uang belumlah menjadi seorang sufi". Jadi, persoalannya bukan kita tidak boleh mempunyai uang. Justru, bagaimana caranya kita punya uang cukup, tapi pada saat yang sama hati kita tidak terganggu dengan harta yang kita miliki.

Menurut Ibn Arab, dunia ini adalah tempat kita diberi pelajaran dan harus menjalani ujian. Ambillah yang kurang daripada yang lebih di dalamnya. Puaslah dengan apa yang kamu miliki, betapapun yang kamu miliki itu kurang daripada yang lain. Tapi dunia itu tidak buruk. Sebaliknya, ia ladang bagi hari akhirat. Apa yang kamu tanam di dunia ini, akan kamu panen di akhirat nanti. Dunia adalah jalan menuju kebahagiaan puncak, dan karena itu baik, layak untuk dipuji dan dielu-elukan untuk kehidupan akhirat. Yang buruk adalah jika apa yang kamu perbuat untuk duniamu itu menyebabkan kamu buta terhadap kebenaran oleh nafsumu dan ambisi terhadap dunia.

Senin, 11 Mei 2020

Rasa Malu Bagian dari Iman

Malu adalah sifat atau perasaan yang membentengi seseorang dari melakukan yang rendah atau kurang sopan. Islam memerintahkan pemeluknya memiliki sifat malu karena dapat meningkatkan akhlak seseorang menjadi tinggi. Orang yang tidak memiliki sifat malu, akhlaknya akan rendah dan tidak mampu mengendalikan hawa nafsu.


Sifat malu merupakan ciri khas akhlak orang beriman. Orang yang memiliki sifat ini apabila melakukan kesalahan atau yang tidak patut bagi dirinya akan menunjukkan penyesalan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki malu merasa biasa saja ketika melakukan kesalahan dan dosa meskipun banyak orang mengetahuinya.

Islam menempatkan malu sebagai bagian dari iman. Orang beriman pasti memiliki sifat malu. Orang yang tidak memiliki malu berarti tidak ada iman dalam dirinya meskipun lidahnya menyatakan beriman. Rasulullah SAW bersabda, ''Iman itu lebih dari 70 atau 60 cabang, cabang iman tertinggi adalah mengucapkan 'La ilaha illallah', dan cabang iman terendah adalah membuang gangguan (duri) dari jalan, dan rasa malu merupakan cabang dari iman.'' (HR Bukhari-Muslim).

Sifat malu perlu ditampilkan seseorang dalam semua aktivitas kehidupan. Melaluinya, seseorang dapat menahan diri dari perbuatan tercela, hina, dan keji. Melalui sifat malu, seseorang akan berusaha mencari harta yang halal dan akan menyesal kalau ketinggalan melakukan kebaikan.

Apabila seseorang hilang malunya, secara bertahap perilakunya akan buruk, kemudian menurun kepada yang lebih buruk, dan terus meluncur ke bawah dari yang hina kepada lebih hina sampai ke derajat paling rendah. Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya Allah apabila hendak membinasakan seseorang, Dia mencabut rasa malu dari orang itu.

Apabila rasa malunya sudah dicabut, kamu tidak menjumpainya kecuali dibenci. Apabila tidak menjumpainya kecuali dibenci, dicabutlah darinya sifat amanah. Apabila sifat amanah sudah dicabut darinya maka tidak akan didapati dirinya kecuali sebagai pengkhianat dan dikhianati. Kalau sudah jadi pengkhianat dan dikhianati, dicabutlah darinya rahmat. Kalau rahmat sudah dicabut darinya, tidak akan kamu dapati kecuali terkutuk yang mengutuk. Apabila terkutuk yang mengutuk sudah dicabut darinya, maka akhirnya dicabutlah ikatan keislamannya.'' (HR Ibn Majah).

 

Tiga Macam Rasa Malu

Ada tiga macam malu yang perlu melekat pada seseorang. Pertama, malu kepada diri sendiri ketika sedikit melakukan amal saleh kepada Allah dan kebaikan untuk umat dibandingkan orang lain. Malu ini mendorongnya meningkatkan kuantitas amal saleh dan pengabdian kepada Allah dan umat.

Kedua, malu kepada manusia. Ini penting karena dapat mengendalikan diri agar tidak melanggar ajaran agama, meskipun yang bersangkutan tidak memperoleh pahala sempurna lantaran malunya bukan karena Allah. Namun, malu seperti ini dapat memberikan kebaikan baginya dari Allah karena ia terpelihara dari perbuatan dosa.

Ketiga, malu kepada Allah. Ini malu yang terbaik dan dapat membawa kebahagiaan hidup. Orang yang malu kepada Allah, tidak akan berani melakukan kesalahan dan meninggalkan kewajiban selama meyakini Allah selalu mengawasinya.

Mengingat sifat malu penting sebagai benteng memelihara akhlak seseorang dan sumber utama kebaikan, maka sifat ini perlu dimiliki dan dipelihara dengan baik. Sifat malu dapat memelihara iman seseorang.

*****

Dalam sebuah kesempatan Rasulullah bertemu seorang dari Ansar, yang sedang menasihati saudaranya yang pemalu. Mendengar itu, Rasulullah segera bersabda: "Biarkan dia demikian, karena rasa malu itu bagian dari iman" (HR Bukahri-Muslim).

Dalam hadis lain, Rasulullah mengatakan: "Rasa malu tidak pernah mendatangkan kecuali kebaikan" (HR Bukhari-Muslim). "Rasa malu semuanya baik'' (HR Muslim).

Abu Sa'id Al Khudri pernah menggambarkan bahwa Rasulullah saw. lebih pemalu dari seorang gadis. Bila melihat sesuatu yang tidak ia sukai, tampak tanda rasa malu dari wajahnya (HR Bukhari-Muslim).

Dalam kesempatan lain, Rasullah mengkaitkan antara iman dan rasa malu: "Rasa malu adalah bagian dari iman, dan iman tempatnya di surga. Prilaku jelek adalah bagian dari kekeringan iman, keringnya iman tempatnya di neraka"(HR Ahmad).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa iman mempunyai lebih dari tujuh puluh bagian, di antaranya adalah rasa malu (HR Bukhari-Muslim).

Imam Ibn Majah menyebutkan sebuah hadis yang menggambarkan betapa rasa malu harus dibudayakan demi keselamatan sebuah bangsa. Rasulullah bersabda: "Jika Allah swt. ingin menghancurkan sebuah kaum, dicabutlah dari mereka rasa malu. Bila rasa malu telah hilang maka yang muncul adalah sikap keras hati. Bila sikap keras hati membudaya, Allah mencabut dari mereka sikap amanah (kejujuran dan tangung jawab). Bila sikap amanah telah hilang maka yang muncul adalah para pengkhianat. Bila para mengkhianat merajalela Allah mencabut rahmatNya. Bila rahmat Allah telah hilang maka yang muncul adalah manusia laknat. Bila manusia laknat merajalela Allah akan mencabut dari mereka tali-tali Islam".

Menerangkan makna hadis ini, Syekh Muhammad Al Ghazali berkata dalam bukunya Khuluq Al Muslim: "Bila seorang tidak mampunyai rasa malu dan amanah, ia akan menjadi keras dan berjalan mengikuti kehendak hawa nafsunya. Tak peduli apakah yang harus menjadi korban adalah mereka yang tak berdosa. Ia rampas harta dari tangan-tangan mereka yang fakir tanpa belas kasihan, hatinya tidak tersentuh oleh kepedihan orang-orang lemah yang menderita. Matanya gelap, pandangannya ganas. Ia tidak tahu kecuali apa yang memuaskan hawa nafsunya. Bila seorang sampai ke tingkat prilaku seperti ini, maka telah terkelupas darinya fitrah agama dan terkikis habis jiwa ajaran Islam (Khuluq Al Muslim, h 171).

Imam An Nawawi menyebutkan bahwa hakikat rasa malu itu muncul dalam bentuk sikap meninggalkan perbuatan jelek, dan perbuatan zhalim. Seorang sufi besar Imam Junaid menerangkan bahwa rasa malu muncul dari melihat besarnya nikmat Allah, sedangkan ia merasa banyak kekurangan dalam mengamalkan ketaatan kapada-Nya. (Riyadh as-Shalihin, h 246).  

Minggu, 10 Mei 2020

kisah pencuri bertakwa

Ada seorang pemuda yang bertakwa, tetapi dia sangat lugu. Suatu kali dia belajar pada seorang syaikh. Setelah lama menuntut ilmu, sang syaikh menasihati dia dan teman-temannya, “Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain.

Sesungguhnya, seorang alim yang menadahkan tangannya kepada orang-orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing. Sertakanlah selalu ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut.”

Maka, pergilah pemuda tadi menemui ibunya seraya bertanya, “Ibu, apakah pekerjaan yang dulu dikerjakan ayahku?”

Sambil bergetar ibunya menjawab, “Ayahmu sudah meninggal. Apa urusanmu dengan pekerjaan ayahmu?”

Si pemuda ini terus memaksa agar diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak.

Namun, akhirnya si ibu terpaksa angkat bicara juga, dengan nada jengkel dia berkata, “Ayahmu itu dulu seorang pencuri!”

Pemuda itu berkata, “Guruku memerintahkan kami -murid-muridnya- untuk bekerja seperti pekerjaan ayahnya dan dengan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut.”

Ibunya menyela, “Hai, apakah dalam pekerjaan mencuri itu ada ketakwaan?”

Kemudian anaknya yang begitu polos menjawab, “Ya, begitu kata guruku.”

Lalu dia pergi bertanya kepada orang-orang dan belajar bagaimana para pencuri itu melakukan aksinya. Sekarang dia mengetahui teknik mencuri. Inilah saatnya beraksi. Dia menyiapkan alat-alat mencuri, kemudian shalat Isya dan menunggu sampai semua orang tidur. Sekarang dia keluar rumah untuk menjalankan profesi ayahnya, seperti perintah sang guru (syaikh).

Dimulailah dengan rumah tetangganya. Saat hendak masuk ke dalam rumah dia ingat pesan syaikhnya agar selalu bertakwa. Padahal mengganggu tetangga tidaklah termasuk takwa. Akhirnya, rumah tetangga itu di tinggalkannya. Ia lalu melewati rumah lain, dia berbisik pada dirinya, “Ini rumah anak yatim, dan Allah memperingatkan agar kita tidak memakan harta anak yatim.”

Dia terus berjalan dan akhirnya tiba di rumah seorang pedagang kaya yang tidak ada penjaganya. Orang-orang sudah tahu bahwa pedagang ini memiliki harta yang melebihi kebutuhannya. “Ha, di sini,” gumamnya. Pemuda tadi memulai aksinya. Dia berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci yang disiapkannya. Setelah berhasil masuk, rumah itu ternyata besar dan banyak kamarnya.

Dia berkeliling di dalam rumah, sampai menemukan tempat penyimpanan harta. Dia membuka sebuah kotak, didapatinya emas, perak dan uang tunai dalam jumlah yang banyak. Dia tergoda untuk mengambilnya. Lalu dia berkata, “Eh, jangan, syaikhku berpesan agar aku selalu bertakwa. Barangkali pedagang ini belum mengeluarkan zakat hartanya. Kalau begitu, sebaiknya aku keluarkan zakatnya terlebih dahulu.”

Dia mengambil buku-buku catatan di situ dan menghidupkan lentera kecil yang dibawanya. Sambil membuka lembaran buku-buku itu dia menghitung. Dia memang pandai berhitung dan berpengalaman dalam pembukuan. Dia hitung semua harta yang ada dan memperkirakan berapa zakatnya. Kemudian dia pisahkan harta yang akan dizakatkan. Dia masih terus menghitung dan menghabiskan waktu berjam-jam. Saat menoleh, dia lihat fajar telah menyingsing.

Dia berbicara sendiri, “Ingat takwa kepada Allah! Kau harus melaksanakan shalat dulu!” Kemudian dia keluar menuju ruang tengah rumah, lalu berwudhu di bak air untuk selanjutnya melakukan shalat sunnah. Tiba-tiba tuan rumah itu terbangun. Dilihatnya dengan penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala. Dia lihat pula kotak hartanya dalam keadaan terbuka dan ada orang sedang melakukan shalat.

Isterinya bertanya, “Apa ini?”

Dijawab suaminya, “Demi Allah, aku juga tidak tahu.”

Lalu dia menghampiri pencuri itu, “Kurang ajar, siapa kau dan ada apa ini?”

Si pencuri berkata, “Shalat dulu, baru bicara. Ayo, pergilah berwudhu, lalu shalat bersama. Tuan rumahlah yang berhak jadi imam.”

Karena khawatir pencuri itu membawa senjata si tuan rumah menuruti kehendaknya. Tetapi wallahu alam– bagaimana dia bisa shalat.

Selesai shalat dia bertanya, “Sekarang, coba ceritakan, siapa kau dan apa urusanmu?”

Dia menjawab, “Saya ini pencuri.”

“Lalu apa yang kau perbuat dengan buku-buku catatanku itu?” tanya tuan rumah lagi.

Si pencuri menjawab, “Aku menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Sekarang aku sudah menghitungnya dan juga sudah aku pisahkan agar kau dapat memberikannya pada orang yang berhak.”

Hampir saja tuan rumah itu dibuat gila karena terlalu keheranan. Lalu dia berkata, “Hai, ada apa denganmu sebenarnya. Apa kau ini gila?”

Mulailah si pencuri itu bercerita dari awal.

Dan setelah tuan rumah itu mendengar ceritanya dan mengetahui ketepatan, serta kepandaiannya dalam menghitung, juga kejujuran kata-katanya, juga mengetahui manfaat zakat, dia pergi menemui isterinya. Mereka berdua dikaruniai seorang puteri.

Setelah keduanya berbicara, tuan rumah itu kembali menemui si pencuri, kemudian berkata, “Bagaimana sekiranya kalau kau aku nikahkan dengan puteriku. Aku akan angkat engkau menjadi sekretaris dan juru hitungku. Kau boleh tinggal bersama ibumu di rumah ini. Kau kujadikan mitra bisnisku.”

Ia menjawab, “Aku setuju.”

Di pagi hari itu pula sang tuan rumah memanggil para saksi untuk acara akad nikah puterinya. 


*****

Kisah Pemuda Enggan Mencuri, Justru Jadi Suami Janda Kaya


Di Damaskus (Suriah), berdirilah Masjid at-Taubah. Masjid itu tersohor antara lain karena dikelola seorang tabiin yang saleh dan alim. Syekh tersebut hidup sederhana, sembari mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada penduduk setempat.

Suatu hari, datang seorang pemuda ke masjid tersebut. Tampak dari penampilannya, pemuda ini tergolong miskin. Dia tiba di Damaskus dalam rangka mencari ilmu (thalab al-'ilm). Tidak ada satu pun sanak famili atau kenalan di kota tersebut.

Sesudah hadirin majelis bubar, pemuda tadi meminta izin untuk bertemu sang syekh. "Wahai, imam. Saya pemuda miskin yang datang jauh-jauh dari luar Damaskus. Saya tidak punya siapa-siapa di kota ini. Namun, saya ingin berguru kepada engkau," katanya membuka pembicaraan.

"Karena itu, apakah engkau mengizinkan saya tinggal bersama engkau? Bolehkah saya tinggal di masjid ini, dan makan serta minum bersama keluarga engkau?" lanjut dia.

Singkat cerita, syekh tersebut setuju. Maka pemuda ini tinggal bersamanya.

Tiga bulan berlalu. Pemuda tadi mendapati kebiasaan zuhud syekh yang tabiin ini. Bila ada rezeki, syekh dan keluarganya makan rutin dua atau tiga kali sehari. Mereka berpuasa bila sedang kekurangan makanan. Pemuda itu pun mengikuti irama kehidupan sang syekh dan keluarga.

Bagaimanapun, kali ini agak berbeda. Sudah tiga hari berturut-turut syekh berpuasa. Mungkin karena sudah kebiasaan, tubuh syekh tersebut tidak terlalu kelaparan. Namun, pemuda tadi tidak kuat. Dia sangat lapar.

Saking laparnya, dia terpaksa mengikat perutnya. Matanya berkunang-kunang. Kepalanya terasa berat.

Saat itulah datang bisikan jahat. Terlintas di dalam benaknya, dirinya kini sudah diperbolehkan secara syariat untuk mencuri makanan sekadarnya.

Bakda isya, pemuda itu melancarkan aksinya. Dia memanjat dinding luar Masjid at-Taubah, yang menempel pada dinding rumah-rumah warga.

Tidak Jadi Mencuri, Malah Jadi Suami

Rumah pertama yang dihampirinya hanya diisi beberapa remaja putri. Dari celah balik atap, pemuda itu mengintip ke dalamnya, tetapi langsung memalingkan wajah dari para perempuan itu. Sebab, tujuannya mencuri makanan. Bukan yang lain-lain.

Dia terus merangkak ke atap rumah berikutnya. Dia mencium aroma makanan, sop terung yang baru saja dimasak. Pelan-pelan, pemuda ini meluncur turun dari atap, lalu masuk ke dalam dapur. Di tengah kegelapan, dia membuka tutup panci, kemudian mengambil terung dari dalamnya.

Saat sedang mengunyah, hampir saja dia menelan terung itu. Tiba-tiba, dirinya dikecam rasa takut kepada Allah. Dia berpikir, "Setan telah berhasil menggodaku tiga hal. Pertama, dia menyuruhku mencuri; lalu melihat perempuan yang bukan mahram, dan memasuki rumah orang lain tanpa izin."

Seketika, pemuda ini memuntahkan terung tadi. Dia lantas mengendap-endap keluar dari dapur itu.

Sesampainya di masjid, dia menemukan sang syekh sedang menerima tamu, yakni seorang perempuan yang bercadar dan dua orang pendampingnya. Pemuda itu tampak tidak terlalu peduli. Perutnya masih sangat lapar, sehingga dia hanya terduduk lemas di dinding, agak jauh dari mereka.

Tiba-tiba, syekh memanggilnya, "Wahai, pemuda. Kemarilah."

"Apakah kamu sudah menikah?" tanya syekh lagi.

"Belum, wahai syekh," jawab pemuda itu, masih dengan wajah sayu.

"Apakah kamu mau menikah?" tanya gurunya itu.

Si pemuda tidak menjawab sepatah kata pun. Pertanyaan itu diulangi sang syekh tiga kali berturut-turut, sehingga muridnya itu "terpaksa" mengeluh.

"Wahai, syekh. Saya datang kepadamu sebagai pemuda yang tidak punya apa-apa. Saya hidup bersama keluargamu. Apa yang engkau makan, itulah yang kumakan. Jika engkau berpuasa, saya pun puasa. Tapi akhir-akhir ini saya benar-benar terbatas. Saya seharian belum makan sama sekali. Bagaimana mungkin saya menikah? Dengan apa saya nafkahi istri saya nanti?" katanya.

"Wahai pemuda. Perempuan yang datang kepada saya ini adalah janda. Dia baru saja menyelesaikan masa iddah. Dia takut akan fitnah, sehingga meminta saya untuk menikahkannya dengan seorang pria," kata sang syekh.

"Karena itu, saya ingin kamu menikah dengannya. Kamu tidak perlu khawatir. Perempuan ini memiliki rumah dan hidup berkecukupan," lanjut dia.

Syekh kemudian meminta persetujuan dari perempuan tadi, yang lantas menyanggupi tawarannya. Pemuda itu pun mengangguk setuju. Maka sang syekh memanggil beberapa orang sebagai saksi. Dia juga mengambil satu buah kendi sebagai mas kawin pemuda tadi untuk sang janda.

Akhirnya, menikahlah mereka. Setelah selesai ijab kabul, syekh pun menyuruh pemuda tadi pergi.

"Pergilah ke rumah istrimu. Kalian berdua kini telah suami-istri," ucap syekh sembari memberi selamat dan mendoakan kebaikan.

Maka pasangan itu berjalan menuju rumah tujuan. Dia melewati satu rumah yang tadinya hampir disatroni si pemuda. Tiba di rumah kedua, perempuan itu mempersilakan suami barunya tersebut masuk.

"Silakan," katanya dengan lembut.

Pemuda itu terkejut karena inilah rumah yang tadi dimasukinya tanpa izin.

"Suamiku, tadi kudengar engkau belum makan sama sekali seharian ini. Duduklah di sini. Aku sudah memasak sup terung di dapur," kata sang istri.

Tak lama, perempuan ini sedikit teriak. Dia terkejut karena mendapati betapa berantakan keadaan dapurnya kini.

Dengan tenang, pemuda ini memanggil istrinya itu, "Kemarilah, istriku."

Maka diceritakanlah kronologi sesungguhnya. Awalnya ia berniat mencuri karena lapar, hingga akhirnya meninggalkan perbuatannya itu --dengan memuntahkan terung ke lantai.

"Wahai suamiku. Engkau telah meninggalkan perbuatan buruk karena sup ini bukan milikmu. Tapi kini Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik. Bukan hanya sup ini, tetapi juga seisi dapur ini, rumah ini, dan aku yang memiliki rumah ini sekarang menjadi milikmu," kata perempuan cantik ini.