Kamis, 25 Januari 2018

Gerhana bulan

Khutbah I

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟﻠﻪ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻭَﺳَﺨَّﺮَ ﻟَﻜُﻢُ ﭐﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَﭐﻟْﻘَﻤَﺮَ ﺩَﺍﺋِﺒَﻴْﻦِ ﻭَﺳَﺨَّﺮَ ﻟَﻜُﻢُ ﭐﻟَّﻴْﻞَ ﻭَﭐﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ . ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺍِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻ ﺷَﺮِﻳﻚ ﻟَﻪ، ﺫُﻭ ﺍْﻟﺠَﻼﻝِ ﻭَﺍﻹﻛْﺮﺍﻡ، ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥّ ﺳَﻴِّﺪَﻧَﺎ ﻭَﻧَﺒِﻴَّﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَ ﺭَﺳﻮﻟُﻪ، ﺍﻟﻠّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭ ﺳَﻠِّﻢْ ﻭَﺑﺎﺭِﻙْ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧﺎ ﻣُﺤَﻤّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍَﻟِﻪِ ﻭﺃﺻْﺤﺎﺑِﻪِ ﻭَﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌﻴﻦَ ﺑِﺈﺣْﺴﺎﻥِ ﺇﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟﺪِّﻳﻦ، ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ : ﻓَﻴَﺎﻳُّﻬَﺎ ﺍْﻹِﺧْﻮَﺍﻥ، ﺃُﻭْﺻِﻴْﻜُﻢْ ﻭَ ﻧَﻔْﺴِﻲْ ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻃَﺎﻋَﺘِﻪِ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮْﻥَ، ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌﺎَﻟَﻰ ﻓِﻲ ﺍْﻟﻘُﺮْﺁﻥِ ﺍْﻟﻜَﺮِﻳْﻢِ : ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟِﻴْﻢِ، ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢِ : ﻭَﻣِﻦْ ﺀَﺍﻳَٰﺘِﻪِ ﭐﻟَّﻴْﻞُ ﻭَﭐﻟﻨَّﻬَﺎﺭُ ﻭَﭐﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻭَﭐﻟْﻘَﻤَﺮُ، ﻟَﺎ ﺗَﺴْﺠُﺪُﻭﺍ۟ ﻟِﻠﺸَّﻤْﺲِ ﻭَﻟَﺎ ﻟِﻠْﻘَﻤَﺮِ ﻭَﭐﺳْﺠُﺪُﻭﺍ۟ ﻟِﻠَّﻪِ ﭐﻟَّﺬِﻯ ﺧَﻠَﻘَﻬُﻦَّ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah telah mengeluarkan pengumuman prediksi bahwa pada Rabu, 31 Januari 2018, akan terjadi gerhana bulan total. Besar kemungkinannya gerhana ini akan dapat diamati di seluruh wilayah Indonesia. Hal yang menarik dari peristiwa ini adalah bahwa pada saat gerhana terjadi posisi bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi, yakni sekitar 360.000 kilometer. Hal ini akan membuat bulan tampak lebih besar dan lebih terang di langit malam. Para pakar astronomi menyebutnya sebagai
supermoon.

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Di negeri Cina, dahulu orang percaya bahwa gerhana terjadi karena seekor naga langit membanjiri sungai dengan darah lalu menelannya. Itu sebabnya orang Cina menyebut gerhana sebagai “chih” yang artinya “memakan”. Di Jepang, dahulu orang percaya bahwa gerhana terjadi karena ada racun yang disebarkan ke bumi. Untuk menghindari air di bumi terkontaminasi oleh racun tersebut, maka orang-orang menutupi sumur-sumur mereka.

Di Indonesia, khususnya Jawa, dahulu orang-orang menganggap bahwa gerhana bulan terjadi karena Batara Kala alias raksasa jahat, memakan bulan. Mereka kemudian beramai-ramai memukul kentongan pada saat gerhana untuk menakut-nakuti dan mengusir Batara Kala. Bagi orang-orang Quraisy di Arab, gerhana bulan dikaitkan dengan kejadian-kejadian tertentu, seperti adanya kematian atau kelahiran seseorang. Kepercayaan ini dipegang secara turun temurun sehingga menjadi keyakinan umum masyarakat di zaman itu.

Di zaman Rasulullah SAW pun, ketika terjadi gerhana matahari yang bersamaan dengan meninggalnya putra Rasul SAW yang bernama Ibrahim, sebagian orang masih menganggap terjadinya gerhana itu karena kematian putra beliau.
Semua kepercayaan itu tak lain adalah mitos atau takhayul yang karena pengetahuan masyarakat tentang alam, khusunya bumi, matahari dan rembulan belum cukup memadai. Sebagian dari mereka bahkan masih memgang kepercayaan yang disebut animisme dan dinamisme. Lalu bagaimanakah Islam memandang fenomena gerhana ini?

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kepercayaan-kepercayaan seperti itu diluruskan oleh Rasulullah SAW. Dalam Islam, gerhana bulan atau matahari adalah bentuk keagungan Allah sebagai Maha Pencipta sebagaimana sabda Rasullah SAW dalam sebuah hadits diriwayatkan Bukhari:

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَﺍْﻟﻘَﻤَﺮَ ﻟَﺎ ﻳَﺨْﺴِﻔَﺎﻥِ ﻟِﻤَﻮْﺕِ ﺍَﺣَﺪٍ ﻭَﻟَﺎ ﻟِﺤَﻴَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻟﻜِﻨَّﻬُﻤَﺎ ﺁﻳَﺘَﺎﻥِ ﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠﻪِ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻤُﻮﻫُﻤَﺎ ﻓَﺼَﻠُّﻮﺍ

Artinya: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka lakukanlah shalat gerhana.” (Shahih Bukhari, 1042).

Dalam hadits tersebut ditegaskan bahwa tidak ada kaitan antara gerhana dengan meninggal atau lahirnya seseorang, baik seseorang itu dari kalangan orang-orang biasa maupun orang-orang terhormat. Tetapi sesungguhnya gerhana adalah tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah sebagai pencipta langit dan bumi serta seluruh alam berserta seluruh isinya. Gerhana tidak hanya merupakan tanda-tanda keberadaan Allah, tetapi juga sekaligus tanda-tanda kekuasaan-Nya. Adanya keteraturan alam raya ini berarti adanya yang mengatur keteraturan itu. Yang Maha Mengatur itulah Tuhan, Allah SWT.
Sungguhpun demikian, meski alam ini memiliki keteraturan, seperti setiap bulan purnama rembulan dapat dilihat secara utuh dengan sinarnya yang indah dan terang benderang dari saat tenggelamnya matahari hingga terbit kembali, selama malam itu di alam terbuka tidak terjadi kegelapan yang berarti meskipun tidak diterangi dengan alat-alat penerang. Di malam itu cahaya bulan purnama cukup terang. Tetapi pada saat-saat tertentu di malam bulan purnama bulan tidak tampak sama sekali selama beberapa waktu karena cahaya matahari terhalang bumi hingga mengakibatkan kegelapan di bulan. Inilah yang disebut gerhana bulan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Gerhana merupakan kejadian luar biasa yang menyimpang dari keteraturan-keteraturan yang diatur sendiri oleh Allah. Allah yang mengatur, Allah pula yang mengatur kejadian luar biasa yang menyimpang dari keteraturan-keteraturan yang ditetapkan-Nya. Ini artinya Allah Maha Berkuasa atas apa pun yang terjadi di alam raya ini. Allah adalah Raja Diraja yang tak satu pun makhluknya mampu melawan kehendak-Nya.
Peristiwa gerhana hendaklah menjadi pengetahuan sekaligus keyakinan bahwa bulan purnama dapat memancarkan cahaya indah dan terang namun lembut, itu terjadi karena Allah menghendaki demikian. Namun, jika Allah menghendaki lain, maka kejadiannya juga akan lain. Memang segala sesuatu terjadi atas izin Allah.
Jika Allah tidak mengijinkan maka sesuatu tidak akan terjadi. Hanya Allah yang bisa memberikan manfaat dan madharat.
Hal seperti itu tidak hanya terjadi pada bulan maupun matahari, tetapi juga dapat terjadi pada banyak hal lainnya. Sebagai contoh misalnya air. Dalam kehidupan sehari-hari manusia membutuhkan air untuk hidup.

Dengan kata lain, air adalah sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Kemanfaatan ini terjadi karena Allah mengijinkannya. Ketika Allah tidak mengijinkan, maka air akan menjadi madharat yang justru dapat mengancam bahkan merenggut jiwa manusia, yakni seperti pada saat banjir besar sebagaimana Tsunami di Aceh pada tahun 2004 yang menewaskan ratusan ribu manusia.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW di atas, bahwa ketika terjadi gerhana, kita dianjurkan melakukan shalat gerhana, maka tokoh-tokoh masyarakat, seperti kiai, ustadz dan para pengurus masjid hendaklah selalu mengikuti informasi mengenai gerhana, baik gerhana bulan maupun matahari. Ketika terjadi gerhana yang sebelumnya dapat diprediksi kapan akan terjadi, maka para tokoh bersama pengurus masjid perlu mengajak masyarakat untuk melakukan shalat gerhana. Kegiatan shalat ini akan mengalihkan masyarakat dari melakukan sesuatu yang besifat takhayul untuk kemudian melakukan ibadah sebagaimana Rasulullah SAW memberikan tuntunan dan keteladanan.
Oleh karena itu, jangan sampai selama hidup kita, sebagai orang Islam kita tidak pernah melakukan shalat gerhana.
Jangan sampai ada masjid tidak pernah menyelenggarakan jamaah shalat gerhana. Menyelenggarakan shalat gerhana tidak sulit. Memang ada perbedaan sedikit terutama mengenai jumlah rukuk dan berdiri serta bacaan surah Al-Faihah beserta surah lainnya, yakni masing-masing dua kali dalam setiap rakaatnya. Laki-laki dan perempuan dianjurkan untuk berjamaah melaksanakan shalat gerhana meski shalat sendirian juga dimungkinkan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits lain yang diriwayatkan Bukhari:

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَﺍْﻟﻘَﻤَﺮَ ﺁﻳَﺘَﺎﻥِ ﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﺨَﺴِﻔَﺎﻥِ ﻟِﻤَﻮْﺕِ ﺍَﺣَﺪٍ ﻭَﻟَﺎ ﻟِﺤَﻴَﺎﺗِﻪِ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻢْ ﺫٰﻟِﻚَ ؛ ﻓَﺎ ﺫْﻛُﺮُﻭْﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ، ﻭَ ﻛَﺒِّﺮُﻭْﺍ، ﻭَﺻَﻠُّﻮْﺍ ، ﻭَ ﺗَﺼَﺪَّﻗُﻮْﺍ .

Artinya: “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena terkait kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka berdzikirlah, bertakbirlah, lakukanlah shalat dan bersedekahlah.” (Shahih Bukhari, 1044).
Jadi selain shalat gerhana, kita juga dianjurkan untuk banyak berdzikir, membaca takbir dan membagikan sedekah. Dzikir dan takbir bisa dilakukan secara khusus, atau setidaknya sudah bisa termasuk di dalam shalat karena shalat juga merupakan dzikir yang di dalamnya banyak diucapkan asma Allah dan takbir. Setelah shalat dan khutbah kita laksanakan, kita bisa saling bersedekah di antara para jamaah, misalnya dengan saling berbagi makanan yang kita bawa dari rumah masing-masing.

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Diharapkan agar para tokoh beserta pengurus masjid dapat senantiasa mengajak warga masyarakat untuk melakukan shalat gerhana, baik gerhana bulan maupun matahari. Demikian juga para warga hendaknya merasa tertarik dan senang untuk melakukan ibadah yang tidak banyak kita temukan kesempatannya. Untuk itu, diperlukan kepedulian terhadap apa yang terjadi pada kedua benda angkasa tersebut. Ini berarti pula bahwa kita sebagai orang Islam harus memperhatikan kejadian-kejadian alam sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan iman dan kedekatan kita kepada Allah SWT.

ﺟَﻌَﻠَﻨﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺇﻳَّﺎﻛﻢ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻔَﺎﺋِﺰِﻳﻦ ﺍﻵﻣِﻨِﻴﻦ، ﻭَﺃﺩْﺧَﻠَﻨَﺎ ﻭﺇِﻳَّﺎﻛﻢ ﻓِﻲ ﺯُﻣْﺮَﺓِ ﻋِﺒَﺎﺩِﻩِ ﺍﻟﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ : ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ، ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ : ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻗُﻮﻟُﻮﺍ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﺳَﺪِﻳﺪًﺍ
ﺑﺎَﺭَﻙَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟِﻲْ ﻭَﻟﻜﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﻘُﺮْﺁﻥِ ﺍﻟﻌَﻈِﻴْﻢِ، ﻭَﻧَﻔَﻌَﻨِﻲْ ﻭَﺇِﻳّﺎﻛُﻢْ ﺑِﺎﻵﻳﺎﺕِ ﻭﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﺤَﻜِﻴْﻢِ . ﺇﻧّﻪُ ﺗَﻌﺎَﻟَﻰ ﺟَﻮّﺍﺩٌ ﻛَﺮِﻳْﻢٌ ﻣَﻠِﻚٌ ﺑَﺮٌّ ﺭَﺅُﻭْﻑٌ ﺭَﺣِﻴْﻢٌ

Khutbah II

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟﻠﻪِ ﻋَﻠﻰَ ﺇِﺣْﺴَﺎﻧِﻪِ ﻭَﺍﻟﺸُّﻜْﺮُ ﻟَﻪُ ﻋَﻠﻰَ ﺗَﻮْﻓِﻴْﻘِﻪِ ﻭَﺍِﻣْﺘِﻨَﺎﻧِﻪِ . ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺍِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃﻥَّ ﺳَﻴِّﺪَﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ ﺍﻟﺪَّﺍﻋِﻰ ﺇﻟﻰَ ﺭِﺿْﻮَﺍﻧِﻪِ . ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭِﻋَﻠَﻰ ﺍَﻟِﻪِ ﻭَﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ﻛِﺜﻴْﺮًﺍ
ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ ﻓَﻴﺎَ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍِﺗَّﻘُﻮﺍﺍﻟﻠﻪَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺃَﻣَﺮَ ﻭَﺍﻧْﺘَﻬُﻮْﺍ ﻋَﻤَّﺎ ﻧَﻬَﻰ ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُﻮْﺍ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺃَﻣَﺮَﻛُﻢْ ﺑِﺄَﻣْﺮٍ ﺑَﺪَﺃَ ﻓِﻴْﻪِ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻭَﺛَـﻨَﻰ ﺑِﻤَﻶ ﺋِﻜَﺘِﻪِ ﺑِﻘُﺪْﺳِﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺗَﻌﺎَﻟَﻰ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻣَﻶﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰ ﻳﺂ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ . ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧﺎَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍَﻧْﺒِﻴﺂﺋِﻚَ ﻭَﺭُﺳُﻠِﻚَ ﻭَﻣَﻶﺋِﻜَﺔِ ﺍْﻟﻤُﻘَﺮَّﺑِﻴْﻦَ ﻭَﺍﺭْﺽَ ﺍﻟﻠّﻬُﻢَّ ﻋَﻦِ ﺍْﻟﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳْﻦَ ﺃَﺑِﻰ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮ ﻭَﻋُﺜْﻤَﺎﻥ ﻭَﻋَﻠِﻰ ﻭَﻋَﻦْ ﺑَﻘِﻴَّﺔِ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔِ ﻭَﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻴْﻦَ ﻭَﺗَﺎﺑِﻌِﻲ ﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻴْﻦَ ﻟَﻬُﻢْ ﺑِﺎِﺣْﺴَﺎﻥٍ ﺍِﻟَﻯﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﻭَﺍﺭْﺽَ ﻋَﻨَّﺎ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻳَﺎ ﺃَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤِﻴْﻦَ
ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻭَﺍْﻟﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﻭَﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍَﻻَﺣْﻴﺂﺀُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍْﻻَﻣْﻮَﺍﺕِ ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺃَﻋِﺰَّ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡَ ﻭَﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺃَﺫِﻝَّ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙَ ﻭَﺍْﻟﻤُﺸْﺮِﻛِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻧْﺼُﺮْ ﻋِﺒَﺎﺩَﻙَ ﺍْﻟﻤُﻮَﺣِّﺪِﻳَّﺔَ ﻭَﺍﻧْﺼُﺮْ ﻣَﻦْ ﻧَﺼَﺮَ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦَ ﻭَﺍﺧْﺬُﻝْ ﻣَﻦْ ﺧَﺬَﻝَ ﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَ ﺩَﻣِّﺮْ ﺃَﻋْﺪَﺍﺀَ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﻭَﺍﻋْﻞِ ﻛَﻠِﻤَﺎﺗِﻚَ ﺇِﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ . ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺍﺩْﻓَﻊْ ﻋَﻨَّﺎ ﺍْﻟﺒَﻼَﺀَ ﻭَﺍْﻟﻮَﺑَﺎﺀَ ﻭَﺍﻟﺰَّﻻَﺯِﻝَ ﻭَﺍْﻟﻤِﺤَﻦَ ﻭَﺳُﻮْﺀَ ﺍْﻟﻔِﺘْﻨَﺔِ ﻭَﺍْﻟﻤِﺤَﻦَ ﻣَﺎ ﻇَﻬَﺮَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻄَﻦَ ﻋَﻦْ ﺑَﻠَﺪِﻧَﺎ ﺍِﻧْﺪُﻭﻧِﻴْﺴِﻴَّﺎ ﺧﺂﺻَّﺔً ﻭَﺳَﺎﺋِﺮِ ﺍْﻟﺒُﻠْﺪَﺍﻥِ ﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻋﺂﻣَّﺔً ﻳَﺎ ﺭَﺏَّ ﺍْﻟﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ . ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨﺎَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻓِﻰ ﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ . ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻇَﻠَﻤْﻨَﺎ ﺍَﻧْﻔُﺴَﻨَﺎ ﻭَﺍﺇﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﺗَﺮْﺣَﻤْﻨَﺎ ﻟَﻨَﻜُﻮْﻧَﻦَّ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺨَﺎﺳِﺮِﻳْﻦَ . ﻋِﺒَﺎﺩَﺍﻟﻠﻪِ ! ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻳَﺄْﻣُﺮُﻧَﺎ ﺑِﺎْﻟﻌَﺪْﻝِ ﻭَﺍْﻹِﺣْﺴَﺎﻥِ ﻭَﺇِﻳْﺘﺂﺀِ ﺫِﻱ ﺍْﻟﻘُﺮْﺑﻰَ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻦِ ﺍْﻟﻔَﺤْﺸﺂﺀِ ﻭَﺍْﻟﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺍْﻟﺒَﻐْﻲ ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺬَﻛَّﺮُﻭْﻥَ ﻭَﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍْﻟﻌَﻈِﻴْﻢَ ﻳَﺬْﻛُﺮْﻛُﻢْ ﻭَﺍﺷْﻜُﺮُﻭْﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﻧِﻌَﻤِﻪِ ﻳَﺰِﺩْﻛُﻢْ ﻭَﻟَﺬِﻛْﺮُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﻛْﺒَﺮْ

Muhammad Ishom , dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

BISMILLAH

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Sebelum Menerima Nama yang ke 100 ini ....
seorang SUFI akan di perlihatkan PROSES PENCIPTAAN ALAM SEMESTA mulai dari belum ada sesuatu kecuali DZAT MAHA MUTLAK ALLAH sampai dengan PROSES PENCIPTAAN DIRINYA SENDIRI seperti yang tertuang dalam Alquran surat Al Kahfi 51 :

(51). ۞ ﻣَﺎ ﺃَﺷْﻬَﺪْﺗُﻬُﻢْ ﺧَﻠْﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻟَﺎ ﺧَﻠْﻖَ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨْﺖُ ﻣُﺘَّﺨِﺬَ ﺍﻟْﻤُﻀِﻠِّﻴﻦَ ﻋَﻀُﺪًﺍ

"..Aku tidak menghadirkan mereka ( Iblis dan anak cucunya ) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak pula penciptaan diri mereka sendiri,dan tidaklah aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebgai penolong.."

Penyaksian ini terjadi agar tercapai tingkat KEYAKINAN YANG SEMPURNA dan PENCAPAIAN TAUHID YANG SEMPURNA pula sebagai mana yang pernah diperlihatkan Allah swt kepada Nabi Ibrahim As sesuai surat Al An'am 75..:

ﻭَﻛَﺬَٰﻟِﻚَ ﻧُﺮِﻱ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻟِﻴَﻜُﻮﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻮﻗِﻨِﻴﻦَ

"..Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim AS tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim AS itu termasuk orang-orang yang yakin..."

Penyaksian ini memperlihatkan seluruh kejadian pencipataan ALAM SEMESTA yang selanjutnya " menjelma atau terangkum " dalam ALQURAN.....
kemudian terangkum lagi dalam Surat ALFATIHAH ( Menjadi Rahasia Surat Al Fatihah ).......
kemudian terangkum lagi dalam kalimat Basmallah ..".. BISMILLAHHIRROH
MANNIRROHIM .."
itu sebabnya ketika kalimat Basmallah ini diturunkan oleh Allah swt menggetarkan seluruh mahkluk di Alam semesta seperti yang tergambar dalam hadist yang diriwayatkan oleh IBNU MARWAUH dari JABIR BIN ABDULLAH Ra,...
Rasulullah Saw :
Ketika ayat "..BISMILLAHHIRROHMANNIRROHIM .." Allah turunkan ,awan - awan bergerak ketimur,angin tidak bergerak tapi laut-laut bergelombang ,binatang-binatang memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama apa yang sedang terjadi,setan-setan dirajam /dilempari panah api dari langit dan Allah bersumpah demi kemuliaanNYA dan ke BESARANNYA bahwa apabila menyebut namaNYA atas sesuatu niscaya Allah limpahkan berkah pada sesuatu itu.."

*****

Tanda titik berjumlah satu, antara lain, diberikan pada dua huruf: ba dan nun. Bentuk kedua huruf tersebut sama persis, kecuali mengenai letak titik. Bila titik disimpan diatas, maka disebut nun. Bila disimpan dibawah, maka disebut ba.
Konon, menurut riwayat, sebelum diri dan dunia diciptakan, lebih dahulu Allah menciptakan kalam

ﻥٓۚ ﻭَﭐﻟۡﻘَﻠَﻢِ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺴۡﻄُﺮُﻭﻥَ
Nuun wal qalami wamaa yasthuruun(a)

1. “Nun [1489] , demi kalam dan apa yang mereka tulis,”
(QS.68:1-6).
Kalam tersebut diperintahkan oleh-Nya untuk mencatat semua khazanah-Nya.
Titik nun melambangkan khazanah yang tersembunyi itu (kuntu kanzan makhfiyyan).
Titik nun lalu diturunkan sehingga ia tidak lagi dilingkupi oleh sebuah wadah. Ketika itu nun berubah menjadi ba, dengan tujuan agar khazanah-Nya dapat dikenal (wa ahbabtu an u’rafu). Setelah itu, Allah menciptakan makhluk (fa khalaqtu al-khalq), sehingga Dia dapat dikenali secara aktual-sebab sudah terdapat pihak lain yang siap sedia secara kodrati mengenalnya. Ketiga proses diatas dirangkum dalam hadis qudsi sebagai berikut,

كنت كنزا مخفيا واحببت ان اعرف فخلقت الخلق ليعرفني

“Kuntu kanzan makhfiyyan wa ahbabtu an u’rafu fa khalaqtu al-khalq li ya’rifuni”
(Aku ialah khazanah yang tersembunyi, dan Aku ingin dikenal, maka Kuciptakan makhluk untuk mengenal-Ku).

Semua itu, menandakan bahwa Allah berkenan bahkan senang apabila tindakan, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya dikenal dan dikenang oleh manusia.

Jadi, titik ba pada pangkal basmalah merupakan pintu gerbang dan sekaligus gudang yang menyimpan segala khazanah-Nya.
Dalam ilmu tafsir disebutkan bahwa Al-Quran mengandung lima tema, yaitu:
1) tauhid,
2) janji dan ancaman,
3) ibadah,
4) jalan menuju kebahagiaan, dan
5) kisah-kisah umat terdahulu.

Kelima tema itu diringkas dalam surah yang pertama: Al-Fatihah. Maka, para ahi tafsir mengatakan Al-Fatihah adalah ringkasan Al-Quran yang terdiri dari 30 juz, 114 surat, 6.236 ayat. Atau disebut al-wafiyah yang berarti “yang mencakup”.

Selanjutnya, sebagian ahli tafsir menjelaskan tema-tema Surah Al-Fatihah diringkas lagi kedalam ayat yang pertama: basmalah.

Dan basmalah diringkas kedalam huruf yang pertama: ba.
Sejalan dengan itu, huruf ba mempunyai kepanjangan
بي كان ما كان وبي يكون ما يكون فوجود العوالم بي
"bi kana ma kana, wa bi yakunu ma yakunu, fa wujud al-awalimi bi"
yang artinya: “Dengan Aku ada apa saja yang telah ada, dan dengan Aku sedang/akan ada apa saja yang sedang/akan ada, maka keberadaan semua alam ada dengan-Ku.”

(Mungkin karena merasa kurang tuntas, sebagian ahli tafsir meneruskan lagi bahwa huruf ba pangkal basmalah itu dapat diringkas kedalam titik dibawah huruf ba atau “titik ba”).

Selain merupakan pangkal dari pangkal Al-Quran, huruf ba adalah huruf yang paling awal diucapkan oleh manusia keturunan Adam.

Ketika manusia diperintahkan bersaksi oleh Allah, “Bukankah Aku adalah Tuhan kalian ?” Maka mereka menjawab serempak, “Bala” (Ya kami bersaksi)

ﻭَﺇِﺫْ ﺃَﺧَﺬَ ﺭَﺑُّﻚَ ﻣِﻦْ ﺑَﻨِﻲ ﺁﺩَﻡَ ﻣِﻦْ ﻇُﻬُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘَﻬُﻢْ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪَﻫُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﺃَﻟَﺴْﺖُ ﺑِﺮَﺑِّﻜُﻢْ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺑَﻠَﻰ ﺷَﻬِﺪْﻧَﺎ ﺃَﻥْ ﺗَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺇِﻧَّﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻋَﻦْ ﻫَﺬَﺍ ﻏَﺎﻓِﻠِﻴﻦ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
(QS.7:172).

Rabu, 24 Januari 2018

Sholawat NU

Lirik Sholawat Nahdliyyah
KH Hasan Abdul Wafi :

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪ
ْ
ﺻَﻠَﺎﺓً ﺗُﺮَﻏِّﺐُ ﻭَﺗُﻨَﺸِّﻂُ

ﻭَﺗُﺤَﻤِّﺲُ ﺑِﻬَﺎ ﺍﻟْﺠِﻬَﺎﺩْ ﻟِﺈِﺣْﻴَﺎﺀْ

ﻭَﺇِﻋْﻠَﺎﺀِ ﺩِﻳْﻦِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡْ

ﻭَﺇِﻇْﻬَﺎﺭِ ﺷَﻌَﺎﺋِﺮِﻩْ ﻋَﻠَﻰ ﻃَﺮِﻳْﻘَﺔِ

ﺟَﻤْﻌِﻴَّﺔِ ﻧَﻬْﻀَﺔِ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀْ

ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍٓﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ

ﺍَﻟﻠّٰﻪْ ﺍَﻟﻠّٰﻪْ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻟﻠّٰﻪ
ْ
ﺛَﺒِّﺖْ ﻭَﺍﻧْﺼُﺮْ ﺃَﻫْﻞَ ﺟَﻤْﻌِﻴَّﺔ
ْ
ﺟَﻤْﻌِﻴَّﺔْ ﻧَﻬْﻀَﺔِ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀْ، ﻟِﺈِﻋْﻠَﺎﺀِ ﻛَﻠِﻤَﺔِ ﺍﻟﻠّٰﻪْ

ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN

SHOLATAN TUROGGHIBU WA TUNASSYITU

WA TUCHAMMISU BIHAL JIHADA LI IHYA’I WA I’LAI DINIL ISLAMI

WA IDZHARI SYA’AIRIHI ‘ALA THORIQOTI JAM’IYYATI NAHDLOTIL ‘ULAMA

WA ‘ALA ALIHI WA SHOHBIHI WA SALLIM

ALLOH, ALLOH, ALLOHU, ALLOH

TSABBIT WANSHUR AHLA JAM’IYYAH
JAM’IYYAH NAHDLOTIL ‘ULAMA
LI I’LAI KALIMATILLAH.

Terjemahan Sholawat Nahdliyyah :

“Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, yang dengan berkah bacaan shalawat ini...

jadikanlah kami senang, rajin, dan semangat dalam berjuang menghidupkan dan meninggikan agama Islam serta menampakkan syi’ar-syi’arnya menurut cara Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Ya Allah, teguhkanlah pendirian dan berikanlah kemenangan bagi warga Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin) untuk meninggikan Kalimatillah (agama Islam dan seluruh ajarannya)“.

Senin, 22 Januari 2018

Zaujaty زوجتى

===>♡♡♡ زوجتي ♡♡♡<===

===>♡♡♡ ZAUJATY  ♡♡♡<===

ﺍﺣﺒﻚ ﻣﺜﻠﻤﺎ ﺍﻧﺖ ﺍﺣﺒﻚ ﻛﻴﻔﻤﺎ ﻛﻨﺖ

Uhibbuki mitsla maa anti Uhibbuki kaifa maa Kunti

Aku mencintaimu apapun dirimu,
Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu

ﻭﻣﻬﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﻬﻤﺎ ﺻﺎﺭ ﺍﻧﺖ ﺣﺒﻴﺒﺘﻰ ﺍﻧﺖ

Wa mahmaa kaana mahmaa shooro, Antii habiibatii anti

Apapun yang terjadi dan kapanpun, Engkaulah cintaku

ﺯﻭﺟﺘﻰ ﺍﻧﺖ ﺣﺒﻴﺒﺘﻰ ﺍﻧﺖ

Zaujatii, Antii habiibatii anti

Duhai istriku, Engkaulah kekasihku

ﺣﻼﻟﻰ ﺍﻧﺖ ﻻ ﺍﺧﺸﻰ ﻋﺰﻭﻻ ﻫﻤﻪ ﻣﻘﺘﻰ
ﻟﻘﺪ ﺍﺫﻥ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻟﻨﺎ ﺑﻮﺻﻞ ﻏﻴﺮ ﻣﻨﺒﺘﻰ

Halaalii anti laa akhsyaa 'azuulan himmuhuu maqti.

Laqod adzinaz zamaanu lanaa biwushlin ghoiri munbatti

Engkau istriku yang halal,
aku tidak peduli celaan orang.
Kita satu tujuan untuk selamanya

ﺳﻘﻴﺖ ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻰ ﻗﻠﺒﻰ ﺑﺤﺴﻦ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻭﺍﻟﺴﻤﺖ
ﻳﻐﻴﺐ ﺍﻟﺴﻌﺪ ﺇﻥ ﻏﺒﺖ ﻭﻳﺼﻔﻮ ﺍﻟﻌﻴﺶ ﺇﻥ ﺟﺌﺖ

Saqoitil hubba fii qolbii bihusnil fi'li wassamti
yaghiibus sa'du in ghibti wa yashful 'aisyu in ji'ti

Engkau sirami cinta dalam hatiku dengan indahnya perangaimu.
Kebahagiaanku lenyap ketika kamu menghilang lenyap.
Hidupku menjadikan terang ketika kamu disana

ﻧﻬﺎﺭﻱ ﻛﺎﺩﺡ ﺣﺘﻰ ﺇﺫﺍ ﻣﺎ ﻋﺪﺕ ﻟﻠﺒﻴﺖ
ﻟﻘﻴﺘﻚ ﻓﺎﻧﺠﻠﻰ ﻋﻨﻲ ﺿﻨﺎﻯ ﺍﺫﺍ ﻣﺎ ﺗﺒﺴﻤﺖ

Nahaarii kaadihun hattaa idzaa maa 'udtu lilbaiti
Laqiituki fanjalaa 'annii dhonaaya idzaa maa tabassamti

Hari-hariku berat sampai aku kembali ke rumah menjumpaimu.
Maka lenyaplah keletihan ketika kamu tersenyum

ﺗﻀﻴﻖ ﺑﻰ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﺫﺍ ﺑﻬﺎ ﻳﻮﻣﺎ ﺗﺒﺮﻣﺖ
ﻓﺄﺳﻌﻰ ﺟﺎﻫﺪﺍ ﺣﺘﻰ ﺍﺣﻘﻖ ﻣﺎ ﺗﻤﻨﻴﺖ

Tadhiiqu biyal hayaatu idzaa bihaa yauman tabarromti.
Fa as'aa jaahidan hattaa uhaqqiqo maa tamannaiti

Jika suatu saat hidupmu menjadi sedih, maka aku akan berusaha keras.
Sampai benar-benar mendapatkan apa yang engkau inginkan

ﻫﻨﺎﺋﻰ ﺍﻧﺖ ﻓﻠﺘﻬﻨﺌﻰ ﺑﺪﻑﺀ ﺍﻟﺤﺐ ﻣﺎ ﻋﺸﺖ
ﻓﺮﻭﺣﺎﻧﺎ ﻗﺪ ﺍﺋﺘﻠﻔﺎ ﻛﻤﺜﻞ ﺍﻻﺭﺽ ﻭﺍﻟﻨﺒﺖ

Hanaa'ii anti faltahna'ii bidif-il hubbi maa 'isyti.
Faruuhanaa qodi'talafaa kamitslil ardhi wannabti

Engkau kebahagiaanku,
tanamkanlah kebahagiaan selamanya.
Jiwa-jiwa kita telah bersatu
bagaikan tanah dan tumbuhan

ﻓﻴﺎ ﺃﻣﻠﻰ ﻭﻳﺎ ﺳﻜﻨﻲ ﻭﻳﺎ ﺍﻧﺴﻲ ﻭﻣﻠﻬﻤﺘﻰ
ﻳﻄﻴﺐ ﺍﻟﻌﻴﺶ ﻣﻬﻤﺎ ﺿﺎﻗﺖ ﺍﻻﻳﺎﻡ ﺍﻥ ﻃﺒﺖ

Fa yaa amalii wa yaa sakanii wa yaa unsii wa mulhimati.
Yathiibul 'aisyu mahmaa dhooqotil ayyamu in thibti

Duhai harapanku, duhai ketenanganku, duhai kedamaianku, duhai ilhamku.
Indahnya hidup ini walaupun hari-hariku berat asalkan engkau bahagia
♡♡♡♡♡♡♡

ﺃُﺣِﺒُّـﻚِ ﻣﺜﻠﻤﺎ ﺃﻧـﺖِ ﺃُﺣِﺒـُّﻚِ ﻛﻴـﻔﻤﺎ ﻛُﻨــْﺖ
ﻭﻣﻬﻤﺎ ﻛﺎﻥَ ﻣﻬﻤــــﺎ ﺻﺎﺭَ ﺃﻧﺖِ ﺣﺒــــــــﻴـﺒﺘﻲ ﺃﻧﺖِ
ﺣَﻼﻟـــــــــﻲ ﺃَﻧﺖِ ﻻ ﺃَﺧْﺸﻰ ﻋَﺬﻭﻻً ﻫَﻤّـُــــــــــــــــــﻪ ﻣَﻘْﺘِﻲ
ﻟﻘﺪْ ﺃَﺫِﻥَ ﺍﻟﺰﻣــــــــــــــــــــــﺎﻥُ ﻟﻨﺎ ﺑِﻮَﺻْﻞٍ ﻏَــــــــــــــــــﻴْﺮِ ﻣﻨْﺒَﺖِّ
ﺳَﻘَﻴْـــﺖِ ﺍﻟﺤُــــــــــــــــــﺐَّ ﻓﻲ ﻗﻠﺒـﻲ ﺑِﺤُﺴـــــــــــــــــْﻦ ﺍﻟﻔﻌﻞِ ﻭﺍﻟﺴَّﻤْﺖِ
ﻳﻐﻴﺐُ ﺍﻟﺴَّﻌـــــــــــــــــــْﺪُ ﺇﻥ ﻏِﺒْﺖِ ﻭﻳَﺼْـــــــــــــــــــــــــﻔﻮ ﺍﻟﻌَﻴْﺶُ ﺇِﻥْ ﺟِﺌْﺖِ
ﻧﻬﺎﺭﻱ ﻛــــــــــــــــــــــــﺎﺩِﺡٌ ﺣﺘﻰ ﺇﺫﺍ ﻣﺎ ﻋُـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــﺪْﺕُ ﻟﻠﺒـﻴﺖِ
ﻟَﻘِﻴﺘُﻚِ ﻓﺎﻧْﺠَـــــــــــــــــــــــــــــﻠﻰ ﻋﻨﻲ ﺿَــــــــــــــــــــــــــــــــــﻨﺎﻱَ ﺇﺫﺍ ﺗَﺒَﺴَّﻤـْﺖِ
ﺗَﻀﻴﻖُ ﺑﻲَ ﺍﻟﺤﻴـــــــــــــــــــــــــــﺎﺓُ ﺇﺫﺍ ﺑﻬﺎ ﻳﻮﻣــــــــــــــــــــــــــــــــــﺎً ﺗَﺒَــﺮَّﻣﺖِ
ﻓﺄَﺳــــــــــــــــــــــــــــــﻌﻰ ﺟﺎﻫـﺪﺍً ﺣﺘﻰ ﺃُﺣَﻘِّﻖَ ﻣــــــــــــــــــــــــــﺎ ﺗَﻤَﻨَّﻴـــْﺖِ
ﻫَﻨــــــــــــــــﺎﺋﻲ ﺃﻧﺖِ ﻓَﻠْﺘَﻬْﻨَﻲْ ﺑِﺪﻑﺀِ ﺍﻟْﺤُـــــــــــــــــــــــــــﺐِّ ﻣَﺎ ﻋِﺸْــﺖِ
ﻓَﺮُﻭﺣَــــــــــــﺎﻧَﺎ ﻗﺪِ ﺍﺋْﺘَﻠَﻔﺎ ﻛَﻤِﺜْﻞِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﺍﻟﻨَّــــــــــــــــــــــــــﺒْـﺖِ
ﻓَﻴَﺎ ﺃَﻣَﻠـــــﻲ ﻭَﻳَﺎ ﺳَﻜَﻨـــــِﻲ ﻭَ ﻳَﺎ ﺃُﻧْﺴِـﻲ ﻭﻣُﻠْﻬِــــــــﻤَﺘِﻲ
ﻳَﻄﻴﺐُ ﺍﻟﻌَﻴْﺶُ ﻣَﻬْﻤَﺎ ﺿَـﺎﻗَﺖِ ﺍﻷﻳﺎﻡُ ﺇِﻥْ ﻃِﺒْﺖِ
♡♡♡♡♡♡♡

I love you the way you are
I love you the way you were
No matter what did or will happen
You are My Darling and will be
My Wifeeey,You are My Darling and will be
I love you the way you are
I love you the way you were
No matter what did or will happen
You are My Darling and will be
My Wife, You're my rightful wife, I don’t fear sin.
I don’t care about those who don't like to reproach and irritate me,
It is our destiny to be Together eternally
In my heart you instilled love With grace and good deeds
Happiness vanishes when you disappear
Life brightens when you're there,
My day is hard Until you return home
Sadness disappears When you smile
I love you the way you are
I love you the way you were
No matter what did or will happen
You are My Darling and will be
My Wife, You are My Darling and will be
Life turns black When you're upset
So I work hard To make your wish come true
You're my happiness. May you be happy forever.
Our souls are united Like soil and plants
You're my hope, my peace my good company and inspiration
Life is good, no matter how hard it is, When you're fine
You're my hope, my peace my good company and inspiration
Life is good, no matter how hard it is, When you're fine
I love you the way you are
I love you the way you were
No matter what did  or will happen
You are My Darling and will be
My Wife, You are My Darling and will be

ربنا هب لنا من ازواجنا وذريتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين اماما....

Minggu, 21 Januari 2018

Tahapan zikir nafas

DZIKIR NAFAS HUU ALLAH

1. Zikir Nafas Hu Allah

Ziikir Nafas adalah Proses zikir yang diikuti dengan irama naik-turun nafas.
Dzikir ini adalah Zikir SIR, karena tanpa ada Kata - Kata dan Suara

Lafaz zikir Nya adalah Huu Allah

Ketika Menghirup Nafas Maka zikirnya "Huu"

Ketika Menghembuskan Nafas zikirnya "Allah"

2. Zikir Nafas Tahap Shudur

Pada saat Berzikir NAFAS maka harus di-iringi dengan Shudur atau rongga yang ada dalam diri kita MEMBUKA, MELAPANGKAN, MELEPASKAN Beban dan kekakuan, Menghilangkan segala Keinginan atau kebesaran diri.

Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan MEMBUKAKAN Shudur (Rongga) nya untuk berserah diri (islam). Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan Shudur 9Rongga) nya sempit dan sesak, seakan - akan dia mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang - orang yg tidak beriman.(Qs.6:125)...orang - orang yg DIBUKAKAN Shudur-nya oleh Allah untuk berserah diri lalu dia mendapat Cahaya dari Tuhannya.....(Qs.39:22)Dia (Musa) berkata; ya Tuhanku, LAPANGKANLAH Shudur-ku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.(Qs.20:25-28)Dia (Musa) berkata; ya Tuhanku, sungguh aku takut mereka akan mendustakan aku, sehingga Shudur-ku terasa SEMPIT dan lidahku tidak lancar, maka utuslah Harun.(Qs.26:12-13)...yang ada dalam Shudur mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia maha mendengar, maha melihat.(Qs.40:56)Bukankah Kami telah Melapangkan Shudur-mu (Muhammad)? Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu, yg memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan sebutan (nama) mu bagimu, maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sungguh bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Maka apabila engkau telah KOSONG. Maka Bersungguh-sungguhlah, dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.(Qs.94:1-8)

3. Dzikir Nafas Pada Tahap Qolbu

Qolbu mempunyai sifat Bolak-Balik Condong kepada Kesesatan dan Condong Kepada Kebenaran.

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau codongkan Hati kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau maha pemberi.(Qs.3:8)

Jika kamu bertobat kepada Allah, maka sungguh, Hati kamu berdua telah condong (kepada kebenaran)....(Qs.66:4)

Pada Saat Zikir Nafas, maka kita harus Melapangkan Shudur (Rongga) yang ada dalam diri kita, serta Menenangkan Qolbu (Hati) kita agar tidak Berbolak Balik, dan Condong kepada Kebenaran.

Orang - orang yg beriman dan Hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah Hati menjadi tentram.(Qs.13:28)

Qolbu Yang Condong Kepada Kesesatan;

Mempunyai sifat Hati yang Terkunci, karena ada Penyakit, Hatinya Keras seperti Batu, Hatinya Tertutup, Terisi Gambaran sifat Binatang, Sehingga Hatinya Kotor tertutup Oleh Hawa nafsu keinginannya, Sehingga Lupa Untuk Mengingat Allah.

Allah telah mengunci Hati (Qolbu) dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yg berat.(Qs.2:8)Dalam Hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka mendapat azab yg pedih, karena mereka berdusta.(Qs.2:10)Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga seperti batu, bahkan lebih keras...(Qs.2:74)Karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan Hati mereka keras membatu...(Qs.5:13)Dan mereka berkata; Hati kami tertutup. Tidak! Allah telah melaknat mereka itu karena keingkaran mereka, tetapi sedikit sekali mereka yg beriman.(Qs.2:88)..Dan dimasukkanlah ke dalam Hati mereka itu (kecintaan menyembah patung) anak sapi karena kekafiran mereka. Katakanlah, sangat buruk apa yg diperintahkan oleh kepercayaanmu kepadamu jika kamu orang - orang beriman! (Qs.2:93)..Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia, dan janganlah engkau mengikuti orang yg Hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.(Qs.18:28....Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena barang siapa menyembunyikannya, sungguh Hatinya kotor (berdosa). Allah maha mengetahui apa yg kamu kerjakan.(Qs.2:283))Maka pernahkah kamu melihat orang yg menjadikan Hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dgn sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan Hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya?...(Qs.45:23)...mereka itulah orang-orang yg dikunci Hatinya oleh Allah, dan mengikuti keinginannya.(Qs.47:16)Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yg tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena yang terkandung dalam Hatimu. Allah maha pengampun, maha penyantun.(Qs.2:225).....bangkit nafsu orang yg ada penyakit dalam Hatinya,.....(Qs.33:32)Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yg tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena yang terkandung dalam Hatimu. Allah maha pengampun, maha penyantun.(Qs.2:225)

Qolbu yang Condong Kepada Kebenaran;

Mempunyai Sifat Menyesal, Tobat, lemah lembut, Beriman, Ber-Takwa, Memahami atau Berakal, Bersatu, Bersih, Ingat Kepada Allah, Tenang, dan Mendapat Ruhul Al-Amin

...Allah hendak menimbulkan rasa penyesalan di Hati mereka....(Qs.3:156)...dia datang dengan Hati yg bertobat, masuklah ke (dalam surga) dgn aman dan damai. Itulah hari yg abadi.(Qs.50:33-34)Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan Ber-Hati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu...(Qs.3:159)...Orang-orang yg mengatakan dgn mulut mereka; kami telah beriman, padahal Hati mereka belum beriman...(Qs.5:41)Orang-orang Arab Badui berkata; Kami telah beriman. Katakanlah; kamu belum beriman, tetapi katakanlah; kami telah tunduk, karena iman belum masuk ke dalam Hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rosul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun amalmu. Sungguh, Allah Maha pengampun, maha penyayang.(Qs.49:14)...Dan barang siapa mengagungkan syi'ar - syi'ar Allah maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan Hati.(Qs.22:32Dan sungguh, akan Kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki Hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka memiliki mata tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka punya telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang - orang yang lupa.(Qs.7:179)Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga Hati mereka memahami (ya'qilun), telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yg buta, tetapi yg buta ialah Hati yg di dalam Shudur.(Qs.22:46)Dan Dia yg mempersatukan Hati mereka. Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yg berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan Hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan Hati mereka. Sungguh, Dia mahaperkasa, maha bijaksana.(Qs.8:63)Orang - orang yg beriman dan Hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah Hati menjadi tentram.(Qs.13:28)Kecuali orang - orang yg menghadap Allah dengan Hati yang bersih, dan surga didekatkan kepada orang - orang yg bertakwa.(Qs.26:89-90)...Allah (berbuat demikian) untuk Menguji apa yg ada dalam dada (Shudur) mu dan untuk Membersihkan apa yg ada dalam Hati (Qolbu) mu...(Qs.3:154.....kemudian menjadi tenang kulit dan Hati mereka ketika mengingat Allah...(Qs.39:23)Dialah yg telah menurunkan ketenangan ke dalam Hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka...(Qs.48:4)Dan sungguh, ini benar - benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, yg dibawa turun oleh Ruhul Amin, ke dalam Hatimu agar engkau termasuk orang yg memberi peringatan.(Qs.26:192-194)...dia (jibril) lah yg telah menurunkan ke dalam Hatimu dgn izin Allah, membenarkan apa (kctab - kitab) yg terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang - orang beriman.(Qs.2:97)

4. Zikir Pada Tahap Nafs (Diri/Jiwa)

Zikir Yang sudah tahap Nafs adalah Dzikir Maut, maka dia akan BerJihad mengorbankan Nafs (Ke-aku-an) nya, Membunuh Nafs (Ke-aku-an) nya, Mematikan Nafs (diri) sebelum Mati.

Metode Zikir pada tahap ini, kita Harus Menahan Nafas, Menahan Panca Inderawi kita.

Metode Zikir ini, adalah Metode Mati Sebelum Mati, Metode Masuk Ke dalam diri.

Kita tidak akan pernah bisa meniadakan wujud keberadaan diri, sebelum meniadakan Qudrat (kuasa/fikiran/angan2), Irodat (kehendak), dan ilmu (pengetahuan). Dan kita tidak akan pernah bisa meniadakan Qudrat, irodat, dan ilmu sebelum meniadakan pendengaran, penglihatan, perkataan, dan nafas hidup.

Dan ingatlah Tuhanmu dalam Nafs (Jiwa) mu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah. Sesungguhnya orang-orang yg ada di sisi Tuhanmu tidak merasa enggan untuk menyembah Allah dan mereka menyucikan-Nya dan hanya kepada-Nya mereka bersujud.(Qs.8:205-206)Barang siapa mengharap Pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya Waktu Allah pasti datang. Dan Dia maha mendengar, maha mengetahui. Dan barang siapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk Nafs (diri)nya sendiri. Sungguh, Allah maha kaya dari seluruh Alam.(Qs.29:5-6)Dan di antara manusia ada orang yg mengorbankan Nafs (jiwa) nya untuk mencari keridhoan Allah. Dan Allah maha Penyantun kepada hamba-hamba Nya. Wahai orang-orang yg beriman! Masuklah ke dalam Penyerahan diri (islam) secara Total keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yg nyata bagimu.(Qs.2:207-208)Semua Nafs akan merasakan mati...(QS.3:185)...Bunuhlah Nafs (diri) mu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu....(Qs.4:66)Wahai Nafs (Jiwa) yang Tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.(Qs.89:27-30)

5. Dzikir Tahap Ruh

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al-A’raf : 172)

6. Dzikir Tahap Nur ala Nur (Cahaya Di atas Cahaya)

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat per­umpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu. (QS. 24:35) 

7. Dzikir Tahap Fana' Fi Dzatullah

Segala sesuatu Musnah (Tiada) kecuali Wajah-Nya yg kekal.(Qs.28:88)

Zikir هو الله

DZIKIR HUU ALLAH TERDAPAT SEMBILAN KATA DI ALQURAN,
HAL INI SEPERTI SEMBILAN LUBANG KELUAR MASUKNYA HAWA NAFSU DI DIRI MANUSIA
ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ
YAITU;
ﻭ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ﻭﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ , ﻳﻌﻠﻢ ﺳﺮﻛﻢ ﻭﺟﻬﺮﻛﻢ ﻭﻳﻌﻠﻢ ﻣﺎ ﺗﻜﺴﺒﻮﻥ ﴿ ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ : ٣ ﴾
﴾ Al An'am:3 ﴿ Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan  .
ﻟﻜﻨﺎ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺑﻲ ﻭﻻ ﺃﺷﺮﻙ ﺑﺮﺑﻲ ﺃﺣﺪﺍ ﴿ ﺍﻟﻜﻬﻒ : ٣٨ ﴾
﴾ Al Kahfi:38 ﴿ Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan .Tuhanku
ﻭ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﻫﻮ , ﻟﻪ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻓﻲ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻭﺍﻵﺧﺮﺓ , ﻭﻟﻪ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﻭﺇﻟﻴﻪ ﺗﺮﺟﻌﻮﻥ ﴿ ﺍﻟﻘﺼﺺ : ٧۰ ﴾
﴾ Al Qashash:70 ﴿Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nya-lah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nya-lah segala penentuan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan .
ﻗﻞ ﺃﺭﻭﻧﻲ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﻟﺤﻘﺘﻢ ﺑﻪ ﺷﺮﻛﺎﺀ , ﻛﻼ , ﺑﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ ﴿
ﺳﺒﺈ : ٢٧ ﴾
﴾ Saba':27 ﴿ Katakanlah: "Perlihatkanlah kepadaku sembah-sembahan yang kamu hubungkan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu-Nya, sekali-kali tidak mungkin! Sebenarnya Dialah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana .
ﻟﻮ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺘﺨﺬ ﻭﻟﺪﺍ ﻻﺻﻄﻔﻰ ﻣﻤﺎ ﻳﺨﻠﻖ ﻣﺎ ﻳﺸﺎﺀ , ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ , ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻮﺍﺣﺪ ﺍﻟﻘﻬﺎﺭ ﴿ ﺍﻟﺰﻣﺮ : ٤ ﴾
﴾ Az Zumar:4 ﴿ Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Maha Suci Allah. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan .
ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﻫﻮ , ﻋﺎﻟﻢ ﺍﻟﻐﻴﺐ ﻭﺍﻟﺸﻬﺎﺩﺓ , ﻫﻮ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ ﴿ ﺍﻟﺤﺸﺮ : ٢٢ ﴾
﴾ Al Hasyr:22 ﴿ Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang .
ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺍﻟﻘﺪﻭﺱ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺍﻟﻤﻬﻴﻤﻦ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺍﻟﺠﺒﺎﺭ ﺍﻟﻤﺘﻜﺒﺮ , ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻤﺎ ﻳﺸﺮﻛﻮﻥ ﴿
ﺍﻟﺤﺸﺮ : ٢٣ ﴾
﴾ Al Hasyr:23 ﴿ Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang
Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan .
ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺨﺎﻟﻖ ﺍﻟﺒﺎﺭﺉ ﺍﻟﻤﺼﻮﺭ , ﻟﻪ ﺍﻷﺳﻤﺎﺀ ﺍﻟﺤﺴﻨﻰ , ﻳﺴﺒﺢ ﻟﻪ ﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ﻭﺍﻷﺭﺽ , ﻭ ﻫﻮ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ ﴿ﺍﻟﺤﺸﺮ : ٢٤﴾
﴾ Al Hasyr:24 ﴿ Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana .
ﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ ﴿ ﺍﻹﺧﻼﺹ : ١ ﴾
﴾ Al Ikhlash:1 ﴿ Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa .

Makmum di serambi masjid

Umat Islam yang sholat berjamaah memenuhi tempat-tempat ibadah baik masjid ataupun musholla, sehingga sering kali tempat ibadah tersebut tidak mampu menampung. Tak jarang pula jamaah memenuhi seluruh bangunan termasuk serambi atau teras yang tidak ada jalan (pintu) yang tembus menuju Imam, kecuali harus berputar sehingga membelakangi kiblat.
Pertanyaan
a. Bagaimana hukum sholatnya makmum yang berada di serambi atau teras tersebut?
b. Adakah hukum yang berbeda antara tempat ibadah berupa masjid, musholla dan atau yang lainnya?
c. Bagi selain masjid yang jalan menuju Imam harus berpaling dari kiblat, adakah ruhshoh dengan alasan penuhnya jamaah?

*****

Jawaban a

Sah Jika di masjid dan tidak sah jika di selain masjid.
Karena bagi makmum dan Imam yang dalam satu masjid hanya terdapat beberapa syarat:
1) menngetahui sholatnya imam;
2) tidak berada di depan Imam;
3) memungkinkan ada jalan menuju Imam meskipun dengan cara berpaling dari kiblat;
sedangkan di selain masjid jalan menuju Imam tersebut disyaratkan tidak boleh dengan cara berpaling dari kiblat.

ﺍﻟﺒﺎﺟﻮﺭﻱ ١ /١٩٨ - ١٩٩ :
ﻓﻘﺪ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻟﻬﺬﻩ ﺍﻟﺤﺎﻟﺔ ﻭﻫﻲ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻧﺎ ﺑﺎﻟﻤﺴﺠﺪ ﺷﺮﻃﻴﻦ ﺍﻷﻭﻝ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺼﻼﺓ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﺘﻘﺪﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻳﺸﺘﺮﻁ ﺃﻳﻀﺎ ﺃﻥ ﻳﻤﻜﻦ ﺍﻹﺳﺘﻄﺮﺍﻕ ﻋﺎﺩﺓ ﺍﻟﻰ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻭﻟﻮ ﺑﺎﺯﻭﺭﺍﺭ ﻭ ﺍﻧﻌﻄﺎﻑ ﺃﻯ ﺍﻧﺤﺮﺍﻑ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻭ ﺍﺳﺘﺪﺑﺎﺭ ﻟﻬﺎ ﻓﻼ ﻳﻀﺮ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭ ﺇﻥ ﺑﻌﺪﺕ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺔ ﻭ ﺣﺎﻟﺖ ﺃﺑﻨﻴﺔ ﻧﺎﻓﺬﺓ ﺇﻟﻴﻪ .

ﺑﻐﻴﺔ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺷﺪﻳﻦ ٧٠ :
ﻣﺴﺌﻠﺔ ﻣﻦ ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﻘﺪﻭﺓ ﺍﺟﺘﻤﺎﻉ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﻓﻲ ﻣﻜﺎﻥ ﺛﻢ ﺇﻥ ﺟﻤﻌﻬﻤﺎ ﻣﺴﺠﺪ ﻭ ﻣﻨﻪ ﺟﺪﺍﺭﻩ ﻭ ﺭﺣﺒﺘﻪ ﺑﻔﺘﺢ ﺍﻟﺤﺎﺀ __ ﻭ ﻣﻨﺎﺭﺗﻪ ﺍﻟﺘﻲ ﺑﺎﺑﻬﺎ ﻓﻴﻪ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺭﺣﺒﺘﻪ ﻻ ﺣﺮﻳﻤﻪ ___ ﻓﺎﻟﺸﺮﻁ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻧﺘﻘﺎﻻﺕ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻭﺇﻣﻜﺎﻥ ﺍﻟﻤﺮﻭﺭ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺇﺯﻭﺭﺍﺭ ﻭﺍﻧﻌﻄﺎﻑ ﺑﺄﻥ ﻳﻮﻟﻰ ﻇﻬﺮﻩ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻓﻬﻤﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺎﺳﻮﺩﺍﻥ ﻣﻦ ﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ ﻟﻜﻦ ﺭﺟﺢ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﺑﻦ ﻗﺎﺿﻲ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﻀﺮﺭ ﺍﻹﺯﻭﺭﺍﺭ ﻭﺍﻹﻧﻌﻄﺎﻑ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻣﻄﻠﻘﺎ . ﻭ ﻛﻤﺎ ﻳﺄﺗﻲ ﻓﻲ ﻯ ﻭ ﻻ ﻳﻀﺮ ﻏﻠﻖ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻭ ﻛﺬﺍ ﺗﺴﻤﻴﺮﻩ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ ﺧﻼﻓﺎ ﻟﻢ ﺭ
ﺍﻟﺒﺎﺟﻮﺭﻱ ١/١٩٩ :
ﻭﻫﻮ ﺃﻯ ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﻋﺎﻟﻢ ﺑﺼﻼﺗﻪ ﺃﻯ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺑﻤﺸﺎﻫﺪﺓ ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﻟﻪ ﺃﻭ ﺑﻤﺸﺎﻫﺪﺗﻪ ﺑﻌﺾ ﺻﻒ ﺃﺟﺰﺃﻩ ﺃﻯ ﻛﻔﺎﻩ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺻﺤﺔ ﺍﻹﻗﺘﺪﺍﺀ ﺑﻪ، ﻭﻗﻮﻟﻪ ﺃﻭ ﺑﻤﺸﺎﻫﺪﺗﻪ ﺑﻌﺾ ﺻﻒ ﺃﻯ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻛﺴﻤﺎﻉ ﺻﻮﺕ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﻭ ﺻﻮﺕ ﻣﺒﻠﻎ ﻭﻟﻮ ﻓﺎﺳﻘﺎ ﻭﻗﻊ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ ﺻﺪﻗﻪ ﻓﻼ ﻳﺸﺘﺮﻁ ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺪﻻ ﻭﺇﻥ ﺃﻭﻫﻤﻪ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﻤﺤﺸﻲ ﺑﻞ ﺍﻟﻤﺪﺍﺭ ﻋﻠﻰ ﻭﻗﻮﻉ ﺻﺪﻗﻪ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﺼﻠﻴﺎ ﻭﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ ﻫﺪﺍﻳﺔ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻩ ﻟﻪ .
ﺑﺠﻴﺮﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ ﺝ 2 ﺹ :149
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻘَﻤُﻮﻟِﻲُّ : ﻭَﻟَﻮْ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﺑِﺼَﺤْﻦِ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺄْﻣُﻮﻡُ ﺑِﺴَﻄْﺢِ ﺩَﺍﺭِﻩِ ﺍُﺷْﺘُﺮِﻁَ ﻟِﺼِﺤَّﺔِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻣَﻜَﺎﻥُ ﺍﻟِﺎﺳْﺘِﻄْﺮَﺍﻕِ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﺯْﻭِﺭَﺍﺭٍ ﻭَﺍﻧْﻌِﻄَﺎﻑٍ ، ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻜْﻔِﻲ ﺍﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓُ ﺯ ﻱ ﻭَ ﺃ ﺝ .
ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﺰﻳﻦ ﺹ 121 :

‏( ﻭ ‏) ﺍﻟﺜَّﺎﻟِﺚ ‏( ﻋﻠﻢ ﺑﺎﻧﺘﻘﺎﻻﺕ ﺇِﻣَﺎﻡ ‏) ﺑِﺮُﺅْﻳَﺘِﻪِ ﺃَﻭ ﺭُﺅْﻳَﺔ ﺻﻒ ﺃَﻭ ﺑﻌﻀﻪ ﺃَﻭ ﺳَﻤﺎﻉ ﺻَﻮﺗﻪ ﺃَﻭ ﺻَﻮﺕ ﻣﺒﻠﻎ ﺛِﻘَﺔ ﺃَﻭ ﺑﺮﺍﺑﻄﺔ ﻭَﻫُﻮَ ﺷﺨﺺ ﻳﻘﻒ ﺃَﻣَﺎﻡ ﻣﻨﻔﺬ ﻛﺎﻟﺒﺎﺏ ﻟﻴﺮﻯ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﺃَﻭ ﺑﻌﺾ ﺍﻟْﻤَﺄْﻣُﻮﻣﻴﻦ ﻓﻴﺘﺒﻌﻪ ﻣﻦ ﺑﺠﺎﻧﺒﻪ ﺃَﻭ ﺧَﻠﻔﻪ ﻭَﺇِﻥ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﺑﺎﻧﺘﻘﺎﻻﺕ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﺍﻛْﺘﻔﻰ ﺑِﻌِﻠْﻤِﻪِ ﺑﺎﻧﺘﻘﺎﻻﺕ ﺍﻟﺮﺍﺑﻄﺔ ﻓَﻴﻜﻮﻥ ﺍﻟﺮﺍﺑﻄﺔ ﻛَﺎﻟْﺈِﻣَﺎﻡِ ﻟَﻬُﻢ ﻓَﻴﺸْﺘَﺮﻁ ﺃَﻻ ﻳﺘﻘﺪﻣﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤﻮﻗﻒ ﻭَﻟَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺣْﺮَﺍﻡ ﻭَﺃَﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣِﻤَّﻦ ﺗﺼﺢ ﺇِﻣَﺎﻣَﺘﻪ ﻟَﻬُﻤﻮَﺃﻻ ﻳﺨﺎﻟﻔﻮﻩ ﻓِﻲ ﺃَﻓﻌﺎﻟﻪ ﻭَﺇِﻥ ﺧَﺎﻟﻒ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﺣَﺘَّﻰ ﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﺑﻄﻲﺀ ﺍﻟْﻘِﺮَﺍﺀَﺓ ﻭﺗﺨﻠﻒ ﺑِﺜَﻠَﺎﺛَﺔ ﺃَﺭْﻛَﺎﻥ ﻃَﻮِﻳﻠَﺔ ﻭَﺟﺐ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢ ﺍﻟﺘَّﺄَﺧُّﺮ ﻣَﻌَﻪ ﻭَﺇِﺫﺍ ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﺗﺎﺑﻌﻮﺍ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﺍﻟْﺄَﺻْﻠِﻲّ ﺇِﻥ ﻋﻠﻤُﻮﺍ ﺑﺎﻧﺘﻘﺎﻻﺗﻪ ﻭَﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺟﺐ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢ ﻧِﻴَّﺔ ﺍﻟْﻤُﻔَﺎﺭﻗَﺔ ﻭَﻣَﺘﻰ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻴﻦ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻭَﺍﻟْﻤَﺄْﻣُﻮﻡ ﺣَﺎﺋِﻞ ﻓَﻠَﺎ ﺑُﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺍﺑﻄﺔ ﺑِﺎﻟْﻮَﺟْﻪِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻘَﺪّﻡ ﻭَﺑِﻤَﺎ ﺗﻘﺮﺭ ﻋﻠﻢ ﺃَﻧﻪ ﻟَﺎ ﻳَﺼﺢ ﺍﻗْﺘِﺪَﺍﺀ ﺃﻋﻤﻰ ﺃَﺻﻢّ ﺇِﻟَّﺎ ﺑﻬﺪﺍﻳﺔ ﺛِﻘَﺔ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﻧﻪ ﻟَﺎ ﺑُﺪ ﻣﻦ ﻛَﻮﻥ ﺍﻟْﺄَﻓْﻌَﺎﻝ ﻓِﻲ ﺻَﻠَﺎﺓ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻇَﺎﻫِﺮَﺓ ‏( ﻭ ‏) ﺍﻟﺮَّﺍﺑِﻊ ‏( ﺍﺟْﺘِﻤَﺎﻋﻬﻤَﺎ ‏) ﺃَﻱ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻭَﺍﻟْﻤَﺄْﻣُﻮﻡ ‏( ﺑﻤَﻜَﺎﻥ ‏) ﺑِﺄَﻥ ﻟَﺎ ﺗﺰﻳﺪ ﺍﻟْﻤﺴَﺎﻓَﺔ ﺑَﻴﻨﻬﻤَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺑَﻴﻦ ﻛﻞ ﺻﻔّﻴﻦ ﺃَﻭ ﺷَﺨْﺼَﻴْﻦِ ﻣِﻤَّﻦ ﺍﺋﺘﻢ ﺑِﺎﻟْﺈِﻣَﺎﻡِ ﺧَﻠﻔﻪ ﺃَﻭ ﺑﺠﺎﻧﺒﻪ ﻋﻠﻰ ﺛَﻠَﺎﺛﻤِﺎﺋَﺔ ﺫِﺭَﺍﻉ ﺑِﺬِﺭَﺍﻉ ﺍﻟْﺂﺩَﻣِﻲّ ﺗَﻘْﺮِﻳﺒًﺎ ﻓﻴﻐﺘﻔﺮ ﺯِﻳَﺎﺩَﺓ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔ ﺃَﺫْﺭﻉ ﻓَﺄَﻗﻞ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﺸَّﺮْﻁ ﻋَﺎﻡ ﻓِﻴﻤَﻦ ﻭﻗﻒ ﻓِﻲ ﻋﻠﻮ ﻭﺇﻣﺎﻣﻪ ﻓِﻲ ﺳﻔﻞ ﺃَﻭ ﻋَﻜﺴﻪ ﻋﻠﻰ ﻣَﺎ ﺭَﺟﺤﻪ ﺍﻟﻨَّﻮَﻭِﻱّ ﺧﻼﻓًﺎ ﻟﻤﻦ ﻗَﺎﻝَ ﺑِﺸَﺮْﻁ ﺍﻟْﻤُﺤَﺎﺫَﺍﺓ ﻟﻤﻦ ﺫﻛﺮ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﺗﻜﻮﻥ ﺭَﺃﺱ ﺍﻟْﺄَﺳْﻔَﻞ ﺍﻟﻤﻌﺘﺪﻝ ﺍﻟْﻘَﺎﻣَﺔ ﺗﻼﻗﻲ ﻗﺪﻡ ﺍﻟْﺄَﻋْﻠَﻰ ﻟَﻮ ﺫﻫﺐ ﺍﻟْﻤُﻘﺪﻡ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺨﻠﻒ ﻭَﻟَﺎ ﻳﺠﺐ ﻓِﻲ ﺍﻟﻔﻀﺎﺀ ﻏﻴﺮ ﺫَﻟِﻚ ﻓَﺈِﻥ ﻛَﺎﻧَﺎ ﻓِﻲ ﺑِﻨَﺎﺀ ﺃَﻭ ﺑﻨﺎﺀﻳﻦ ﺃَﻭ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣﺪﻫﻤَﺎ ﻓِﻲ ﻓﻀﺎﺀ ﻭَﺍﻟْﺂﺧﺮ ﻓِﻲ ﺑِﻨَﺎﺀ ﻭﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ﻏﻴﺮ ﻣَﺴْﺠِﺪ ﺍﺷْﺘﺮﻁ ﻣَﻊَ ﻣَﺎ ﻣﺮ ﺁﻧِﻔﺎ ﻋﺪﻡ ﺣَﺎﺋِﻞ ﺑَﻴﻨﻬﻤَﺎ ﻳﻤْﻨَﻊ ﺍﻟﺮُّﺅْﻳَﺔ ﺃَﻭ ﺍﻻﺳﺘﻄﺮﺍﻕ ﺍﻟﻌﺎﺩﻱ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﻟَﻮ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟْﻮُﺻُﻮﻝ ﻟﻠْﺈِﻣَﺎﻡ ﻟَﺎ ﻳُﻤﻜﻨﻪُ ﺃَﻭ ﻳﺴﺘﺪﺑﺮ ﺍﻟْﻘﺒْﻠَﺔ ﻭَﻳُﻘَﺎﻝ ﻟﻬَﺬَﺍ ﺇﺯﻭﺭﺍﺭ ﻭﺍﻧﻌﻄﺎﻑ ﻓَﻠَﺎ ﻳﻀﺮ ﻛَﻮﻧﻬَﺎ ﻋَﻦ ﻳَﻤِﻴﻨﻪ ﺃَﻭ ﻳﺴَﺎﺭﻩ ﻋﻠﻰ ﻓﺮﺽ ﻭُﺻُﻮﻟﻪ ﻟﻠْﺈِﻣَﺎﻡ ﻭَﻋﻠﻢ ﻣﻦ ﺗَﺼْﻮِﻳﺮ ﻣﻨﻊ ﺍﻟْﻤُﺮُﻭﺭ ﺍﻟﻌﺎﺩﻱ ﺑِﻤَﺎ ﺫﻛﺮ ﺃَﻥ ﺍﻋْﺘِﺒَﺎﺭ ﺍﻟْﻤُﺮُﻭﺭ ﺍﻟﻌﺎﺩﻱ ﻓِﻲ ﻛﻞ ﻣَﻜَﺎﻥ ﺑِﺤَﺴﺒِﻪِ ﻭَﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﻮُﺻُﻮﻝ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﺑﺎﻧﺤﻨﺎﺀ ﻣﺜﻼ ﻓﺎﻟﻤﺪﺍﺭ ﻋﻠﻰ ﺇِﻣْﻜَﺎﻥ ﺍﻟْﻮُﺻُﻮﻝ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺍﺳﺘﺪﺑﺎﺭ ﺍﻟْﻘﺒْﻠَﺔ ﻓَﻠَﻮ ﺣَﺎﻝ ﺑَﻴﻨﻬﻤَﺎ ﺟِﺪَﺍﺭ ﻟَﺎ ﺑَﺎﺏ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﻭ ﺑَﺎﺏ ﻣﺴﻤﺮ ﺃَﻭ ﻣﻐﻠﻖ ﺃَﻭ ﻣَﺮْﺩُﻭﺩ ﺃَﻭ ﺷﺒﺎﻙ ﻣﻨﻊ ﺻِﺤَﺔ ﺍﻟِﺎﻗْﺘِﺪَﺍﺀ ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻣﻦ ﺍﻟْﺤَﺎﺋِﻞ ﺍﻟﻨَّﻬﺮ ﻭَﻟَﻮ ﺃﺣْﻮﺝ ﺇِﻟَﻰ ﺳﺒﺎﺣﺔ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟﺸَّﺎﺭِﻉ ﻭَﺇِﻥ ﻛﺜﺮ ﻃﺮﻭﻗﻪ ﻓَﻠَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣﺪﻫﻤَﺎ ﺑﺪﻛﺎﻥ ﻭَﺍﻟْﺂﺧﺮ ﺑِﺄُﺧْﺮَﻯ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻒّ ﺍﻟْﻤُﻘَﺎﺑﻞ ﻟَﻪُ ﺻَﺢَّ ﻭَﻟَﻮ ﻭﻗﻒ ﺃَﺣﺪﻫﻤَﺎ ﺑﺴﻄﺢ ﻭَﺍﻟْﺂﺧﺮ ﺑﺴﻄﺢ ﺁﺧﺮ ﻓِﻲ ﺻﻒ ﺛَﺎﻥ ﺻَﺢَّ ﺇِﻥ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﻤﻜﻦ ﺍﻟْﻮُﺻُﻮﻝ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺴﻄﺤﻴﻦ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻵﺧﺮ ﻛَﺄَﻥ ﻳَﺠْﻌَﻞ ﺑَﻴﻨﻬﻤَﺎ ﻧَﺤْﻮ ﺇﺳﻘﺎﻟﺔ ‏( ﻓَﺈِﻥ ﻛَﺎﻧَﺎ ﺑِﻤَﺴْﺠِﺪ ‏) ﻓﺎﻟﻤﺪﺍﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟْﻌﻠﻢ ﺑﺎﻻﻧﺘﻘﺎﻻﺕ ﺑﻄﺮِﻳﻖ ﻣﻦ ﺍﻟﻄّﺮﻕ ﺍﻟْﻤُﺘَﻘَﺪّﻣَﺔ ﻭَﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ ‏( ﺻَﺢَّ ﺍﻟِﺎﻗْﺘِﺪَﺍﺀ ‏) ﻭَﺇِﻥ ﺑَﻌﺪﺕ ﺍﻟْﻤﺴَﺎﻓَﺔ ﺑَﻴﻨﻬﻤَﺎ ﻭﺯﺍﺩﺕ ﻋﻠﻰ ﺛَﻠَﺎﺛﻤِﺎﺋَﺔ ﺫِﺭَﺍﻉ ﻭَﻟَﺎ ﺑُﺪ ﻣﻦ ﺇِﻣْﻜَﺎﻥ ﺍﻟْﻮُﺻُﻮﻝ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻭَﻟَﻮ ﺑﺎﺯﻭﺭﺍﺭ ﻭﺍﻧﻌﻄﺎﻑ ﻧﻌﻢ ﻟَﺎ ﻳﻀﺮ ﺍﻟْﺒَﺎﺏ ﺍﻟﻤﻐﻠﻖ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟْﻤَﺮْﺩُﻭﺩ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺇﻏﻼﻕ ﺑِﺎﻟْﺄﻭﻟَﻰ ﻭَﺍﻟْﺒَﺎﺏ ﺍﻟﻤﺴﻤﺮ ﻳﻀﺮ ﻓِﻲ ﺍﻟِﺎﺑْﺘِﺪَﺍﺀ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺪَّﻭَﺍﻡ ﻭَﻣﺜﻠﻪ ﻣَﺎ ﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﺑﺴﻄﺢ ﺃَﻭ ﺩﻛﺔ ﻟَﺎ ﻣﺮﻗﻰ ﻟَﻬَﺎ ﻓَﻴﻀﺮ ﺍﺑْﺘِﺪَﺍﺀ ﻟَﺎ ﺩﻭﺍﻣﺎ ﻟِﺄَﻧَّﻪُ ﻳﻐْﺘَﻔﺮ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪَّﻭَﺍﻡ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳﻐْﺘَﻔﺮ ﻓِﻲ ﺍﻟِﺎﺑْﺘِﺪَﺍﺀ ﻓَﻠَﻮ ﺣَﺎﻝ ﺑَﻴﻨﻬﻤَﺎ ﺟِﺪَﺍﺭ ﻟَﺎ ﺑَﺎﺏ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﻭ ﺷﺒﺎﻙ ﺿﺮّ ﻟﻌﺪﻡ ﺇِﻣْﻜَﺎﻥ ﺍﻟْﻮُﺻُﻮﻝ ﻭَﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣﺪﻫﻤَﺎ ﺑﻌﻠﻮ ﻛﺴﻄﺢ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪ ﺃَﻭ ﻣﻨﺎﺭﺗﻪ ﻭَﺍﻟْﺂﺧﺮ ﺑﺴﻔﻞ ﻛﺴﺮﺩﺍﺑﻪ ﺃَﻭ ﺑِﺌْﺮ ﻓِﻴﻪِ ﻟَﺎ ﻳﻀﺮ ﻭَﻟَﻮ ﺣَﺎﻝ ﺑَﻴﻨﻬﻤَﺎ ﻧﻬﺮ ﺃَﻭ ﻃَﺮِﻳﻖ ﻗﺪﻳﻢ ﺑِﺄَﻥ ﺳﺒﻘﺎ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪ ﺑﻞ ﺃَﻭ ﻗﺎﺭﻧﺎﻩ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﻤَﺎ ﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣﺪﻫﻤَﺎ ﻓِﻲ ﻣَﺴْﺠِﺪ ﻭَﺍﻟْﺂﺧﺮ ﻓِﻲ ﻏَﻴﺮﻩ ﻭَﺳَﻴَﺄْﺗِﻲ ﺣﻜﻤﻪ ﺑِﺨِﻠَﺎﻑ ﻣَﺎ ﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﻬﺮ ﻃﺎﺭﺋﺎ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪﻳﺔ ﻓَﻠَﺎ ﻋِﺒْﺮَﺓ ﺑِﻪِ ﻭﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﺍﻟﻤﺘﻼﺻﻘﺔ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺗﻔﺘﺢ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏ ﺑَﻌْﻀﻬَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺑﻌﺾ ﻛﻤﺴﺠﺪ ﻭَﺍﺣِﺪ ‏( ﻭَﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣﺪﻫﻤَﺎ ﻓِﻴﻪِ ﻭَﺍﻟْﺂﺧﺮ ﺧَﺎﺭﺟﻪ ‏) ﻛَﺄَﻥ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪ ﻭَﺍﻟْﻤَﺄْﻣُﻮﻡ ﺧَﺎﺭﺟﻪ ﺍﻋْﺘﺒﺮﺕ ﺍﻟْﻤﺴَﺎﻓَﺔ ﺍﻟْﻤُﺘَﻘَﺪّﻣَﺔ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪ ﻟِﺄَﻥ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪ ﻣَﺒْﻨِﻲّ ﻟﻠﺼَّﻠَﺎﺓ ﻓَﻠَﺎ ﻳﺪْﺧﻞ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﺪ ﺍﻟْﻔَﺎﺻِﻞ ﻭَﻣﻦ ﺁﺧﺮ ﺻﻒ ﺧَﺎﺭﺝ ﻋَﻦ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪ ﺇِﺫﺍ ﺧﺮﺟﺖ ﺍﻟﺼُّﻔُﻮﻑ ﻋَﻦ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪ ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﺎﺋِﻞ ﻣَﺎ ﻣﺮ ﻓِﻲ ﻏﻴﺮ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪﻓَﻠَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﻤَﺄْﻣُﻮﻡ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪ ﻭَﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡ ﺧَﺎﺭﺟﻪ ﺍﻋْﺘﺒﺮﺕ ﺍﻟْﻤﺴَﺎﻓَﺔ ﻣﻦ ﻃﺮﻓﻪ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﻠِﻲ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ‏( ﺷَﺮﻁ ﻋﺪﻡ ﺣَﺎﺋِﻞ ‏) ﻛَﻤَﺎ ﻣﺮ ‏( ﺃَﻭ ‏) ﺣَﺎﻝ ﺑَﻴﻨﻬﻤَﺎ ﺣَﺎﺋِﻞ ﻓِﻴﻪِ ﺑَﺎﺏ ﻧَﺎﻓِﺬ ﺷَﺮﻁ ‏( ﻭﻗُﻮﻑ ﻭَﺍﺣِﺪ ‏) ﻣﺜﻼ ‏( ﺣﺬﺍﺀ ﻣﻨﻔﺬ ‏) ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻮَﺍﻗِﻒ ﻛَﺎﻟْﺈِﻣَﺎﻡِ ﺑِﺎﻟﻨِّﺴْﺒَﺔِ ﻟﻤﻦ ﺧَﻠﻔﻪ ﻟَﺎ ﻳﺤﺮﻣُﻮﻥَ ﻗﺒﻠﻪ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺮْﻛَﻌُﻮﻥَ ﻗﺒﻞ ﺭُﻛُﻮﻋﻪ ﻭَﻟَﺎ ﻳﺴﻠﻤُﻮﻥَ ﻗﺒﻞ ﺳَﻠَﺎﻣﻪ ﻭَﻟَﺎ ﻳﺘَﻘَﺪَّﻡ ﺍﻟﻤﻘﺘﺪﻯ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺇِﻥ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺘَﺄَﺧِّﺮًﺍ ﻋَﻦ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻭَﻣَﻊَ ﺫَﻟِﻚ ﻟَﻮ ﺳﻤﻊ ﻗﻨﻮﺕ ﺍﻟﺮﺍﺑﻄﺔ ﻟَﺎ ﻳُﺆﻣﻦ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻟِﺄَﻥ ﺍﻟْﻌﺒْﺮَﺓ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚ ﺑِﺎﻟْﺈِﻣَﺎﻡِ ﺍﻟْﺄَﺻْﻠِﻲّ ﻛَﺬَﺍ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸﺒﺮﺍﻣﻠﺴﻲ
ﺍﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﺝ 2 ﺹ 37 :
‏( ﻓﺮﻉ ‏) ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﺭﺩ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻓﻲ ﺍﻷﺛﻨﺎﺀ ﺑﻮﺍﺳﻄﺔ ﺭﻳﺢ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﺍﻣﺘﻨﻊ ﺍﻻﻗﺘﺪﺍﺀ ﻭﺇﻥ ﻋﻠﻢ ﺍﻧﺘﻘﺎﻻﺕ ﺍﻹﻣﺎﻡ، ﻟﺘﻘﺼﻴﺮﻩ ﺑﻌﺪﻡ ﺇﺣﻜﺎﻡ ﻓﺘﺤﻪ، ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻟﻮ ﺯﺍﻟﺖ ﺍﻟﺮﺍﺑﻄﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﺛﻨﺎﺀ ﺑﺤﺪﺙ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﻻ ﻳﻤﻨﻊ ﺑﻘﺎﺀ ﺍﻻﻗﺘﺪﺍﺀ، ﺑﺸﺮﻁ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻻﻧﺘﻘﺎﻻﺕ . ﺍﻩ ﺳﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻬﺞ ﻭﻗﻮﻟﻪ : ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﻇﺎﻫﺮﻩ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻋﺎﻗﻼ . ﺍﻩ . ‏( ﻭﻗﻮﻟﻪ : ﺃﺛﻨﺎﺀﻫﺎ ‏) ﺃﻱ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺧﺮﺝ ﺑﻪ ﻣﺎ ﻟﻮ ﺭﺩﻩ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻀﺮ . ﻭﻫﺬﺍ ﻣﺆﻳﺪ ﻟﻤﺎ ﻣﺮ . ‏( ﻗﻮﻟﻪ : ﻷﻧﻪ ﻳﻐﺘﻔﺮ ﺍﻟﺦ ‏) ﺗﻌﻠﻴﻞ ﻟﻌﺪﻡ ﺍﻟﻀﺮﺭ ﻓﻲ ﺻﻮﺭﺓ ﺑﻄﻼﻥ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻤﺸﺎﻫﺪ ﻭﺭﺩ ﺍﻟﺮﻳﺢ ﺍﻟﺒﺎﺏ . ‏( ﻗﻮﻟﻪ : ﻟﻮ ﻭﻗﻒ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ‏) ﺃﻱ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻡ . ‏( ﻭﻗﻮﻟﻪ : ﻓﻲ ﻋﻠﻮ ‏) ﺑﻀﻢ ﺍﻟﻌﻴﻦ ﻭﻛﺴﺮﻫﺎ، ﻣﻊ ﺳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻼﻡ . ‏( ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﺍﻵﺧﺮ ‏) ﺃﻱ ﻭﻗﻒ ﺍﻵﺧﺮ ﺇﻣﺎﻣﺎ ﺃﻭ ﻣﺄﻣﻮﻣﺎ . ‏( ﻭﻗﻮﻟﻪ : ﻓﻲ ﺳﻔﻞ ‏) ﺑﻀﻢ ﺍﻟﺴﻴﻦ ﻭﻛﺴﺮﻫﺎ، ﻣﻊ ﺳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻔﺎﺀ . ‏( ﻗﻮﻟﻪ : ﺍﺷﺘﺮﺍﻁ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﺤﻴﻠﻮﻟﺔ ‏) ﺃﻱ ﺍﺷﺘﺮﺍﻁ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻮﺟﺪ ﺣﺎﺋﻞ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻳﻤﻨﻊ ﺍﻻﺳﺘﻄﺮﺍﻕ ﺇﻟﻰ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻋﺎﺩﺓ . ﻭﻳﺸﺘﺮﻁ ﺃﻳﻀﺎ ﺍﻟﻘﺮﺏ، ﺑﺄﻥ ﻻ ﻳﺰﻳﺪ ﻣﺎ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺛﻠﺜﻤﺎﺋﺔ ﺫﺭﺍﻉ ﺇﻥ ﻛﺎﻧﺎ – ﺃﻭ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ – ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ، ﻭﺇﻻ ﻓﻼ ﻳﺸﺘﺮﻁ . ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻐﻨﻰ : ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﺗﻌﺘﺒﺮ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺎﻓﻞ ﺇﻟﻰ ﻗﺪﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻲ . ﺍﻩ . ‏( ﻭﻗﻮﻟﻪ : ﻻ ﻣﺤﺎﺫﺍﺓ ﺍﻟﺦ ‏) ﻣﻌﻄﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﺤﻴﻠﻮﻟﺔ، ﺃﻱ ﻻ ﻳﺸﺘﺮﻁ ﻣﺤﺎﺫﺍﺓ ﻗﺪﻡ ﺍﻷﻋﻠﻰ ﺭﺃﺱ ﺍﻷﺳﻔﻞ . ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﻃﺮﻳﻘﺔ ﺍﻟﻌﺮﺍﻗﻴﻴﻦ، ﻭﻫﻲ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪﺓ . ﻭﻃﺮﻳﻘﺔ ﺍﻟﻤﺮﺍﻭﺯﺓ ﺍﻻﺷﺘﺮﺍﻁ، ﻭﻫﻲ ﺿﻌﻴﻔﺔ ﻭﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﻤﺤﺎﺫﺍﺓ ﻋﻠﻴﻬﺎ : ﺃﻧﻪ ﻟﻮ ﻣﺸﻰ ﺍﻷﺳﻔﻞ ﺟﻬﺔ ﺍﻷﻋﻠﻰ ﻣﻊ ﻓﺮﺽ ﺍﻋﺘﺪﺍﻝ ﻗﺎﻣﺘﻪ ﺃﺻﺎﺏ ﺭﺃﺱ ﺍﻷﺳﻔﻞ ﻗﺪﻣﻴﻪ ﻣﺜﻼ، ﻭﻟﻴﺲ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻛﻮﻧﻪ ﻟﻮ ﺳﻘﻂ ﺍﻷﻋﻠﻰ ﺳﻘﻂ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺳﻔﻞ . ﻭﺍﻟﺨﻼﻑ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ، ﺃﻣﺎ ﻫﻮ ﻓﻠﻴﺴﺖ ﺍﻟﻤﺤﺎﺫﺍﺓ ﺑﺸﺮﻁ ﻓﻴﻪ، ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ ﺍﻟﻄﺮﻳﻘﺘﻴﻦ، ﻓﻘﻮﻟﻪ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺎ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ : ﺍﻟﻐﺎﻳﺔ ﻟﻠﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺷﺮﻁ ﺍﻟﻤﺤﺎﺫﺍﺓ ﻓﻲ ﻏﻴﺮﻩ . ‏( ﻭﻗﻮﻟﻪ : ﺧﻼﻓﺎ ﻟﺠﻤﻊ ﻣﺘﺄﺧﺮﻳﻦ ‏) ﺃﻱ ﺷﺮﻃﻮﺍ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ، ﻛﻤﺎ ﻋﻠﻤﺖ .
ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﺝ 2 ﺹ 313 :
‏( ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺟَﻤَﻌَﻬُﻤَﺎ ﻣَﺴْﺠِﺪٌ ‏) ﻭَﻣِﻨْﻪُ ﺟِﺪَﺍﺭُﻩُ ﻭَﺭَﺣْﺒَﺘُﻪُ ﻭَﻫِﻲَ ﻣَﺎ ﺣُﺠِﺮَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻟِﺄَﺟْﻠِﻪِ، ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﻃَﺮِﻳﻖٌ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺘَﻴَﻘَّﻦْ ﺣُﺪُﻭﺛَﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻭَﺃَﻧَّﻬَﺎ ﻏَﻴْﺮُ ﻣَﺴْﺠِﺪٍ، ﻭَﻣَﻨَﺎﺭَﺗُﻪُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺑَﺎﺑُﻬَﺎ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﻭْ ﻓِﻲ ﺭَﺣْﺒَﺘِﻪِ ﻟَﺎ ﺣَﺮِﻳﻤُﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺎ ﻳُﻬَﻴَّﺄُ ﻟِﺈِﻟْﻘَﺎﺀِ ﻧَﺤْﻮِ ﻗُﻤَﺎﻣَﺘِﻪِ ‏( ﺻَﺢَّ ﺍﻟِﺎﻗْﺘِﺪَﺍﺀُ ‏) ﺇﺟْﻤَﺎﻋًﺎ ‏( ﻭَﺇِﻥْ ﺑَﻌُﺪَﺕْ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻓَﺔُ ﻭَﺣَﺎﻟَﺖْ ﺍﻟْﺄَﺑْﻨِﻴَﺔُ ‏) ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻨَﺎﻓِﺬَﺓُ ﺍﻟْﺄَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺇﻟَﻴْﻪِ ﺃَﻭْ ﺇﻟَﻰ ﺳَﻄْﺤِﻪِ ﻛَﻤَﺎ ﺃَﻓْﻬَﻤﻪُ ﻛَﻠَﺎﻡُ ﺍﻟﺸَّﻴْﺨَﻴْﻦِ ﺧِﻠَﺎﻓًﺎ ﻟِﻤَﺎ ﻳُﻮﻫِﻤُﻪُ ﻛَﻠَﺎﻡُ ﺍﻟْﺄَﻧْﻮَﺍﺭِ ﻓَﻠَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑِﻮَﺳَﻄِﻪِ ﺑَﻴْﺖٌ ﻟَﺎ ﺑَﺎﺏَ ﻟَﻪُ ﺇﻟَﻴْﻪِ، ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳَﻨْﺰِﻝُ ﺇﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺳَﻄْﺤِﻪِ ﻛَﻔَﻰ، ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﻮَﻗَّﻒَ ﻓِﻴﻪِ ﺷَﺎﺭِﺡٌ ﻭَﺳَﻮَﺍﺀٌ ﺃُﻏْﻠِﻘَﺖْ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﺄَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺃَﻡْ ﻟَﺎ ﺑِﺨِﻠَﺎﻑِ ﻣَﺎ ﺇﺫَﺍ ﺳُﻤِّﺮَﺕْ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻭَﻗَﻊَ ﻓِﻲ ﻋِﺒَﺎﺭَﺍﺕٍ ﻟَﻜِﻦَّ ﻇَﺎﻫِﺮَ ﺍﻟْﻤَﺘْﻦِ ﻭَﻏَﻴْﺮَﻩُ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻓَﺮْﻕَ ﻭَﺟَﺮَﻯ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺷَﻴْﺨُﻨَﺎ ﻓِﻲ ﻓَﺘَﺎﻭِﻳﻪِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻓِﻲ ﻣَﺴْﺠِﺪٍ ﺳُﺪَّﺕْ ﻣَﻘْﺼُﻮﺭَﺗُﻪُ ﻭَﺑَﻘِﻲَ ﻧِﺼْﻔَﻴْﻦِ ﻟَﻢْ ﻳَﻨْﻔُﺬْ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﺂﺧَﺮِ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﺼِﺢُّ ﺍﻗْﺘِﺪَﺍﺀُ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺃَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ ﺑِﻤَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﺧَﺮِ؛ ﻟِﺄَﻧَّﻪُ ﻳُﻌَﺪُّ ﻣَﺴْﺠِﺪًﺍ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﺴَّﺪِّ ﻭَﺑَﻌْﺪَﻩُ . ﺍﻫـ . ﻭَﻟَﻚ ﺃَﻥْ ﺗَﻘُﻮﻝَ ﺇﻥْ ﻓُﺘِﺢَ ﻟِﻜُﻞٍّ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻨِّﺼْﻔَﻴْﻦِ ﺑَﺎﺏٌ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻞٌّ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻤْﻜِﻦْ ﺍﻟﺘَّﻮَﺻُّﻞُ ﻣِﻦْ ﺃَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﺂﺧَﺮِ ﻓَﺎﻟْﻮَﺟْﻪُ ﺃَﻥَّ ﻛُﻠًّﺎ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻞٌّ ﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ ﻋُﺮْﻓًﺎ ﻭَﺇِﻟَّﺎ ﻓَﻠَﺎ ﻭَﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻳُﺤْﻤَﻞُ ﻛَﻠَﺎﻡُ ﺍﻟﺸَّﻴْﺦِ ﻭَﺳَﻴَﺄْﺗِﻲ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺇﺫَﺍ ﺣَﺎﻝَ ﺑَﻴْﻦَ ﺟَﺎﻧِﺒَﻲْ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻧَﺤْﻮُ ﻃَﺮِﻳﻖٍ ﻣَﺎ ﻳُﺆَﻳِّﺪُ ﻣَﺎ ﺫَﻛَﺮْﺗﻪ ﻓَﺘَﺄَﻣَّﻠْﻪُ، ﻭَﺍﻟْﻤَﺴَﺎﺟِﺪُ ﺍﻟْﻤُﺘَﻠَﺎﺻِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤُﺘَﻨَﺎﻓِﺬَﺓُ ﺍﻟْﺄَﺑْﻮَﺍﺏِ ﻛَﻤَﺎ ﺫُﻛِﺮَ ﻛَﻤَﺴْﺠِﺪٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ، ﻭَﺇِﻥْ ﺍﻧْﻔَﺮَﺩَ ﻛُﻞٌّ ﺑِﺈِﻣَﺎﻡٍ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٍ ﻧَﻌَﻢْ ﺍﻟﺘَّﺴْﻤِﻴﺮُ ﻫُﻨَﺎ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻣَﺎﻧِﻌًﺎ ﻗَﻄْﻌًﺎ ﻭَﻳُﺸْﺘَﺮَﻁُ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳَﺤُﻮﻝَ ﺑَﻴْﻦَ ﺟَﺎﻧِﺒَﻲْ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﺃَﻭْ ﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺭَﺣْﺒَﺘِﻪِ ﺃَﻭْ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﺟِﺪِ ﻧَﻬْﺮٌ ﺃَﻭْ ﻃَﺮِﻳﻖٌ ﻗَﺪِﻳﻢٌ ﺑِﺄَﻥْ ﺳَﺒَﻘَﺎ ﻭُﺟُﻮﺩَﻩُ ﺃَﻭْ ﻭُﺟُﻮﺩَﻫَﺎ ﺇﺫْ ﻟَﺎ ﻳُﻌَﺪَّﺍﻥِ ﻣُﺠْﺘَﻤِﻌَﻴْﻦِ ﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ ﺑِﻤَﺤَﻞٍّ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﻓَﻴَﻜُﻮﻧَﺎﻥِ ﻛَﺎﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻭَﻏَﻴْﺮِﻩِ ﻭَﺳَﻴَﺄْﺗِﻲ .

Jawaban b

Ada perbedaan antara masjid dan selainnya, sesuai dengan sub a .

Jawaban c

Tidak ada rukhsoh. Solusinya adalah mencari tempat sholat di  belakang jalan yang menghubungkannya dengan imam, sebagaimana syarat pada sub a dan b . Ibarot sama dengan sub a dan b.