Tampilkan postingan dengan label ilmu hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu hati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juni 2017

Suara hati dan bisikan hati


***Bisikan Allah, Bisikan Malaikat, Bisikan Nafsu, Bisikan Syetan***
*****************************

Imam Al-Ghazali

Tulisan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazaly dari kitab Roudlotut Tholibin wa-‘Umdatus Salikin, ini kami turunkan karena banyaknya pertanyaan dari pembaca soal cara membedakan bisikan-bisikan dari dalam hati, apakah dari Allah, nafsu atau syetan. Red.)

Kajian ini seputar bisikan-bisikan hati (khawathir) dengan segala bentuknya, upaya memerangi, mengalahkan dan unggul dalam menghalau perbuatan syetan yang jahat.

Juga bab ini tentang berlindung kepada Allah dari syetan dengan tiga cara:

Pertama, anda harus mengetahui godaan, rekayasa dan tipuan syetan.

Kedua, hendaknya anda tidak menanggapi ajakannya, sehingga qalbu anda tidak bergantung dengan ajakan itu.

Ketiga, langgengkan dzikrullah dalam qalbu dan lisan anda.

Sebab dzikrullah bagi syetan seperti penyakit yang menyerang manusia.

Untuk mengetahui rekayasa godaan syetan, akan tampak pada bisikan-bisikan (khawathir) dan berbagai macam caranya.
Mengenai pengetahuan tentang berbagai macam bisikan hati, patut anda ketahui, bahwa bisikan-bisikan itu adalah pengaruh yang muncul di dalam qalbu hamba yang menjadi pendorong untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, proses yang sepenuhnya terjadi di dalam qalbu ini berasal dari Allah – yang menjadi Pencipta segala sesuatu.
***

Dalam kaitan ini, bisikan hati ada empat macam:
1. Suatu bisikan yang datang dari Allah swt. dalam qalbu hamba adalah sebagai bisikan awal, sehingga Dia disebut dengan Nama al-Khathir (Sang Pembisik).
2. Bisikan yang relevan dengan watak alam manusia, yang disebutan-nafs (jiwa).
3. Bisikan yang terdorong oleh ajakan syetan, yang disebut waswas (perasaan ragu-ragu).
4. Bisikan yang juga datang dari Allah yang disebut al-Ilham.

Al-Khathir adalah bisikan yang datang dari Allah swt. sebagai bisikan awal, terkadang berdimensi kebaikan, kemuliaan dan pemantapan dalam berhujjah. Kadang-kadang berdimensi negatif dan sebagai ujian.

Al-Khathir yang datang dari pemberi Ilham tidak akan terjadi, kecuali mengandung kebajikan, karena Dia adalah Yang Memberi nasihat dan bimbingan. Sedangkan al-Khathir yang datang dari syetan, tidak datang kecuali mengandung elemen kejahatan.

Bisikan ini terkadang sepintas mengandung kebajikan, tetapi dibalik itu ada makar dan istidraj (covernya nikmat, dalamnya siksa bencana).
Sementara bisikan yang tumbuh dari hawa nafsu tidak luput dari elemen kejahatannya. Terkadang juga ada elemen baik tidak sekadar untuk pencapaian kenikmatan saja.
***

Ada tiga persoalan yang harus anda ketahui di sini:
***Pertama-tama, beberapa ulama berkata bahwa jika anda ingin mengenal dan mengetahui perbedaan antara bisikan kebaikan dan bisikan kejahatan, maka pertimbangkan dengan tiga ukuran nilai (mawazin), yang dapat mendeteksinya:
1. Apabila bisikan itu relevan dengan syariat, berarti baik. Jika sebaliknya – baik karena rukhshah atau syubhat, maka tergolong bisikan jahat.
2. Manakala dengan mizan(ukuran nilai) itu tidak diperoleh kejelasan perbedaan masing-masing, sebaiknya anda konfirmasikan dengan teladan orang-orang saleh. Jika sesuai dengan teladan mereka, maka ikutilah, jika tidak ada kebaikan, berarti hanya suatu keburukan.
3. Apabila dengan ukuran nilai (miizan) demikian anda masih belum menemukan kejelasan, konfrontasikan dengan motivasi yang terdapat pada nafs (ego) dan hawa (kesenangan). Jika ukuran nilainya merujuk sekadar pada kecenderungan nafs (ego) yakni kecenderungan naluriah dan bukan untuk mencari harapan (raja’) dari Allah, tentu saja termasuk keburukan.
***Kedua, apabila anda ingin membedakan antara bisikan kejahatan yang bermula dari sisi syetan, atau dari sisi nafs (ego) ataukah bisikan itu dari sisi Allah swt., perlu anda perhatikan tiga hal ini:
1. Jika anda menemui bisikan yang kokoh, permanen, sekaligus konsisten pada satu hal, maka bisikan itu datang dari Allah swt., atau dari nafs (jika menjauhkan diri dari Allah). Namun jika bisikan itu menciptakan keraguan dan mengganjal dalam hati , maka itu muncul dari syetan.
2. Apabila bisikan itu anda jumpai setelah anda melakukan dosa, berarti itu datang dari Allah sebagai bentuk sanksi dari-Nya kepada anda. Jika bukan muncul dari akibat dosa, bisikan itu datang dari diri anda, yang berarti dari syetan.
3. Jika anda temui bisikan itu tidak melemahkan atau tidak mengurangi dari dzikir kepada Allah swt., tetapi bisikan itu tidak pernah berhenti, berarti dari hawa nafsu. Sebaliknya, jika melemahkan dzikir berarti dari syetan.
***Ketiga, apabila anda ingin membedakan apakah bisikan kebaikan itu datang dari Allah swt. atau dari malaikat, maka perlu diperhatikan tiga hal pula:
1. Manakala melintas sekejap saja, maka datang dari Allah swt. Namun jika berulang-ulang, berarti datang dari malaikat, karena kedudukannya sebagai penasihat manusia.
2. Manakala bisikan itu muncul setelah usaha yang sungguh-sungguh dan ibadah yang anda lakukan, berarti datang dari Allah swt. Jika bukan demikian,bisikan itu datang dari malaikat.
3. Apabila bisikan itu berkenaan dengan masalah dasar dan amal batin, bisikan itu datang dari Allah swt. Tetapi jika berkaitan dengan masalah furu` dan amal-amal lahiriah, sebagian besarnya dari malaikat. Sebab, menurut mayoritas ahli tasawuf malaikat tidak memiliki kemampuan untuk mengenal batin hamba Allah.

****************************

Sementara itu, bisikan untuk suatu kebaikan yang datang dari syetan, merupakan istidraj menuju amal kejahatan yang lantas menjadi berlipat-lipat, maka anda perlu memperhatikan dengan cermat:

Lihatlah, apabila dalam diri anda, pada salah satu perbuatan jika berasal dari bisikan di dalam hati anda dengan penuh kegairahan tanpa disertai rasa takut, dengan ketergesa-gesaan bukan dengan waspada dengan tanpa perasaan aman, ketakutan pada Allah, dengan bersikap buta terhadap dampak akhirnya, bukan dengan mata batin, ketahuilah bahwa bisikan itu berasal dari syetan. Maka jauhilah, Bisikan seperti itu, harus anda jauhi.

Sebaliknya jika bisikan itu muncul bukan seperti bisikan-bisikan di atas, berarti : datang dari Allah swt., atau dari malaikat.

Saya katakan, bahwa semangat yang membara dapat mendorong manusia untuk segera melakukan aktivitas, tanpa adanya pertimbangan dari mata hatinya, tanpa mengingat pahala bisa menjadi faktor yang membangkitkan kondisi itu semua.

Sedangkan cara hati-hati adalah cara-cara yang terpuji dalam beberapa segi.

Khauf, lebih cenderung seseorang untuk berusaha menyempurnakan dan mempraktekkan suatu perbuatan yang benar dan bisa diterima Allah atas amal perbuatan itu.

Adapun perspektif hasil akhir suatu amal, hendaknya anda membuka mata hati dengan cermat dalam diri anda ada keyakinan bahwa amal tersebut adalah amalan yang lurus dan baik, atau adanya pandangan mengharapkan pahala di akhirat kelak.
Ketiga kategori di atas harus anda ketahui dan sekaligus anda jaga.

Sebab, semuanya mengandung ilmu-ilmu yang rumit sehingga sulit didapatkan dan rahasia-rahasia yang mulia.

Wabillahi at-Tawfiq, wa Huwa’ Waliyyul-Hidayah.

Selasa, 30 Mei 2017

Sedulur papat

Sedulur papat
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
1. Dalam Piwulangan Jawa, empat nafsu itu disebut Sedulur Papat atau Saudara Empat. Nafsu dipahami sebagai anasir atau elemen jiwa.
2. Sedulur Papat, Kalima Pancer. Saudara Empat, Yang Kelima adalah Porosnya. Nah, porosnya adalah Jiwa. Yang empat itu pusarannya.
3. Empat Nafsu/Anasir/Elemen Jiwa/Sedulur Papat terdiri dari Kebaikan, Kesenangan, Kemurkaan, Ketamakan mengacu pada empat penjuru.
4. Nafsu Kebaikan [Muthmainnah] berkedudukan di penjuru timur, dalam diri manusia menjelma nafas, di semesta berwujud angin.
5. Nafsu Kesenangan [Supiah] berkedudukan di penjuru selatan, dalam diri manusia menjelma tulang sumsum, di semesta berwujud air.
6. Nafsu Kemurkaan [Amarah] berkedudukan di penjuru barat, dalam diri manusia menjelma darah, di semesta berwujud api.
7. Nafsu Ketamakan [Lawwamah] berkedudukan di penjuru utara, dalam diri manusia menjelma kulit-daging, di semesta berwujud tanah.
8. Empat anasir/Sedulur Papat uga mewujud dalam esensi warna, yaitu Putih, Kuning, Merah, Hitam. Pancer/Poros dilambangkan Hijau.
9. Pancer/Poros/Jiwa dilambangkan Evergreen karena Everlasting. Disimbolkan sbg Hamba Allah yang Dia Hidupkan sepanjang masa: Khidr.
10. Poros/Pancer inilah pengendali sesungguhnya dari Sedulur Papat. Menentukan keempatnya berpusar searah atau melawan-arah jarum jam
11. Jika berpusar searah jarum jam, Manusia menyongsong Kematian. Jika berpusar melawan arah jarum jam, menyongsong Keberpulangan.
12. Dari keempat anasir itu, yang pertama dan utama wajib ditaklukkan adalah Muthmainnah/
Nafsu Kebaikan. Taklukkan nafasmu sendiri.
13. Suluk menaklukkan Muthmainnah adalah Suluk Kanjeng Sunan Kalijaga,“Golekono susuhing angin. Carilah di mana angin bersarang.”
14. Di manakah angin bersarang? Di Nafas yang tenang. Suluk menaklukkan Muthmainnah adalah dengan mengatur nafas setenang-tenangnya.
15. Pada Nafas tenang, tidak terjadi kepanikan, ketakutan, kegelisahan, kekhawatiran, pun tidak kesedihan. Nafas tenang, Jiwa tenang.
16. Napas, Anpas, Tanapas, Nupus. Ambil nafas dari hidung kiri, tahan di paru kiri, salurkan paru kanan, buang dari hidung kanan.
17. Napas, Anpas, Tanapas, Nupus ini Suluk Nafas Kanjeng Sunan Kalijaga. Untuk awam, diringkas menjadi Napas, Nupus. Tarik, embus
18. Awam tidak dituntut menyempurnakan Suluk Nafas sesuai aturan Napas, Anpas, Tanapas, Nupus. Cukup Napas, Nupus. Tanpa menahan.
19. Menahan nafas disebut Megeng. Yang khas Kalijaga, menahan nafas ini dilakukan tanpa ambil nafas terlebih dulu. Langsung megeng.
20. Megeng adalah dengan menutup dua lubang hidup tanpa media. Seketika berhenti bernafas. Lidah menempel cethak/langit-langit.
21. Dalam Napas, Nupus ini, Kanjeng Sunan Kalijaga mengajarkan Shalat Dhaim atau shalat terus-menerus. Caranya, dengan Dzikir Nafas.
22. Aqimis-shalaata li dz-dzikr. Dirikanlah Shalat untuk Dzikr. Eling lan waspada. Dzikir Nafas adalah tarik “Hu”, embus “Allah”.
23. Tarik “hu”, embus “Allah”, dalam Dzikir Nafas atau Napas-Nupus ini dilakoni 24 jam sepanjang masa selama hidup seorang Sufi.
24. Getaran Dzikir Nafas “Hu-Allah” ini sampai ke Hati. Dicirikan dalam Qur'an,“Disebut nama Allah, orang beriman bergetar hatinya.”
25. Disebut nama selain Allah, hati orang beriman tidak bergetar. Flat, datar, mati. Yg menggetarkan/menghidupkan adalah “Hu-Allah”.
26. Hadits Qudsi,“andai hari ini Kiamat, ditunda 40 tahun jika nama Allah sekali disebut.” Bernafas saja, Sufi telah berbuat baik.
27. Dengan mengatur nafas, Manusia mencapai Jiwa yang Tenang. Jiwa golongan inilah yang Didaulat Allah untuk saling rela denganNya.
28. “Ya ayyatuha ‘n-Nafsu 'l-Muthmainnah, irji'i ilaa raadhiyatan-mardhiyyah.” Jiwa yang tenang, datang dalam keadaan ridha-diridhai.
29. Jiwa yang tenang yang terpanggil dan terpilih, mencapai kedudukan Insan Kamil atau Paripurna. Tak lagi mengalami takut dan sedih.
30. Cukup dengan mengendalikan dan mengatur nafas saja, seorang Manusia dapat menjalani Suluk Sufi dan mencapai Kesejatian Hidup.

31. Pesan moral :

"jika sekilas melihat seorang Sufi kok nganggur, lihat lagi."

"Siapa tahu dia sibuk dzikir! Hehehe"
Semoga bermanfaat....

Kamis, 13 Oktober 2016

Makanan dan obat hati


Menu Makanan hati

***

Diantara tips merawat hati adalah dengan memperhatikan pola makanannya yang teratur. Karena tidak hanya makhluk yang ingin hidup, hati juga begitu.

Hati jika telat diberi makan akan cepat sakit. Dan jika dibiarkan akan mati.

Oleh karena itu, kita sebagai pemiliknya sangat penting mengetahui apa saja makanan yang dibutuhkan oleh hati.

Diantaranya adalah:

1.Membaca Al Quran.

Al Habib Muhammad bin Hasan berkata:

“Orang yang bersih hatinya tidak akan pernah kenyang membaca Al Quran”

Mendengar nasehat-nasehat orang alim.

Orang alim tidak harus kiyai atau guru.

Karena, teman yang ada didekat kita bisa saja termasuk dari golongan orang yang alim.

Serta Bergaul dengan orang sholih.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“ ﺟﺎﻟﺲ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﻭﺣﺪﺓ ﻭ ﺍﻟﻮﺣﺪﺓ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺟﺎﻟﺲ ﺍﻟﺴﻮﺀ”

Artinya,“Duduk bersama orang yang shalih lebih baik dari pada duduk sendiri. Dan duduk sendiri lebih baik dari pada duduk bersama orang yang jelek perangainya.”

2.Shalat tahajjud.

Orang yang istiqamah shalat tahajjud, pasti hatinya lebih damai, dan jauh dari kegelisahan.

3.Menjaga lisan dengan berkata jujur.

Lisan merupakan anggota tubuh yang paling berbahaya sebab tidak memiliki tulang.

Al habib Zain bin Sumaith berkata bahwa lisan yang suci jika membaca surah Al Fatihah kepada orang yang sakit maka akan sembuh dengan izin Allah. Sebaliknya, bagi orang yang lisannya kotor sebab berdusta dan berkata keji seberapa banyak ia membacakan surah Al Fatihah kepada orang sakit maka tidak akan sembuh.

4.Berperasangka baik dalam segala hal.

Orang yang hatinya penuh ketakutan, kegelisahan, keresahan, dan kekacauan, karena dia selalu berperasangka buruk, baik pada orang lain apalagi pada Allah.

5.Saling mengasihi antara sesama.

Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW:

” ﺍﻟﺮﺍﺣﻤﻮﻥ ﻳﺮﺣﻤﻬﻢ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ”

Artinya,”Orang yang penyayang maka akan disayang oleh Allah SWT.”

6.Mujahadah. Artinya, selalu berusaha melawan hawa nafsu.

Dan ini juga merupakan salah satu cara yang digunakan oleh sadah bani alawy (keturunan Rasulullah SAW).

***

Obat hati

***
Hati yang sakit harus segera diobati. Jika tidak maka akan sulit disembuhkan. Lalu bagaimana cara mengetahui bahwa hati kita sedang sakit? Ada banyak cara untuk mengetahui hati kita sedang sakit. Namun, ada cara yang paling mudah yaitu ketika kita merasakan hati dengan Allah tidak ada koneksi dalam meminta atau beribadah, maka ketika itulah hati kita sedang sakit. Karena ketika itu kita menyadari dosa-dosa yang menutupi koneksi antara makhluk dengan penciptanya.
Kemudian, apa yang sebaiknya dilakukan? Cara yang paling ampuh adalah bertaubat dan tidak lupa memperhatikan pola makan hati yang teratur. Sebagaimana yang telah diuraikan. Sebab makanan dan obat hati sejatinya adalah sama.
Alhasil, kita wajib menjaga hati sebab hanya hati yang bersihlah yang dapat memberikan sinyal terbanyak antara makhluk dengan Khaliknya. Dan yang perlu ditanam dalam pikiran adalah Allah tidak akan menerima doa orang yang hatinya lalai. Semoga bermanfaat, wallahu a’lam.
Rabbana la tuzigh quluubana ba’da idz hadaytana, wa hab lana min ladunka rahmah, innaka antal wahhab,,,
Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau cabut hati kami setelah Engkau memberi kami petunjuk, dan anugerahilah kami kasih sayang dari sisiMu, sesungguhnya Engkaulah Dzat Yang Maha Pemberi Anugerah,,,

Rabu, 21 September 2016

CAHAYA,SARANA DAN TENTARA HATI

CAHAYA ILLAHI KENDARAAN DAN TENTARA HATI
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Setelah menjelaskan WARID secara umum,selanjutnya Syeikh Ibnu ‘Atha’illah rahimaullah menjelaskan lebih spesifik lagi dengan mengartikan WARID sebagai CAHAYA yang dituangkan dalam hati :
“Cahaya adalah tunggangan hati dan asrar(rahasia rahasia batin) cahaya adalah tentara hati,seperti kegelapan adalah tentara nafsu.Jika Allah ingin menolong hambaNYA,maka DIA menolongnya dengan pasukan cahaya,dan memutuskan sokongan kegelapan dan segala sesuatu selain Allah darinya “.
Syeikh Sa’id Hawa menjelaskan ; WARID jika dirinci lebih detail berarti ; cahaya atau cahaya yang dituangkan Allah ke dalam hati seseorang, merupakan akibat dari proses penghadapan seorang hamba kepada Allah atau merupakan pemberia-NYA.Sebagaimana dijelaskan Oleh Allah dalam surat Az zumar ;22 :
ﺍَﻓَﻤَﻦْ ﺷَﺮَّ ﺡَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺻَﺪْ ﺭَﻩُ ﻟِِﻼِْ ﺳْﻼَ ﻡِ ﻓَﻬُﻮَ ﻋَﻠﻰَ ﻧُﻮْ ﺭٍ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِﻪِ. . . .
Apakah orang orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya ( sama dengan orang yang hatinya membatu) (Az-zumar:22)
Juga Firman Allah dalam surat Muhammad:17 ;
ﻭَ ﺍﻟَّﺬِ ﻳْﻦَ ﺍَﻫْﺘَﺪَ ﻭْﺍ ﺯَﺍ ﺩَﻫُﻢْ ﻫُﺪً ﻭَ ﺍَ ﺗَﻬُﻢْ ﺗَﻘْﻮَ ﻫُﻢْ
“Dan orang yang mendapat petunjuk,Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwakanya ( Muhammad:22)
Dan Firman NYA dalam surat Al-Ankabut:69 :
ﻭَﺍﻟَّﺬِ ﻳﻦَ ﺟَﺎ ﻫَﺪُ ﻭﺍ ﻓِﻴْﻨﺎَ ﻟَﻨَﻬْﺪِ ﻳَﻨَّﻬُﻢْ ﺳًﺒُﻠَﻨَﺎ ﻭَﺍِﻥَّ ﺍﻟَّﻠﻪَ ﻟَﻤَﻊَ
ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴْﻦَ
“Dan orang orang yang berjihad untuk(mencari keridlaan) KAMI,benar benar akan KAMI tunjukan kepada mereka jalan jalan KAMI”. (Al-Ankabut :69).
Kendaraan yang ditunggangi hati untuk menempuh perjalanan menuju Allah adalah cahaya ,sedang tentara hati dan jiwa yang denganya ia dapat mengalahkan tentara syetan,juga adalah cahaya.Ada dua peran yang dimainkan oleh cahaya dalam hati.Pertama sebagai tunggangan seorang dalam mengarungi perjalanan menuju Allah;bila seorang memiliki cahaya,maka ia akan mengendarai tungganganya dan berjalan menuju Allah.Kedua sebagai prajurit, bila memiliki cahaya, maka ia akan mengalahkan tentara lain yang ingin menyerahkannya kepada syetan atau dunia.Oleh karena itu kita juga harus meneliti tidak saja kepada hal hal yang mendatangkan WARID,tetapi juga harus mengamati apakah warid warid itu telah memainkan peranya dalam hati; apakah warid warid itu juga bisa menjadi kendaraan yang dapat dikemudikan untuk menuju akhirat dan untuk menentang dorongan dorongan syaitani.
Marilah kita bertanya pada dirikita masing masing;Apakah kita dapat menambah cahaya yang ada dalam hati kita masing masing?Jika mampu melakukannya,maka kita dapat dinyatakan lulus.Sebaliknya jika kita tak lulus.kita merugi.Dan semua itu kembali kepada Allah dan iradatNYA; bila Allah menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba, maka DIA menganugerahi WARID berupa cahaya, dan Allah menyelematkannya dari segala bentuk kegelapan dan dari berbagai macam benda ( dzat) selain Allah.
Apakah kita memiliki tanda tanda yang dapat kita gunakan untuk mengetahui apa yang Allah kehendaki pada diri kita ?Apakah Allah menginginkan kebaikan pada diri kita ?.tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan pada diri kita ,menurut syeikh Sa’id Hawa adalah ;menumbuhkan pemahaman agama NYA,seperti disinyalir oleh Nabi dalam sabdanya :
ﻣَـﻦْ ﻳـُﺮِ ﺩِ ﺍﻟَـﻠَّﻪُ ﺑِـِﻪِ ﺧـَﻴـْﺮًﺍ ﻳــُﻔَــﻘِّﻬْـﻪُ ﻓـــِﻰ ﺍﻟــﺪِّ ﻳــْﻦِ :
Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya ,maka DIA memberi pemahaman agama kepadanya
(HR Muslim ,Tirmidzi)
Jika kau jumpai seseorang yang dianugerahi pemahaman terhadap agama_NYA,itu adalah pertanda bahwa Allah menginginkan kebaikan bagi seorang itu.Maka seyogyanya ia senang dan melantunkan pujian kepada Allah.
Menurut syeikh Sa’id Hawa rahimaullah sebagian orang memasukan tema pembicaraan ini ke dalam kajian filsafat.Padahal sebenarnya tidak,karena ini adalah fitrah dan merupakan aspektertinggi dan terluhur dalam islam.Selama kita mengacu pada pengertian seperti ini, maka kita mengarah pada kebaikan.Namun bila kita terlalu banyak membaca dan mengkaji berbagai macam disiplin ilmu, sementara hati kita tidak di asah dan tak pernah diperhatikan hingga menjadi gelap,maka mesti menjadi peringatan bagi kita.karena bila kita tidak merasa lelah dan terus begitu, maka yang akan muncul dikalangan kita adalh filosof, dan bukan kaum RABBANI.
NUR atau cahaya ini amat penting.karena jika seseorang memiliki lampu senter,lalu pada malam dinyalakan,maka akan terlihat segala sesuatu yang ada disekelilingnya,Jika sesuatu itu terlihat,maka akal akan berperan untuk memutuskan,apakah sesuatu itu membahayakan atau bermanfaat,jelek atau baik,harus berbuat atau menahan diri,berjalan atau berhenti,dan seterusnya,
Untuk masalah akhirat kita mempunyai NUR (cahaya) BASHIRAH ( mata batin) dan punya kepastian.Dengan cahya akan terlihat segala sesuatu,dan cahaya pulalah yang membedakan cara pandang sang muslim dan si kafir dalm memandang sesuatu.Allah melukiskan dalam firmanNYA :
” Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya,Allah hilangkan cahaya(yang menyinari)mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan,tak dapat melihat “.(Al-Baqarah :17).
Melalui cahaya seorang mukmin dapat menatap sesuatu dengan penglihatan imani yang lain dengan penglihatan orang kafir.Penglihatan orang kafir adalah penglihatan yang bersifat meterialistis melulu dilandasi oleh nafsu untuk kepentingan individual semata.Mereka (orang kafir) seharusnya melihat segala sesuatu dengan berdasarkan api tersebut, yang tak lain adalah (cahaya) syari’at.Namun Allah menghilangkan cahaya bagi mereka.Jadi ayat diatas mengabarkan bahwa ada yang bersemayam dalam hati,ang dengannya mesti melihat sesuatu menurut hakekatnya.
Setelah cahaya bisa diraih lalu bagaimana dengan BASHIRAH,suatu kurnia yang denganya sesorang menentukan hukum tentang apa yang wajib dilakukan.Allah berfirman :
” Sesungguhnya telah datang dari RABB-mubashaa’ir (bukti bukti yang terang ) kepada kalian “.(Al-An’am :104 ).
Al-Quran adalah BASHAA’IR jamak dari bashirah.dengan alQuran ini Allah memberimu bashirah yang melaluinya kita menghukumi segala sesuatu.Hukum bashirah adalah bila seorang muslim melihat tindak kemungkaran,maka ia harus memeranginya,dan bila menemukan perilaku kebaikan,maka ia mengokohkannya.demikian juga dengan hukum hukum yang lain.
Setelah Bashirah menetapkan,maka peran terakhir adalah hati,dimana ia bisa menerima untuk melakukan hukum itu, bisa pula meninggalkannya.Penerimaan hukum tersebut muncul lantaran cahaya yang dimiliki fungsional sebagai tentara hati,sedangkan penolakanya terjadi karena kegelapan yang ada telah menjalankan perannya sebagai tentara nafsu.Wirid wirid yang dilazimkan oleh sesorang adalah faktor menentukan untuk melahirkan kepatuhan hati ini.Karena itu ,para ahli suluk menginginkan agar seseorang terus menerus melakukan WIRID nya hingga mampu meraih kesempurnaan itu.Tapi jangan lupa ketika melakukan wirid pusatkan hati sepenuhnya kepada Allah.Tunaikan WIRID, karena dimana ada WIRID disitu pula ada WARID,meski kehadlirannya kadang dapat dirasakan,kadang tidak.
Warid warid yang dituangkan kedalam hati sesorang itu bukan hanya satu macam,walaupun memang pada akhirnya warid warid berupa cahaya,yang lahir lantaran rasa senang kepada Allah yang sekaligus sebagai anugerah Illahi.Cahaya itu terasa dalam bentuk dada yang lapang dan hati yang berbunga.Yang paling penting untuk diingat adalah,bahwa Warid Warid yang dicurahkan kedalam hati sesorang itu bervariasi.
Seseorang yang mengarungi perjalanan menuju Allah,lantas disusupi rasa teteram,lalu merasa bahwa dirinya mempunyai hati dan hati tersebut memiliki sensivitas dan kepekaan yang tinggi,itu sudah cukup menjadi WARID yang besar bagi sang pejalan menuju ALLAH.