Sabtu, 20 Februari 2021
Ulang Tahun ala Santri
Selasa, 16 Februari 2021
Hukum wudhu setelah makan
(HR.Muslim II/262)
وذهب طائفة إلى وجوب الوضوء الشرعي وضوء الصلاة بأكل ما مشته النار ، وهو مروي عن عمر بن عبد العزيز ، والحسن اليصري ، والزهري ، وأبي قلابة ، وأبي مجلز . وأجابوا عن حديث وضوء مما مست النار بجوابين : أحدهما أنه منسوخ بحديث جابر رضى الله عنه قال : كان آخر الأمرين من رسول الله صلى الله عليه وسلم ترك الوضوء مما مسته النار ، وهو حديث صحيح رواه أبو داود والنسائى وغيرهما من أهل السنن بأسانيدهم الصحيحة . والجواب الثانب أن المراد بالوضوء غسل الفم والكفين . ثم إن هذا الخلاف الذي حكيناه كان في الصدر الأول ، ثم أجمع العماء بعد ذلك على أنه لا يجب الوضوء بأكل ما مسته النار . والله أعلم
Mayoritas Thabi’iin juga berpendapat demikian, diantaranya : Malik, Abu Hanifah, As-SYafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rawaaih, Yahya bin Yahya, Abu Tsur dan Abu Khaitsamah Rahimahullah.
Al-Manhaj li an-Nawawy II/66
Wallahu A’lamu Bis Showaab.
Jumat, 29 Januari 2021
khutbah jumat Infaq Shodaqoh
اَلحمدُالحمد لله الذي اصطفى لمحبته الأخيار، فصرف قلوبهم إلى طاعته ومرضاته آناء الليل وأطراف النهار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له مقلب القلوب والأبصار، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمدًا عبده ورسوله المصطفى المختار، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله الطيبين الأطهار، وعلى جميع أصحابه الأخيار، ومن سار على نهجهم ما أظلم الليل وأضاء النهار امابعد
Allah berjanji kepada orang yang berbuat kebajikan, bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan pahala mereka. Malah ia lipat gandakan dengan kelipatan yang banyak.
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافاً كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُون
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” [Quran Al-Baqarah: 245].
Selasa, 05 Januari 2021
Sholat Musafir
الْْقَصْرُ: يَجُوْزُ لِلْمُسَافِرِ سَفَرًا طَوِيْلًا (مَرْحَلَتَيْنِ) أَنْ يَقْصُرَ الصَّلَاةَ الرُّبَاعِيَّةَ اِلَى رَكْعَتَيْنِ
qosor: diperbolehkan bagi seorang musafir dengan perjalanan panjang (dua marhalah) menqosor sholat yang empat rakaat menjadi dua rakaat
لقوله تعالى وَاِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْاَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْ مِنَ الصَّلَاةِ
karena firman Allah jika kalian bepergian di bumi maka tiada larangan atas kalian untuk menqosor shalat
وقوله صلى لله عليه وسلم حِيْنَمَا سُئِلَ عَنْ صَلَاةِ السَّفَرِ صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَقْبَلُوْا صَدَقَتَهُ
dan sabda Nabi SAW ketika beliau ditanya tentang shalat dalam perjalanan: itu adalah shodaqoh, yang Allah shodaqohkan terhadap kalian , maka terimalah shodaqohnya
شُرُوْطِ صِحَّةِ الْقَصْرِ (1) أَنْ يَكُوْنَ السَّفَرُ فِيْ غَيْرِ مَعْصِيَةٍ (2) أَنْ يَنْوِيَ الْقَصْرَ مَعَ الْاِحْرَامِ (3) أَنْ لَا يَأْتَمَّ بِمُقِيْمٍ
syarat sah menqosor: (1) bepergian di selain maksiat (2) niat qosor bersama takbiratul ihram (3) tidak makmum pada orang muqim
الْجَمْعُ فِي السَّفَرِ: وَيَجُوْزُ الْجَمْعُ فِي السَّفَرِ الطَّوِيْلِ فَيَجْمَعُ بَيْنَ الظُّهْرش وَالْعَصْرِ وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَاْلعِشَاءِ تَقْدِيْمًا أَوْ تَأْخِيْرًا
jama’ dalam perjalanan: boleh jama’ dalam perjalanan yang panjang, maka ia menjamak antara dzuhur dan ashar dan antara maghrib dan isya’, mendahulukan atau mengakhirkan
شُرُوْطُ جَمْعِ التَّقْدِيْمِ
SYARAT-SYARAT JAMA’ TAQDIM
(1) التَّرْتِيْبُ فَلَا يَجُوْزُ تَقْدِيْمُ الْعَصْرِ عَلَى الظُّهْرِ وَلَا الْعِشَاءِ عَلَى الْمَغْرِبِ
tertib: tidak boleh mendahulukan ashar mengakhirkan dzuhur, dan mendahulukan isya’ mengakhirkan maghrib
(2) نِيَّةُ الْجَمْعِ فِي الصَّلَاةِ الْأُوْلَى
niat jama’ di sholat yang pertama
(3) الْمُوَالَاةُ بِحَيْثُ لَا يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا بِمَا يَسَعُ رَكْعَتَيْنِ
terus menerus, sekira keduanya tidak dipisah dengan waktu yang cukup dua rakaat
(4) أَنْ يَكُوْنَ مُسَافِرًا فِي الْأُوْلَى وَعِنْدَ عَقْدِ الثَّانِيَةِ
hendaknya ia dalam keadaan bepergian di sholat yang pertama, dan ketika memulai yang kedua
شُرُوْطِ جَمْعِ التَّاْخِيْرِ
SYARAT-SYARAT JAMA’ TA’KHIR
(1) نِيَّةُ تَأْخِيْرِ الْأُوْلَى فِي وَقْتِهَا
niat mengakhirkan di shalat yang pertama, di waktu shalat yang pertama
(2) دَوَامُ السَّفَرِ إِلَى إِتْمَامِ الصَّلَاتَيْنِ
masih di perjalanan sampai selesainya dua shalat
Rabu, 30 Desember 2020
cara wudhu orang yg memakai perban
Sabtu, 26 Desember 2020
khutbah intropeksi diri
Selasa, 22 Desember 2020
SAHABAT SYA'BAN RA
Seorang sahabat Rasulullah SAW, Sya’ban ra memiliki kebiasaan unik. Dia datang ke masjid sebelum waktu shalat berjamaah. Ia selalu mengambil posisi di pojok masjid pada setiapa shalat berjamaah dan I’tikaf. Alasannya, selalu mengambil posisi di pojok masjid karena ia tidak ingin mengganggu atau menghalangi orang lain yang akan melakukan ibadah di masjid. Kebiasaan ini, sudah dipahami oleh semua orang bahkan Rasulullah sendiri.
Pada suatu pagi, saat shalat Subuh berjamaah akan dimulai, Rasulullah SAW merasa heran karena tidak mendapati Sya’ban ra pada posisi seperti biasanya. Rasul pun bertanya kepada jamaah yang hadir, apakah ada yang melihat Sya’ban? Tapi, tidak ada seorang pun yang melihat Sya’ban ra.
Shalat Subuh pun sengaja ditunda sejenak, untuk menunggu kehadiran Sya’ban. Namun yang ditunggu belum datang juga. Karena khawatir shalat Subuh kesiangan, Rasulullah pun memutuskan untuk segera melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Hingga shalat Subuh selesai pun Sya’ban belum datang juga.
Selesai shalat Subuh Rasul pun bertanya lagi “Apakah ada yang mengetahui kabar Sya’ban?” Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.
Rasul pun bertanya lagi “Apa ada yang mengetahui dimana rumah Sya’ban?” Seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia tahu persis dimana rumah Sya’ban
Rasulullah sangat khawatir terjadi sesuatu terhadap sahabatnya tersebut, memimnta diantarkan ke rumah Sya’ban. Perjalanan dari masjid ke rumah Sya’ban cukup jauh dan memakan waktu lama terlebih mereka menempuh dengan berjalan kaki.
Akhirnya, Rasulullah dan para sahabat sampai di rumah Sya’ban pada waktu shalat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah Sya’ban, beliau mengucapkan salam dan keluarlah wanita sambil membalas salam.
“Benarkah ini rumah Sya’ban?” Tanya Rasulullah.
“Ya benar, ini rumah Sya’ban. Saya istrinya.” jawab wanita tersebut.
“Bolekah kami menemui Sya’ban ra, yang tidak hadir shalat Subuh di masjid pagi ini?” ucap Rasul.
Dengan berlinangan air mata, istri Sya’ban ra menjawab “Beliau telah meninggal tadi pagi”.
“Innalilahi Wainnailaihiroji’un” jawab semuanya.
Satu-satunya penyebab Sya’ban tidak hadir shalat Subuh di masjid adalah karena ajal menjemputnya. Beberapa saat kemudian, istri Sya’ban ra bertanya “Ya Rasulullah ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia bertetiak tiga kali dengan masing-masing teriakan di sertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasulullah.
“D imasing-masing teriakannya, dia berucap kalimat ‘Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh kenapa tidak yang baru, aduh kenapa tidak semua,” jawab istri Sya’ban.
Rasulullah SAW pun melantunkan ayat yang terdapat surah Qaaf ayat 22: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”
“Saat Sya’ban ra dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Bukan hanya itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah. Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra (dan orang yang sakaratul maut) tidak bisa disaksikan yang lain. Dalam padangannya yang tajam itu Sya’ban ra melihat suatu adegan dimana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk shalatb berjamah lima waktu. Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki, tentu itu bukan jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban ra diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke masjid,” ujar Rasulullah.
Dia melihat seperti apa bentuk surga yang dijanjikan sebagai ganjarannya. Saat dia melihat dia berucap “Aduh mengapa tidak lebih jauh” timbul penyesalan dalam diri Sya’ban ra, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah. Dalam penggalan kalimat berikutnya Sya’ban ra melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.
Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Dia masuk ke dalam rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Dia memakai dua baju, Sya’ban memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.
Dia berpikir jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar dan sampai di masjid dia bisa membuka baju liuar dan shalat dengan baju yang lebih bagus. Ketika dalam perjalanan menuju masjid dia menemukan seseorang yang terbaring yang kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba dan segera membukakan baju yang paling luar lalu dipakaikan kepada orang tersebut kemudian dia memapahnya ke masjid agar dapat melakukan shalat Subuh bersama-sama.
Orang itupun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan shalat berjamaah. Sya’ban ra pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi “Aduh!! Kenapa tidak yang baru” timbul lagi penyesalan dibenak Sya’ban ra. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapatkan yang lebih besar jika dia memberikan pakaian yang baru.
Berikutnya, Sya’ban ra melihat lagi suatu adegan. Saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu. Bagi yang pernah ke Tanah Suci tentu mengetahui ukurang roti Arab (sekitar tiga kali ukuran rata-rata roti Indonesia). ketika baru saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal itu, Sya’ban ra merasa iba. Ia kemudian membagu dua rotu tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan ukuran yang sama rata, kemudan mereka makan bersama-sama. Allah SWT kemudain memperlihatkan Sya’ban ra dengan surga yang indah.
Ketika melihat itupun Sya’ban ra teriak lagi “ Aduh kenapa tidak semua!!” Sya’ban ra kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut, pasti dia akan mendapat surga yabg lebih indah. Masya Allah, Sya’ban bukan menyesali perbuatanya melainkan menyesali mengapa tidak optimal.
Seseungguhnya pada suatu saat nanti, kita semua akan mati, akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda. Bahkan ada yang memiunta untuk ditunda matinya, karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia. Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan.