Rabu, 25 Februari 2026

melihat orang tidak puasa

Ramadhan Fiqih Puasa: Saat Lihat Orang Tak Berpuasa secara Terang-Terangan 

 Kewajiban menjalankan ibadah puasa dapat dipastikan telah diketahui oleh semua orang yang beragam Islam bahkan orang awam sekalipun. Karena puasa pada bulan Ramadhan adalah salah satu dari rukun Islam yang wajib hukumnya diketahui oleh semua orang yang beragama Islam. Sekalipun demikian di Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragam Islam, ironis masih banyak yang belum menjalankan kewajiban ini. Kenyataan ini mudah kita temui di sekitar kita. Lantas bagaimana sikap kita jika melihat orang yang tidak menjalankan ibadah puasa, bahkan dengan terang-terangan di depan publik makan, minum dan merokok di siangnya bulan Ramadhan? 
 Sebelumnya tentu kita sepakat bahwa terang-terangan di depan publik makan, minum dan merokok di siangnya bulan Ramadhan adalah perbuatan yang tidak baik, atau dalam bahasa agama adalah kemungkaran. Sebab itu, bagi orang yang melihatnya wajib untuk amar makruf nahi mungkar terhadapnya
Melansir dari Darul Ifta Yordania, di sana disebutkan,
 ماذا يفعل من رأى شخصاً في رمضان يأكل أو يشرب عامداً، مجاهراً بفطره؟ عليه أن يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر، فإن خاف شرَّه أنكر عليه بقلبه، لكن لا يجالسه إن استطاع، وحبذا لو استعان بولي الأمر ليمنعه من ذلك 
 Artinya, "Apa yang hendak dilakukan oleh seseorang yang melihat orang lain di bulan Ramadhan sengaja dan terang-terangan makan atau minum? Jawaban: "Wajib baginya memerintahkan dengan baik dan mencegahnya dari kemungkaran yang diperbuat. Jika ia khawatir atas keburukan yang akan menimpanya, maka hatinya harus ingkar dengan perbuatan tersebut. Namun ia tidak diperbolehkan menemaninya duduk, ini pun jika ia mampu untuk melakukannya, dan ia harus mendukung jika ia memutuskan untuk meminta bantuan kepada pihak yang berwenang untuk mencegah perbuatannya tersebut." (Darul Ifta Yordania, Ahkamus Shiyam). 
 Tampaknya konsep amar ma'ruf nahi munkar di atas berdasarkan hadits Nabi dalam Shahih Muslim,  
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ 
 Artinya, ”Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya/kekuasaannya. Jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan. Jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim). 
 Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya' Ulumiddin menjelaskan dengan panjang lebar soal amar ma'ruf nahi munkar ini. Bahkan ia menuliskan dalam satu bab khusus pada jilid II kitab tersebut. Dalam kitabnya ia mengunakan redaksi hisbah (nahi munkar). Hisbah atau nahi munkar harus dilakukan secara urut, mulai tahap pertama sampai tahap kelima, tidak boleh melompat lompat. 1. Menjelaskan bahwa apa yang dilakukan adalah sebuah kemungkaran atau haram. Jika tidak berubah, kemudian 
2. memberi nasehat pelakunya dengan kata kata lembut, bukan kata-kata yang kasar. Jika belum berhasil, lanjut 
3. mencaci dan mencela pelakunya. Imam Al-Ghazali mencontohkan dengan kalimat: "Ya Jahil, Ya ahmaq, Hai orang bodoh, hai orang goblok, apa kamu tidak takut Allah?!” Jika masih belum berhasil juga, maka 
4. mencegahnya dengan paksa. Jika belum berhasil juga, maka 
5. Memberi Tindakan tegas.. Karena langkah kelima ini dapat menimbulkan perlawanan, sehingga masing-masing membutuhkan bala bantuan, dan dapat menimbulkan bentrokan fisik, maka langkah kelima ini hanya boleh dilakukan atas izin pemerintah atau pihak yang berwenang.  (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin , [Beirut, Darul Ma'rifat], Juz II, halaman 315). 

 Walhasil, sikap yang harus dilakukan saat melihat orang yang tidak menjalankan ibadah puasa, bahkan dengan terang-terangan di depan publik adalah melarangnya dengan baik sebagaimana urutan langkah-langkah yang telah dijelaskan oleh Al-Imam Al-Ghazali di atas. 
Yakni dengan menjelaskan bahwa perbuatanya itu dilarang, menasehati, mencela pelakunya dan mencegahnya dengan paksa. 
Wallahu a'lam bis shawab. 

Senin, 19 Januari 2026

Bulan Syaban

الْخُطْبَةُ الأُولَى

اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ. اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ. مُكَوِّرِ اللَّيْلِ عَلَى النَّهَارْ. تَذْكِرَةً لِأُولِى الْقُلُوْبِ وَالْأَبْصَارْ. وَتَبْصِرَةً لِّذَوِي الْأَلْبَابِ وَالْإِعْتِبَارْ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِٰلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرْ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نُوْرِ الْأَنْوَارْ. وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ الْأَطْهَارْ.

أَمَّا بَعْدُ فَيَآأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى.

Ma’asyirol muslimin, hafidho kumulloh…

Marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah swt dengan sebenar-benar taqwa, melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjahui larangan-larangan-Nya.

Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah…

Alhamdulillah, saat ini kita berada di bulan Sya’ban, yang berarti semakin dekat kita dengan bulan Ramdhan. Dinamakan Sya’ban, karena pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). Menurut pendapat lain, Sya’ban berasal dari kata Syi’b, yaitu jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan.

Posisi bulan Sya’ban yang terjepit di antara Rajab dan Ramadhan itu rupanya membuat Sya’ban kalah populer dari keduanya. Hingga Rasululloh mencap bulan ini dengan bulan yang “TERLUPAKAN”. Seperti sabda beliau:


ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ (رواه النسائي)


“(Sya’ban) ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu (terletak) antara bulan Rajab dan Ramadhan” (HR. An-Nasa’i)

Dalam kitab Ma Dza fi Sya’ban, karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menyebutkan tiga peristiwa penting, selain malam Nishfu Sya’aban, yang berimbas pada kehidupan beragama seorang Muslim:

Peralihan Kiblat
تَحْوِيْلُ القِبْلَةِ

Peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram terjadi pada bulan Sya’ban. Peralihan kiblat ini merupakan suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh Nabi Muhammad SAW. Diceritakan, bahwa Nabi Muhammad SAW berdiri menghadap langit setiap hari menunggu wahyu turun. Sampai akhirnya Allah Subhanahu Wata’ala mengabulkan penantiannya dengan menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 144:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Penyerahan Rekapitulasi Keseluruhan Amal kepada Allah
رَفعُ الأَعْماَلِ

Salah satu hal yang menjadikan bulan Sya’ban utama adalah bahwa pada bulan ini semua amal kita diserahkan kepada Allah SWT. Hingga Rasululloh senang berpuasa pada bulan ini.

 عَنْ أًسَامَةَ ابْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَب وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ (رواه النَّسَائي)


Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya menyukai amal saya diangkat, sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i).

Penurunan Ayat tentang Anjuran Shalawat untuk Rasulullah SAW
شَهْرُ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ

Pada bulan Sya’ban juga diturunkan ayat anjuran untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka tidaklah salah, bulan Sya’ban disebut dengan bulan shalawat. Karena pada bulan itulah ayat tentang anjuran shalawat diturunkan.

Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah…

Di bulan Sya’ban juga terdapat satu malam yang diagungkan, diberkahi dan dimuliakan, yaitu malam Nishfu Sya’ban atau malam 15 Sya’ban (insyaalloh, Ahad malam Senin 29 Maret 2021).

Pada malam tersebut, Allah menampakkan kepada hamba-Nya dengan maghfiroh, rohmat, mengabulkan doa, menghilangkan kesusahan, membebaskan sebagaian kelompok dari api neraka, dan menulis rizqi dan amal. Rasulallah Muhammad saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ. (أخرجه ابن ماجه)

“Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban memeriksa (melihat amalan para hamba-Nya). Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya” (HR. Ibnu Majah)


Malam Nishfu Sya’ban mempunyai sebutan yang banyak sekali. Ini menunjukkan kemuliaan malam Nishfu Sya’ban. Diantaranya:

Malam yang diberkahi اللَّيْلةُ المُبَارَكةُ
Malam pembagian rizqi dan penetapan takdir لَيْلَةُ الْقِسْمَةِ
Malam penghapusan dosa لَيْلَةُ التَّكْفِيْرِ
Di malam Nishfu Sya’ban Allah menghapus dosa setahun, di malam Jum’at menghapus dosa seminggu, dan di malam Qodr menghapus dosa seumur.

Malam diterimanya doa لَيْلَةُ الإِجَابَةِ
Ibnu Umar ra. meriwayatkan, ada lima malam yang mustajab dan diantaranya adalah malam Nishfu Sya’ban

Malam terjaga dan malam hari raya Malaikat لَيْلَةُ الحَيَاةِ ولَيْلَةُ عِيْدِ المَلَائكَةِ
Malam Nishfu Sya’ban adalah hari rayanya para malaikat dan mereka akan terjaga sepanjang malam.

Malam syafaat (pertolongan) لَيْلَةُ الشَّفَاعَةِ
Malam pembebasan dan malam pengakuan ampunan لَيْلَةُ الْبَرَائَةِ وَلَيْلَةُ الصَّكِّ
Malam pemberian hadiah لَيْلَةُ الْجَائِزَةِ
Malam ampunan لَيْلَةُ الْغُفْرَانِ
Adapun cara menghidupkan malam Nishfu Sya’ban menurut ulama’ Syam ada dua pendapat:

Disunnahkan menghidupkannya dengan memperbanyak ibadah secara berjamaah di masjid.
Dimakruhkan berkumpul menghidupkannya di masjid. Tidak makruh bila dikerjakan secara mandiri (sendiri-sendiri) di rumah. (Ma Dza fi Sya’ban)
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang tidak menyia-nyiakan kemulian bulan Sya’ban wabil khususu malam Nisgfu Sya’ban ini, meski di tengah kesibukan duniawi yang luar biasa. Aamiin

جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين. وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ. أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ: وَسَارِعُوْا اِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّموَاتُ وَالْاَرْضُ. أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ.


باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

 

Minggu, 11 Januari 2026

DOA TAHLIL OK

دعاء تهليل

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُّوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
اَللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ، وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ
اَللهُمَّ تَقَبَّلْ وَاَوْصِلْ مِثْلَ ثَوَابِ مَاقَرَأْنَاهُ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَمَا هَلَّلْنَا وَمَا سَبَّحْنَا وَمَااسْتَغْفَرْنَا وَمَا صَلَّيْنَا وما سَلَّمْنَا عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةً وَاصِلَةً وَرَحْمَةً نَازِلَةً وَبَرَكَةً شَامِلَةً اِلَى حَضْرَةِ حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ اَعْيُنِنَا سَيِّدِنَا وَمَوْلنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاِلَى جَمِيْعِ اِخْوَانِه مِنَ الْاَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْاَوْلِيَآءِ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَآءِ الْعَالِمِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ خُصُوْصًا اِلَى سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلاَنِيِّ
وَخُصُوْصًا اِلَى حَضْرَةِ رُوْحِ (nama yang meninggal)
ثُمَّ اِلَى جَمِيْعِ اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ اْلاَرْضِ وَمَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا اِلَى آبَائِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَاَجْدَاتِنَا وَجَدَّاتِنَا وَنَخُصُّ خُصُوْصًا اِلَى مَنِ اجْتَمَعْنَا هَاهُنَا بِسَبَبِهِ وَِلاََجْلِهِ. اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ. اَللهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلَى اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنْ اَهْلِ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ فِيْ قُبُوْرِهِمُ الرَّحْمَةَ وَالضِّيَاءَ وَالنُّوْرَ، وَالبَهْجَةَ وَالرَوْحَ وَالرَيْحَانَ وَالسُّرُوْرَ، مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ البَعْثِ وَالنُّشُوْرِ، إِنَّكَ مَلِكٌ رَبٌّ غَفُوْرٌ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ قُبُوْرَهُمْ وَقُبُوْرَهُنَّ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الجِنَانِ، وَلَا تَجْعَلْ قُبُوْرَهُمْ وَقُبُوْرَهُنَّ حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النِّيْرَانِ 
اَللّٰهُمَّ اِنَّا فَدَيْنَا مِنْكَ يَا اللّٰهُ اَنْفُسَنَا وَاِيَّاهُمْ مِنَ النَّارِ وَاَعْتِقْنَا وَاِيَّاهُمْ مِنَ النَّارِ وَسَلِمْنَا وَاِيَّاهُمْ مِنَ النَّارِ وَاَدْخِلْنَا اَلْجَنَّةَ مَعَ الْاَبْرَارِ يَاعَزِيْزُ يَاغَفَّارُ
اَللّٰهُمَّ بِحَقِّ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِبْهُمْ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
رَبَّنَا اَتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عََذَابَ النَّارِ
وصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عِلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

Jumat, 09 Januari 2026

hukum membaca ALQURAN bagi wanita haid saat ujian



Assalamu’alaikum wr. wb. Mohon izin bertanya kepada pengasuh Bahtsul Masail NU Online. Yaitu masalah anak perempuan yang sedang datang bulan atau mengalami haid, tapi harus mengikuti ujian tahfiz Al-Qur’an. Bolehkah ia membaca Al-Qur’an dalam rangka ujian tersebut? semisal guru membacanya kemudian ia diperintah meneruskannya? Terimakasih atas jawabannya. (Malikatus S - Jawa Tengah).


Jawaban:

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Semoga kita semua selalu dalam lindungan dan pertolongan Allah swt. Amin.


Membaca Al-Qur’an saat haid merupakan permasalahan yang diperselisihkan ulama. Merujuk pendapat kuat (pendapat Shahih) dalam mazhab Syafi’i hukumnya adalah haram. Sedangkan menurut pendapat lain hukumnya diperbolehkan. 

Argumentasi pendapat yang mengharamkannya adalah hadits riwayat At-Tirmidzi dan selainnya yang melarang orang junub dan haid membaca sedikitpun Al-Qur’an. Rasulullah saw bersabda:


لَا يَقْرَأْ الْجُنُبُ وَلَا الْحَائِضُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ


Artinya: “Janganlah orang junub dan wanita haid membaca sesuatupun dari Al-Qur’an". (HR At-Tirmidzi, Al-Baihaqi dan lainnya).


Meski hadits sempat dinilai dhaif oleh Imam An-Nawawi, namun memiliki penguat dari riwayat lain sehingga berstatus hasan, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dan Al-Mundziri. Demikian pula menurut Ibnu Jamaah dalam Takhrijul Ahaditsir Rafi’i, setelah menelitinya kemudian ia menegaskan bahwa hadits ini menjadi kuat dengan hadits-hadits lain yang mendukungnya. (Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhajul Qawim, [Beirut, Darul Kutub ‘Ilmiyah], halaman 49; dan Abul Abbas Ahmad Ar-Ramli Al-Anshari, Hasyiyatur Ramli, juz I, halaman 67)  


Pendapat yang mengharamkan perempuan haid membaca Al-Qur’an juga men-qiyas-kannya dengan orang junub yang disepakati oleh para ulama haram membaca Al-Qur'an. (An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab, [Jedah, Maktabatul Irsyad], juz II, halaman 388).


Pendapat ini juga menolak dalil bahwa Sayyidah Aisyah pernah membaca Al-Qur’an di waktu haid, karena bertentangan dengan sahabat lain. Sehingga dalam kasus ini lebih utama dikembalikan pada qiyas terhadap orang junub.


Di sisi lain pendapat yang membolehkan perempuan haid membaca Al-Qur’an dalam lingkup mazhab Syafi’i adalah pendapat lama atau qaul qadim, yang masih diperselisihkan apakah benar Imam As-Syafi’i pernah berpendapat seperti itu. Kemudian juga diperselisihkan apakah illat-nya. Sebagian ulama mengatakan karena khawatir hafalan Al-Qur’an akan hilang karena waktu haid yang lebih lama daripada waktu junub yang bisa segera mandi jinabat. Sementara sebagian yang lain berpendapat karena terkadang perempuan menjadi pengajar Al-Qur’an sehingga terputus pekerjaannya. (An-Nawawi, II/387).


Kesimpulannya, pendapat yang membolehkan perempuan haid membaca Al-Qur’an dalam mazhab Syafi’i adalah pendapat yang lemah dan bertentangan dengan pendapat shahih. Karenanya dalam mazhab, sangat problematik untuk diamalkan.


Bagaimana dengan pendapat lain, adakah pendapat dalam lingkungan Ahlussunnah wal Jamaah yang dapat menjadi solusi dalam masalah ini?


Sebagai solusi dalam kasus ini dapat mengikuti pendapat mazhab Maliki yang membolehkan perempuan haid membaca Al-Qur'an dengan ketentuan kondisi darah haid masih mengalir sehingga tidak bisa mandi besar saat itu. Kalau darah sudah berhenti, maka tetap tidak boleh. Karena ia bisa mandi besar seketika itu.


Syekh Ahmad Ad-Dardir menjelaskan:


وَلَا يَحْرُمُ عَلَيْهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ إلَّا بَعْدَ انْقِطَاعِهِ وَقَبْلَ غُسْلِهَا ، سَوَاءٌ كَانَتْ جُنُبًا حَالَ حَيْضِهَا أَمْ لَا ، فَلَا تَقْرَأُ بَعْدَ انْقِطَاعِهِ مُطْلَقًا حَتَّى تَغْتَسِلَ. هَذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ


Artinya: “Tidak haram bagi perempuan haid membaca Al-Qur’an kecuali setelah terhenti darahnya dan belum mandi. Baik saat haid ia junub atau tidak. Karenanya ia tidak boleh membaca Al-Qur’an setelah darahnya berhenti secara mutlak sampai ia mandi janabat. Ini adalah pendapat mu’tamad atau yang dipedomani dalam mazhab Maliki.” (Ahmad Ad-Dardir, As-Sayrhus Shaghir, dalam Bulghatus Salik li Aqrabil Masalik, [Beirut, Darul Kutub ‘Ilmiyah], juz I, halaman 149).


Penting pula diperhatikan, meskipun ada pendapat yang membolehkan perempuan haid baca Al-Qur’an, sudah semestinya berhati-hati. Bila masih dapat ditunda dibaca di waktu lain sampai haid selesai, maka hendaknya ditunda dahulu. Namun ketika perempuan harus baca Al-Qur’an saat haid, seperti dalam ujian tahfiz yang waktunya tidak mungkin lagi ditunda, maka membacanya dibatasi sesuai dengan kebutuhan ujian. Hal demikian karena menjaga kesakralan Al-Qur’an. 


Dalam hal ini Darul Ifta Mesir merekomendasikan:


وبعد عرض هذه الآراء يختار قول الجمهور فى المنع ، ولا يجوز للحائض أن تقرأ شيئا من القرآن عند دراسة لدين ما دامت لا توجد ضرورة لقراءتها كالامتحان مثلا، ويمكنها أن تؤجل دراسة الباب الذى فيه القرآن حتى تطهر ، فإن تحتمت القراءة جازت قراءة آية أو أقل أى الاقتصار على الضرورى ، محافظة على قدسية القرآن


Artinya: “Setelah menyampaikan berbagai pendapat ini, maka yang dipilih adalah pendapat jumhur ulama yang melarangnya. Perempuan haid tidak boleh membaca sedikitpun dari Al-Qur’an ketika pelajaran agama selama tidak ditemukan kondisi darurat untuk membacanya, seperti ujian misalnya, dan masih dimungkinkan baginya untuk menunda mempelajari bab yang ada Al-Qur’annya itu sampai suci. Jika harus membaca Al-Qur’an, maka boleh membacanya satu ayat atau lebih sedikit. Maksudnya membatasi diri sesuai kebutuhan, karena menjaga kesakralan Al-Qur’an.” (Athiyah Shaqr, Ad-Dirasatud Diniyah Atsna-al Janabah, Darul Ifta’ Al-Mishriyah, Mei 1997).


Simpulan

Jawaban di atas secara ringkas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Hukum membaca Al-Qur’an bagi perempuan haid diperselisihkan ulama. Mayoritas ulama melarang dan sebagian membolehkannya dengan beberapa ketentuan.
  2. Dalam kondisi tertentu, perempuan dapat mengikuti pendapat mazhab Maliki yang membolehkan perempuan haid membaca Al-Qur’an, yaitu dengan ketika kondisi darah haid masih mengalir. Bila darah haid sudah berhenti maka tidak boleh kecuali telah mandi janabat.
  3. Bila mengikuti pendapat yang membolehkannya, maka membacanya hanya sesuai kebutuhan untuk menjaga kemuliaan Al-Qur'an. ​​​​​​​Wallahu a’lam.


Ahmad Muntaha AM, Redaktur Keislaman NU Online

Jumat, 02 Januari 2026

sahak isoq


[المقطع الأول – Bagian 1]

صحاك الشوق من نومك
Kerinduan membangunkanmu dari tidurmu
وبقلبي تعا كفي نومك
Di dalam hatiku, datanglah lanjutkan tidurmu
لا يومي يخلص ولا يومك
Hari-hariku tak akan selesai, begitu pula harimu
إلا بلقاك يا حبيبي
Kecuali dengan bertemu denganmu, kekasihku
تعا عيش الحب وأيامه
Mari hidupkan cinta dan hari-harinya
وعي كل اللي ناموا
Bangunkan semua yang tertidur
ودخيله الحب وكلامه
Demi cinta dan semua kata-katanya
ودخيله قلبك يا حبيبي
Demi hatimu, wahai kekasihku

[قبل اللازمة – Sebelum Reff]

على شي سهرة فيها غمرة
Dalam sebuah malam penuh kehangatan
شاهد علينا القمر
Bulan menjadi saksi atas kita
وإنت حدي ما بقى بدي
Saat kau di sampingku, aku tak butuh apa pun lagi
الوقت يعدي يا قمر
Biarkan waktu berlalu, wahai bulan
 
[اللازمة – Reff]

 صحاك الشوق من نومك
Kerinduan membangunkanmu dari tidurmu
وبقلبي تعا كفي نومك
Di dalam hatiku, datanglah lanjutkan tidurmu
لا يومي يخلص ولا يومك
Hari-hariku tak akan selesai, begitu pula harimu
إلا بلقاك يا حبيبي
Kecuali dengan bertemu denganmu, kekasihku
تعا عيش الحب وأيامه
Mari hidupkan cinta dan hari-harinya
وعي كل اللي ناموا
Bangunkan semua yang tertidur
ودخيله الحب وكلامه
Demi cinta dan semua kata-katanya
ودخيله قلبك يا حبيبي
Demi hatimu, wahai kekasihku

[المقطع الثاني – Bagian 2]

الدنيا بنعيشا مرة
Kita hanya hidup sekali di dunia
نخليها حلوة، ليه مُرة؟
Mari membuatnya indah, mengapa harus pahit?
رح ضلني حبك كل مرة
Aku akan terus mencintaimu setiap saat
متل الأول يا حبيبي
Seperti saat pertama kali, kekasihku
يا رب يخلي ضحكاته
Semoga Tuhan menjaga tawanya
وما يشوف الهم بحياته
Dan semoga ia tak melihat kesedihan dalam hidupnya
وتضلا الفرحة جواته
Agar kebahagiaan selalu tinggal di dalam dirinya
ترسم لياليك يا حبيبي
Melukis malam-malam indahmu, kekasihku

[قبل اللازمة – Sebelum Reff]

على شي سهرة فيها غمرة
Dalam sebuah malam penuh kehangatan
شاهد علينا القمر
Bulan menjadi saksi atas kita
وإنت حدي ما بقى بدي
Saat kau di sampingku, aku tak butuh apa pun lagi
الوقت يعدي يا قمر
Biarkan waktu berlalu, wahai bulan

[اللازمة – Reff]

صحاك الشوق من نومك
Kerinduan membangunkanmu dari tidurmu
وبقلبي تعا كفي نومك
Di dalam hatiku, datanglah lanjutkan tidurmu
لا يومي يخلص ولا يومك
Hari-hariku tak akan selesai, begitu pula harimu
إلا بلقاك يا حبيبي
Kecuali dengan bertemu denganmu, kekasihku
تعا عيش الحب وأيامه
Mari hidupkan cinta dan hari-harinya
وعي كل اللي ناموا
Bangunkan semua yang tertidur
ودخيله الحب وكلامه
Demi cinta dan semua kata-katanya
ودخيله قلبك يا حبيبي
Demi hatimu, wahai kekasihku